
"Kau sudah menyiapkan nama untuknya Dara?"
Dara terdiam, matanya terpaku pada bayi kecil di dalam inkubator. Bibirnya bergetar, tetapi tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Dia berjuang dengan kebimbangan dan kebingungan yang mendalam.
Biru menatap Dara dengan penuh kekhawatiran dan kepedihan. Hatinya terasa hancur melihat Dara yang terus terdiam, tidak mampu menjawab pertanyaannya. Ia pun kembali menggenggam tangan Dara dengan lembut, mencoba memberikan dukungan dan kehangatan.
Namun, Dara masih terperangkap dalam keheningan yang menghimpitnya. Penuh dengan keraguan dan ketakutan, dia merasa tidak mampu memberikan nama untuk anaknya sendiri. Mungkin karena dia belum siap, atau mungkin karena dia masih berjuang untuk menerima peran sebagai seorang ibu dengan segala kejadian yang dia alami sampai saat ini.
Biru merasakan kepedihan yang tak terungkapkan. Ia ingin membantu Dara melewati masa sulit ini, tetapi dia juga menyadari bahwa setiap orang memiliki proses penerimaan yang berbeda. Dia mengerti bahwa Dara membutuhkan waktu dan ruang untuk menemukan kekuatannya sendiri.
Dalam keheningan yang terus berlanjut, mereka berdua saling memandang dengan perasaan campur aduk di dalam hati mereka. Dara masih berjuang dengan perasaannya sendiri, sedangkan Biru merasa tak berdaya untuk mengubah keadaan sekalipun Dara sudah bersikap baik lagi padanya. Tapi soal bayi itu adalah hal yang berat karena kejadian kejadian yang tidak dia sangka sangka.
Mungkin, suatu hari nanti, Dara akan menemukan kekuatannya dan sanggup menjawab pertanyaan Biru dengan penuh keyakinan. Tetapi untuk saat ini, mereka harus menghadapi kenyataan bahwa proses ini membutuhkan waktu dan kesabaran.
Dalam diam yang mencekam, mereka saling mendukung, menawarkan kehadiran dan cinta yang tak terucapkan. Mereka berharap bahwa suatu hari nanti, Dara akan menemukan kedamaian dan kebahagiaan dalam peran barunya sebagai seorang ibu, dan mereka bisa membangun keluarga yang bahagia bersama
Dara mengangguk lemah, air mata mengalir di pipinya. Dia menyadari bahwa dia belum siap untuk memberikan nama untuk anaknya sendiri. Dalam hati yang penuh dengan kebingungan dan keraguan, dia memutuskan untuk memberikan tanggung jawab tersebut pada Biru.
"Biru, aku gak tahu bagaimana memberikan nama untuknya," gumam Dara dengan suara yang rapuh. "Aku masih terlalu bingung dan takut. Aku ingin kamu yang memberikan nama untuk anak kita. Apa kamu gak keberatan?"
Biru terkejut mendengar kata-kata Dara, tetapi dia dengan cepat mengerti kehendak dan keadaan hati Dara. Ia melihat keputusan ini sebagai suatu bentuk kepercayaan yang diberikan Dara padanya.
__ADS_1
Dia menatap Dara dengan penuh kasih, menggenggam tangannya dengan lembut. "Dara, aku akan menjaga kepercayaan ini dengan baik. Aku akan berusaha memberikan nama yang indah dan bermakna untuk anak kita. Bersama-sama, kita akan menemukan namanya dan menciptakan masa depan yang baik untuknya nanti ya! Sekarang kita kembali ke kamar saja."
Dara merasakan kelegaan dan ringan di dalam hatinya. Dia tahu bahwa Biru akan memilih dengan penuh cinta dan kebijaksanaan. Dia mempercayakan keputusan penting ini pada Biru, karena dia tahu bahwa Biru akan melibatkan hatinya sepenuhnya dalam memilih nama yang tepat bagi putranya.
Mereka berdua duduk berdekatan, saling menguatkan dan memberikan dukungan satu sama lain. Dalam momen itu, mereka merasakan ikatan yang semakin kuat, komitmen mereka untuk saling mendukung dan membangun keluarga yang bahagia.
Dengan harapan yang baru, Dara dan Biru bersama-sama menanti saat ketika nama untuk anak mereka akan diungkapkan. Mereka yakin bahwa melalui cinta dan kerja sama, mereka akan menemukan nama yang sempurna untuk anak yang telah mereka cintai sejak awal.
