
Biru menghela nafas, apa yang diharapkan dari kejadian semalam. Tidak ada yang terjadi diantara mereka. Hanya tidur saja.
"Jangan bilang kau berharap lebih Dara!"
"Hey ... Enak aja. Aku gak berharap apa apa kok!"
Biru mengangguk anggukan kepalanya dengan bibir yang terkatup rapat. Rasanya tidak mungkin juga menyimpan harapan besar jika perasaan Dara tidak sama dengannya.
"Kamu belum jawab pertanyaanku!"
Dara kembali membuang wajah ke arah lain dan berpura pura tidak mengerti. "Pertanyaan yang mana ya?"
"Ayolah ... Kamu gadis pintar dan aku tidak harus mengulanginya dua kali."
Bahu Dara terlihat sedikit berjingkat ke atas, masiih tidak berani menoleh lagi ke arah lawan bicara sampai akhirnya mobil berhenti di depan kampus Dara.
"Kamu yakin bisa belajar dengan baik disaat kamu hamil seperti ini?" tanya Biru memastikan.
"Biru ... Dengar ya, aku ini hamil. Bukan lumpuh atau mati, aku masih bisa belajar dengan baik!"
"Kenapa kamu marah, aku hanya bertanya!"
"Thanks karena udah nanya! Tapi pertanyaan kamu gak berbobot!"
"Ya mana aku tahu, kamu fikir aku tahu seluk beluk wanita hamil ...?" Biru mulai hilang kesabaran lagi.
Dara berdecak, lalu kemudian membuka pintu mobil dan bersiap untuk turun, namun dia kembali menoleh ke belakang. "Dua buku tentang kehamilan, kamu beli buku itu tanpa tahu isinya?"
Biru mengnagguk kecil, "Aku hanya membeli untuk kamu baca, bukan aku yang baca buku itu!"
Gadis berusia 19 tahun itu berdecih lalu langsung turun dan menutup pintu mobil dengan keras.
Bruk!
Saking kerasnya membuat Biru kaget, dan berdecak dengan menatap punggung Dara, rambutnya yang kecoklatan bersinar indah tersapu angin. Dua kaki jenjangnya melangkah maju. Jika diperhatikan sekilas tidak akan ada yang tahu jika Dara tengah hamil muda.
Biru kembali menghela nafas, tatapannya baru berakhir sampai Dara tidak lagi terlihat dan saat itu barulah Biru pergi.
Drett
Drett
Ponsel Biru berdering, dia pun merogoh ponselnya dan melihat siapa yang meneleponnya.
__ADS_1
Deg
Biru meletakkan ponsel miliknya di atas dashboard mobil, dia enggan mengangkatnya setelah tahu siapa yang menghubunginya.
Sampai dering telepon tidak terdengar lagi barulah Biru menghembuskan nafas.
Drett
Drett
Ponselnya kembali berisik, namun dengan seseorang yang berbeda yang menghubunginya. Pria berusia 22 tahun itu pun lega dan langsung mengangkat sambungan teleponnya.
'Kau dimana Biru?'
'Heh ... Baru aku angkat sudah ketus begitu. Ada apa. Aku sedang sibuk?'
'Angkat telepon dari ibumu Biru, kalau tidak dia akan datang kemari dan mengamuk! Please Biru, aku akan celaka kalau kau mengabaikan ibumu!'
'Heh Lex ... Jangan coba coba mengancam ya!'
'Ya sudah kalau kau tidak percaya, yang pasti aku sudah memberitahukannya padamu! Aku akan pergi jauh sampai mereka tidak bisa menemukan aku! Kau urus sendiri masalah ini.'
Tut
Alex menutup sambungan telefon lebih dulu dan membuat Biru kesal lalu melemparkan ponselnya di kursi samping.
***
"Lihat anakmu baby, itu karena kau terlalu memanjakannya!"
"Daddy ... Dia anak kita, bukan cuma aku yang membuatnya!"
Zian menghela nafas, menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, dengan sebuah berkas yang baru saja dia periksa.
