
Berbeda di tempat lain, Rian dan Baskoro kini tertawa gembira saat membuat Biru tidak bisa berkutik dan melakukan apa apa lagi, tidak bisa ikut campur lagi dikarenakan keluarga Rian yang memboikot Anderson agar tidak lagi bekerja sama dengan Baskoro.
"Om lihat? Om seharusnya tidak menerima bantuan orang lain, sekalipun dari keluarga Anderson. Ayahku akan melakukan semuanya."
"Maaf Rian, aku fikir itu semua akan berjalan mulus tanpa melibatkan anak sialan itu, tapi nyatanya Anderson lebih tertarik padanya. Tapi apa ayahmu tidak keberatan mengganti semua kerugian karena pembatalan kerja sama ini?"
"No problem Om ... Semua bisa di atur. Jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi bukan. Termasuk membuat Dara menceraikan Biru. Tidak ada manfaatkan lagi, lebih cepat lebih baik?" cetus Rian menggebu. "Kita tidak bisa membiarkan Biru mendapatkan apa yang dia mau, sepeserpun!" ucapnya lagi.
Baskoro terdiam dengan kepala yang dia angguk anggukan. Memang benar, untuk apa menunggu satu tahun jika semuanya bisa dilakukan dengan mudah. Pria muda yang tidak memiliki keistimewaan serta keahlian. Hanya berasal dari keluarga miskin yang hanya mencari keuntungan dari kepolosan Dara.
"Om tenang saja, aku akan mengatur semuanya sampai selesai. Setelah itu, Om hanya perlu mengurus pernikahan ku dengan Dara. Soal perkataan orang lain tidak perlu difikirkan, aku bisa membawa Dara ke luar negeri sampai dia melahirkan." ulasnya lagi.
Setelah itu Rian keluar dari ruangan Baskoro, semua bisa dia lakukan dengan mudah karena ayahnya berkuasa, memiliki kekayaan yang cukup besar di kota dan pemilik perusahaan terkemuka.
Sementara itu
Alex tergesa gesa masuk ke dalam kafe, menyisir ruangan yang kala itu cukup sepi karena masih terlalu pagi.
Brak!
Dia menghempaskan tubuhnya di sebuah kursi, dimana seseorang telah menunggunya.
"Kau ini pasti mencari masalah baru!" ucapnya dengan nada kesal.
"Hey ... Harusnya aku yang bertanya padamu, kenapa aku tidak diperbolehkan masuk ke sana. Bukankah itu sangat kurang ajar. Apa kata paman dan bibi. Bukankah sudah aku suruh untuk lebih banyak berinvestasi di sana?"
Alex menghela nafas, "Bir ... Orang tuaku tidak punya kuasa sejauh itu untuk menginvestasikan dana hotel, mereka harus memiliki wewenang yang diberikan ayahmu!"
Biru berdecak, rencananya gagal kalau harus melibatkan kedua orang tuanya secara langsung. Tapi dia memang belum memiliki kuasa penuh, terlebih dia belum ingin terjun dalam bisnis milik keluarganya.
"Jadi tidak ada harapan?" kesalnya.
"Sorry ... Aku tidak bisa berbuat banyak soal ini. Dan kau tahu, lebih baik kau berhenti saja dari pada mempersulit dirimu sendiri! Mereka melakukan pembatalan kerja sama secara sepihak. Dan kau tahu siapa dalangnya?" tanya Alex dengan manik hitam yang membola. "Keluarga Prasetya! Jadi lebih baik kau berhenti sekarang juga."
__ADS_1
"Hah ... Kau bilang apa? Berhenti ... Mana mungkin, aku belum membuat Baskoro dan Rian meminta maaf! Belum memastikan mereka malu berhadapan denganku!"
"Lantas apa yang akan kau lakukan, kau fikir kau punya kekuasaan? Tidak masuk akal, anak manja sepertimu sok sok an membuat orang malu, mereka menggunakan nama besar keluarganya, sementara kau? So so an tidak ingin melibatkan keluarga tapi kau sendiri tidak mampu melakukannya!"
Brak!