"Bi ... Anak itu? Gimana keadaannya sekarang?" tanya Dara saat Biru membawanya keluar.
Sungguh sejak hari pertama sampai beberapa detik yang lalu, Dara tidak peduli pada anaknya, pada keadaannya karena marah pada semua keadaan yang dia alami saat ini.
"Anak itu? Jangan katakan hal itu Dara. Katakan anak kita. Hm? Anak Kita!"
"Kamu berkorban terlalu besar Bi ... Aku takut gak bisa membalas pengorbananmu sebesar ini!"
Biru menatap Dara dengan lembut, mencoba menenangkan kegelisahan yang ada di dalam dirinya. Dia meletakkan tangan di pipi Dara dengan penuh kasih sayang.
"Dara, aku tidak pernah mengharapkan balasan atas apa pun yang aku lakukan. Aku melakukan ini bukan karena ingin dikembalikan, tetapi karena cinta yang tulus dan kesediaan untuk berada di sisimu. Aku tidak ingin ada beban atau rasa bersalah dalam hubungan kita. Yang penting bagiku adalah kebahagiaanmu dan kebahagiaan kita sebagai keluarga."
Dara menatap Biru dengan perasaan campur aduk di matanya. Dia merasa terharu dan bersyukur memiliki seseorang seperti Biru di sisinya, yang begitu penuh pengertian dan siap berkorban.
__ADS_1
"Tapi, Bi, aku gak ingin kamu merasa diabaikan atau gak dihargai. Aku janji akan berusaha semaksimal mungkin untuk memberikanmu cinta dan perhatian yang sama sebesar yang kamu berikan padaku." ucap Dara dengan suara penuh tekad.
Biru mengangguk, senyuman terukir indah di bibirnya. "Tentu Dara. Kita akan saling membangun dan saling mendukung dalam perjalanan ini," ucapnya.
Dara kini kembali tersenyum hangat, memeluk Biru dengan lembut. "Makasih Bi...!"
"Dara, jangan khawatir lagi tentang hal apapun. Kita akan saling melengkapi Dara!"
"Kamu terlalu sempurna Bi."
"Aku tidak sempurna Dara. Kita lah yang sempurna ... Kau dan aku!" tunjuknya pada dadanya sendiri dan dada Dara. "Kita akan menemukan keseimbangan dalam memberikan dan menerima. Hubungan kita didasari oleh kepercayaan dan cinta yang mendalam. Bersama-sama, kita akan menghadapi segala tantangan dan membangun masa depan yang indah."
Dara merasa lega mendengar kata-kata yang begitu dalam dari Biru. Dia merasakan kehangatan dalam pelukan itu, dan dia tahu bahwa Biru akan memberikan yang terbaik untuknya. Dia juga semakin yakin jika Biru akan selalu menemani perjalanan ini bersamanya, saling menghargai dan saling berusaha untuk kebahagiaan satu sama lain.
Dalam kebersamaan mereka, mereka berdua memahami bahwa dalam cinta sejati, tidak ada hitungan atau pengorbanan yang terlalu besar. Yang penting adalah saling memberikan dan menerima dengan tulus, serta tumbuh bersama dalam kebaikan dan cinta yang abadi.
"Gak ada alasan lagi untuk menolak kamu Bi ... Dari sudut mana pun kamu terlalu baik."
Biru tersenyum lembut mendengar kata-kata Dara. Dia merasa hangat di dalam hatinya, bahagia mendengar bahwa Dara menghargai dan menerima dirinya apa adanya sekarang.
"Dara, aku tidak pernah berusaha menjadi sempurna. Aku hanya berusaha menjadi yang terbaik bagimu dan untuk keluarga kita. Kita semua memiliki kekurangan dan kesalahan, tetapi yang penting adalah bagaimana kita tumbuh dan belajar bersama. Bersama-sama, kita bisa mengatasi segala halangan dan menjadi lebih baik setiap hari."
__ADS_1
Entah apa yang merasuki Biru, hingga dia bisa sedewasa saat ini. Dara menyentuh tangan Biru dengan lembut, matanya penuh dengan rasa cinta dan terima kasih.
"Kamu telah membuka mataku untuk melihat kebaikan dalam dirimu dan dalam dunia ini. Aku merasa beruntung memilikimu sebagai pendamping hidupku, Bi. Aku berjanji akan mencintaimu dengan sepenuh hati dan berusaha untuk memberikan yang terbaik bagimu."