"Dia banyak ulah sepertimu!" cicitnya dengan memijit keningnya yang tampak tegang.
Agnia bangkit dan menarik ujung blazer yang dikenakannya lalu berjalan ke arah sang suami. Gadis kecil dengan tingkat kenekatan diatas rata rata kini berubah menjadi wanita dewasa yang elegan. Rambut panjang ikal yang dia urai begitu saja membuatnya awet muda.
"Apa ... Daddy bilang apa? Banyak tingkah seperti aku? Berarti dia anak aku dong!"
"Ya ya ... Dia anakku juga Baby, tapi lihat lah apa yang dilakukannya. Apa dia ingin merusak reputasinya sendiri. Kau lihat ini sayang." ucapnya dengan menunjukan berkas laporan hotel yang dia terima.
"Daddy ... Biru pasti punya alasan melakukannya, dan alasannya itu tidak ingin diketahui kita berdua."
__ADS_1
"Aku tahu!"
"Jadi apa kita akan pulang ke indonesia?" Agnia harap harap cemas, sebab dia sangat ingin memastikan Biru baik baik saja.
Zian bangkit dari kursi, merengkuh dua pundak sang istri lalu tersenyum tipis. "Kamu di rumah saja mengurus Air ku yang cantik. Hm?"
Agnia memicingkan kedua matanya. "Kenapa aku gak boleh ikut. Air sedang libur semester, sekolahnya gak akan terganggu. Lagi pula bolos sehari dua hari gak akan bikin dia gak naik kelas sayang. Pokoknya aku dan Air ikut, aku ingin mastiin Biru baik baik saja!"
Tidak ada yang bisa Zian katakan lagi terhadap sang istri, segala keinginannya bak perintah baginya, saking besarnya cinta seorang Zian untuk Agnia.
"Ya ... Baiklah. Kita pulang dan berkemas, aku ingin tahu apa yang di lakukan Biru di indonesia."
Keduanya bersiap siap berangkat hari itu juga, Zian, Agnia dan Air. Anak bungsu mereka yang kini berusia 16 tahun.
"Dad .. Apa yang di katakan nyonya Anderson?" Tanya Agnia saat perjalanan menuju bandara.
Zian menghela nafas, "Biru membuat kekacauan di hotel."
"Kacau apa ... Abang Biru mabuk? Bandel, apa pesta ... Atau nakal sama cewe cewe?" seloroh Air.
"Hustt ... Gak boleh bicara seperti itu, dia abang Air."
"Iya Mami ... Tapi kan abang bikin liburan ku kacau juga, rencanaku gagal gara gara abang."
"Air ... Kita akan ke indonesia, kau bisa liburan sepuasmu di sana. Hm?"
"Hih ... Gak seru! Aku gak ada temen disana Dad!" sahutnya kesal.
Namun gadis belia itu pun tidak kuasa menolak perintah orang tua, terlebih keputusan kali ini ada di tangan sang ibu.
Perjalanan yang cukup melelahkan, terlebih saat ini mereka memang tinggal di New york city. Dan mereka langsung menuju ke rumah lama Zian.
"Dad ... Aku akan hubungi abang kalau kita baru aja sampai!" Air merogoh ponsel miliknya dari dalam tas.
Namun Agnia menahannya dengan mengambil ponsel Air. "Gak perlu sayang, Mami yakin abangmu itu tahu kita pulang. Dia pasti akan pulang kemari! Lebih baik kamu istirahat yaa."
Air mengerdik, lalu melenggang masuk ke arah kamar.
"Kamarku yang mana?" tanyanya dengan bingung.
"Pilih saja kamar yang kau mau sayang!" ucap Zian yang langsung merogoh ponsel dan menghubungi seseorang.
Agnia pun melakukan hal yang sama, dia menghubungi Biru namun diabaikannya.
__ADS_1
"Biru gak angkat telefonku!"
"Hubungi Alex, dan suruh dia menghubungi Biru kalau tidak dia yang aku hukum!"