Biru memukul meja, lalu melemparkan garpu ke arah Alex, "Heh ... Siapa yang bilang anak manja. Enak saja mulutmu bicara! Aku hanya tidak mau melibatkan nama besar keluarga untuk hal semacam ini. Kau tahu apa yang akan mereka lakukan jika tahu? Bisa bisa aku di kebirii!"
"Ya ... Ya ... Terserah kau saja lah, yang pasti kekuasaan orang tua ku terbatas. Kau harus cari cara sendiri kalau tidak mau melibatkan orang tua, aneh ... Orang lain akan memanfaatkan privillage keluarganya tapi kau tidak mau!" ujarnya lagi.
Setelah itu Alex bangkit dan berlalu pergi, meninggalkan Biru kembali sendiri. Pria itu mengacak rambutnya dengan kesal lalu masuk ke dalam mobil dan tanjap gas.
Sementara Biru menghela nafas, siapa yang bisa dia andalkan saat seperti ini sementara tidak mungkin meminta bantuan kedua orang tuanya.
Drett
Drett
Ponselnya kini berbunyi, Biru merogoh ponsel dengan malas dan berdecak saat melihat siapa yang meneleponnya.
'Heh ... Kau fikir aku supirmu?'
'Hey Biri biri burik! Kamu lupa pake mobil aku. Aku gak bisa pergi ini ...!' Nada bicara Dara di ujung telepon terdengar kesal.
'Naik angkutan umum saja! Aku sibuk!'
Tut
Biru menutup ponselnya lebih dulu, tidak ingin mendengar ocehan Dara lebih lama lagi, tidak hanya itu, fikiran Biru kini penuh dan kusut. Namun sejenak terdiam dan lantas bangkit dari duduknya.
Pria berusia 22 tahun itu melajukan mobilnya untuk menjemput Dara, entah kenapa fikirannya berubah dan mau melakukannya. Terlihay Dara mondar mandir di depan pintu gerbang menunggunya.
"Aku bilang aku mau ke kampus, dan kamu bikin aku terlambat!" ucap Dara saat memasuki mobil dan mengikat seat belt.
__ADS_1
"Aku juga bilang aku bukan supirmu! Kenapa tidak naik taksi atau menyuruh Rian mengantarkanmu!" sengit Biru kesal, langsung menginjak pedal gas dan melaju dengan kecepatan tinggi.
"Ada apa denganmu?" cicit Dara, hanya melihat raut wajah Biru yang tampak kesal.
"Tidak ada apa apa!"
Dara mengerdik, "Ya sudah kalau tidak ada apa apa!"
"Lagi pula kalau pun ada apa apa ... Aku rasa kamu tidak bisa membantu banyak!"
"Yeee ... Percaya diri banget, lagian siapa yang mau bantuin kamu banyak banyak!"
"Ayahmu tidak mengijinkan aku masuk kantor, dan keluarga ayah dari anakmu telah membatalkan kerja sama dengan Anderson, itu membuatku kehilangan kesempatan Dara."
Dara menoleh ke arahnya dengan tersentak, pantas saja Biru kesal karena hal itu. Secara dia tahu bagaimana Ayahnya memperlakukannya dengan tidak baik.
"Aku akan bicara pada Mas Rian!"
Biru berdecih, "Tidak perlu ... Itu bukan hanya rencana Mas mu itu tapi juga rencana Ayahmu. Dan aku tidak bisa berbuat apa apa! Kau tahu ... Aku tidak memiliki kekuasaan seperti Rian."
Dara terdiam, menatap wajah Biru dengan seksama. Wajah datar tanpa ekspresi namun terlihat kecewa. Tidak banyak yang bisa dia lakukan untuk hal itu, ditambah semua dilakukannya hanya berpura pura saja.
Dan tiba tiba Biru menoleh ke arahnya hingga mereka saling menatap.
"Tapi aku tidak akan menyerah selama kamu juga tidak menyerah. Aku tahu kamu merasakan hal yang sama denganku Dara!"
"Maksudmu?"
"Kamu memiliki perasaan padaku bukan? Aku bisa merasakannya saat kita hanya berdua saja, semalam saat aku tidur dikamar---"
"Suthhh!"
Ucapan Biru terhenti saat telunjuk Dara menempel tepat di bibirnya. Dengan wajah yang kini terlihat sedikit merona.
__ADS_1
"Semalam itu kita hanya tidur saja bukan?"