Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.97(Diawasi)


__ADS_3

Wajah Prasetya tampak sumringah, begitu juga dengan Rian yang berada di sampingnya, keduanya terlihat rapi dengan setelan jas lengkap plus keluaran desainer ternama.


Terlihat orang orang penting juga sudah hadir dalam acara perusahaan G.G Corp yang diselenggarakan di sebuah hotel mewah. Blue moon.


Hidangan hidangan juga sudah tertata rapi di atas meja berbagai menu dalam negeri juga menu luar negeri ada di sana, mengingat pesta ini juga mengundang para pengusaha pengusaha yang berasal dari luar negeri.


"Tidak sia sia rencana kita Rian, kau lihat sekarang ... Kita berada di tempat dengan orang orang yang luar biasa."


"Ya ... Papa mengorbankan cucu Papa sendiri!" cicit Rian pelan,


"Kau bodoh jika terus mempertahankannya, mereka sudah tidak ada lagi manfaatnya bagi kita kau tahu?"


Tepuk tangan mulai terdengar riuh saat para petinggi dari G.G corps berjalan masuk, dengan beberapa orang yang terlihat seperti pengawal yang mengiring mereka untuk duduk di tempat yang sudah di sediakan.


Tidak berselang lama, muncullah sang pemilik perusahaan beserta istri dan putrinya, mereka tersenyum dengan sangat ramah pada semua orang. Termasuk pada Baskoro dan juga Rian.


Jujur Rian tidak pernah bertemu sekalipun dengan Zian, hingga Rian menoleh pada sang ayah.


"Jadi itu ayahnya Biru?"


Baskoro mengangguk, "Benar, Ziandra Maheswara!"


Rian berdecak kagum melihatnya, usia Zian memang tidak lagi muda, namun tubuhnya tetap bugar dan proforsionl. Begitu juga sang istri yang tampak anggun dan juga Air.


"Sepertinya dari awal kita memang salah sasaran Papa, harusnya aku mendekati putri mereka dan bukan Dara." cicit Rian pelan, membuat Prasetya tersentak namun juga mengangguk pada akhirnya.


"Kau benar Rian, harusnya target mu itu adalah putri mereka."

__ADS_1


"Apa yang sedang kalian bicarakan?"


Prasetya dan juga Rian tersentak melihatnya, pasalnya tiba tiba saja Intan menghampiri keduanya dengan wajah penasaran dan juga ikut melirik ke arah depan sesuai tatapan Rian.


"Rian .. Om .. Ada apa?" tanyanya lagi.


Namun baik Prasetya maupun Rian tidak ada yang mengeluarkan kata kata apalagi jawaban untuk Intan.


Prasetya terlihat tidak senang melihatnya, dia berdecak seraya mendudukkan bokongnya di kursi, sementara Rian hanya melirik ke arah Intan sebentar lalu ikut mengikuti ayahnya dengan duduk di sampingnya.


"Untuk apa kau ajak dia Rian?"


"Aku tidak mengundangnya ... Aku juga tidak tahu kenapa dia ada di sini?" dengusnya kasar, pasalnya Rian mendadak ingat kejadian 3 hari yang lalu dimana Intan memukulnya dengan botol minuman saat mereka bertemu.


Intan pun ikut duduk di hadapan mereka berdua, menunjuknya Barcode yang sudah di sobek saat pemeriksaan masuk, "Aku kesini di undang ya Om ... Bukan Rian yang ngajak apalagi sengaja ingin dia ajak!?"


"Janji. Apa yang kau janjikan padanya Rian?" sentak Prasetya.


Intan terkekeh, "Kita bisa bicarakan nanti saja Om ... Sepertinya acara kan segera di mulai."


Rian menyipitkan pandangannya, entah sejak kapan wanita yang berbalut dress berwarna merah maroon dengan perut buncitnya kini sudah berada di depan, lebih tepatnya berada bersama keluarga Biru.


"Bukankah itu Dara?" desisnya.


"Ya ... Itu memang dia, harusnya saat ini adalah saat saat kehancurannya, bukan malah jadi untung besar dengan di nikahi Biru." cicit Intan. "Dan semua kacau gara gara kamu yang gak becus!"


Rian tersentak, begitu juga dengan Prasetya. Dia tidak terima anaknya di salahkan dan langsung menatap Intan dengan tajam, "Apa kau bilang ... Mereka hanya berpura pura saja, dan pernikahan itu sudah aku batalkan, hanya saja semua rencana berubah akibat pria itu!"

__ADS_1


"Biru?"


Rian yang mendengarnya ikut mengangguk, "Ya ... Gara gara dia,"


"Tapi mereka sekarang tinggal satu rumah, dan kedua orang tua Dara bilang mereka sudah menikah, apa itu artinya?"


"Artinya orang yang kalian suruh itu yang tidak becus! Dara dan Biru masih tetap suami istri dan pernikahan mereka tidak bisa di batalkan!"


Ketiga orang yang sedang duduk bersama itu serentak menoleh kearah suara, tampak Alex yang berdiri tegak dengan tersenyum ke arah mereka.


"Halo Intan ... Selamat datang ya, tadinya aku tidak memasukkan mu dalam list tamu, tapi Bos ku yang bermurah hati padamu dan mengijinkan serta memberimu kesempatan untuk hadir di sini." ujarnya lagi.


Intan menggigit bibirnya dengan kesal, sekilas melirik ke arah Biru dan juga Dara yang terlihat bahagia, begitu juga dengan Rian yang hanya bisa terdiam menatap Alex.


Alex menaik turunkan kedua alisnya berulang kali, tidak lama dia beralih pada Rian dan juga Prasetya yang tampak kaget dan juga heran.


"Aku akan tetap mengawasi kalian! Jangan macam macam dan berulah."


Setelah mengatakannya Alex berlalu begitu saja, dia


"Apa maksudnya dengan memberikan aku kesempatan dan bermurah hati?" Desis Intan saat Alex menjauh pergi.


"Entahlah ... Aku tidak tahu. Tapi yang jelas, mereka juga mengawasi mu Intan!" ucap Rian dengan terkekeh.


"Sialan ... Ini semua gara gara kau!"


Sementara di sisi lain, Dara melihat Intan dengan nanar, terlihat jelas keakraban sahabatnya dan juga ayah dari bayi yang di kandungnya.

__ADS_1


Biru menggenggam tangannya dengan erat, "Dara ... Aku pastikan mereka bertiga akan menyesali perbuatannya padamu. Jadi jangan kau perlihatkan kesedihanmu. Hm?"


__ADS_2