Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.48(Khawatir)


__ADS_3

1 jam sebelumnya.


Zian tersenyum saat melihat pertama kalinya Prasetya, pria itu terus saja bicara omong kosong dan hal hal yang bersikap menyombongkan dirinya sendiri juga sang anak.


"Aku jamin kita bisa bekerja sama dengan baik pak Zian,"


"Tentu saja Pras ... maka dari itu aku kemari karena ingin tahu lebih awal apa yang kau tawarkan. Tapi kembali lagi pada kinerja mu nanti. Kau tahu perusahaan ku sudah berdiri sangat lama, sejak dulu perusahaanku mementingkan kinerja yang baik, loyalitas dan juga kerja keras. Semua tidak mudah, banyak waktu dan banyak pengorbanan yang aku lakukan!"


Prasetya mengangguk anggukan kepalanya. Dia mengerti dengan cepat.


"Ku dengar kau punya anak laki laki?"


Prasetya mengangguk lagi. "Ya ... Penerusku nanti Pak."


Zian mengangguk. "Aku pun sama, aku punya anak laki laki yang akan jadi penerus ku nanti, kebanggaanku juga. Dan sekarang dia sudah mulai menempati kursinya di G.G corps."


"Benarkah. Siapa namanya Pak Zian, aku dan anakku akan menyempatkan datang kesana untuk memberinya ucapan selamat!"


Zian tergelak, "Itu tidak perlu ... Kau dan putramu pasti akan bertemu cepat atau lambat! Untuk sekarang aku hanya ingin kau siapkan semua berkas berkas yang akan kau ajukan. Selebihnya staff yang bertugas akan menghandlenya untukmu."


"Baiklah Pak!"


Zianpun mengangguk, dia bangkit dari duduknya dan langsung berpamitan. Dia juga keluar dari ruangan dan dan tidak lama mengubungi sang istri yang berada di kafe sebrang jalan.


"Lihatlah anakmu sayang, apa dia fikir bisa menghandle masalah ini sendirian?"


Agnia yang merasa heran lantas menelepon Alex, dan mencari tahu dimana Biru berada.


Tidak lama kemudian Agnia menuju hotel yang ditunjukan oleh Alex, seakan semua jadi kebetulan karena disana jugalah sang suami tengah rapat. Agnia hanya perlu menyebrang saja untuk sampai ke sana.


Agnia berjalan masuk, dia berpapsan dengan sang suami yang hendak keluar dan langsung tersenyum.


"Udah selesai?"


"Hm ... Kau mau menyusulku?"


"Enggak Dad ... Aku mau menyusul Biru, Daddy tahu putraa kita ada di sana kan?"

__ADS_1


"Ya ... Biru ada di atas!" jawabnya datar, bisa membayangkan apa yang terjadi setelah dia melihat Dara juga tadi.


"Kenapa Daddy gak langsung ke atas? Cari dia, anak itu membuat kitaa khawatir. Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya." Agnia berjalan masuk, dan Zian mengikutinya.


"Kau tahu apa yang terjadi?"


"Ya ... ALex yang mengatakannya pada ku. Ayo Dad ... Kitaa lihat Biru."


Zian mencekal lengan saang istri, "Bukan kah kaau sendiri yang bilang kalau masalah ini bisa Biru atasi?"


"Ya ... Tapi you know apa yang terjadi jika mereka peri ke hotel? Apa pemikiran kita sama atau tidak Daddy. Gadis itu tengah mengandung anak orang lain, bagaimana pun juga mereka tidak boleh pergi berduaan saja apalagi ke hotel. Kau tahu maksudku?"


Zian mengangguk, dia jelas tahu apa yang di maksud sang istri itu, sebagai pria normal yang sejak muda selalu mesum jelas dia tahu fikiran fikiran kotor seorang pemuda yang tengah mabuk.


"Aku tahu itu, Bukankah itu tidak masalah?"


Agnia terus berjalan seraya terus bicara, sampai mereka berdua masuk ke dalam lift, dan Zian mengikuti tanpa protes sedikit pun. Beruntung mereka tidak kembali melihat keluarga Prasetya dan juga Rian.


"Jelas jadi masalah besar Dad ... Gadis itu sedang hamil dan itu di larang, mereka mungkin sudah menikah tanpa memberi tahu kita. Tapi jelas pernikahan itu perlu di pertanyakan lagi ke absahannya. Yang pasti Biru belum boleh menyentuhnya sebelum anak yang dikandungnya lahir." terang Agnia dengan menatap sang suami.


Zian tampak terdiam memikirkan ucapan Agnia, jelas ucapan yang keluar dari sang istri tidak akan pernah salah, selama ini Agnia bukan hanya menjadi istri yang baik, ibu yang baik namun dia juga sudah menjadi asisten pribadi serta sekretarisnya di kantor. Dan jelas ucapan yang keluar dari mulutnya bisa dipertanggung jawabkan kebenarannyaa.


Agnia kembali menoleh, "Benarkah? Apa Daddy yakin?"


"Tentu saja Baby ... Aku sudaah melihatnya, dia bersama Praasetya dan juga putranya."


Agnia terperangah kaget, kenapa gadis itu keluar dan justru menemui keluarga Prasetya.


"Biru pasti sedih karena ini. Gadis itu memilih kembali pada orang yaang telah membuatnya hamil, padahal Biru sudah mau tanggung jawab."


TIng


Pintu lift terbuka, kedua nya keluar dari lift dan langsung bergegas berjalan ke arah pintu kamar hotel.


"Ini rumit sekali!" cicit Zian.


"Persis denganmu Dad ... Kau melakuka hal ini juga pada Daddy dulu, andai saja unty Jasmine masih hidup kau juga berada di posisi Biru sekarang!"

__ADS_1


Zin mendengus kasar, "Kau fikir aku akan membiarkan dia kembali bersama Dave? Jelas tidak! Sekalipun Jasmine mencintai Dave tapi aku tidak akan membiarkannya kembali pada ayahmu yang brengsekk itu!"


"Daddy ..." Agnia menghentikan langkahnya, "Jangan bicara seperti itu, kalau Daddy melakukannya Daddy gak akan pernah ketemu dengan aku?"


Zian mengangguk tengkuknya sendiri, jelas saja itu tidak akan mungkin terjadi.


"Pilihan sulit!" gumamnya mengulas senyuman.


"Ya udah, berarti mungkin juga akan tidak akan jadi istri Daddy," Ujar Agnia dengan menghentakkan kedua kakinya, dia langsung berjalan lebih cepat.


"Sayang ..waktu berlalu sangat cepat. Sekarang kita sudah menikah lama dengan dua anak yang tampan dan cantik. Hm?"


"Cepat Daddy ... Kita harus segera menemui BIru!"


***


Dara terus memperhatikan pria paruh baya dengan berperawakan tinggi tegap itu, walaupun usianya tidak lagi muda namun bisa di lihat jika pria itu merawat kesehatannya dengan baik, terlihat segar bugar di usia yang jauh di atas ayahnya sendiri, aura kepemimpinannya sangat kuat, berkarakter juga berkharisma. Bisa dibayangkan seberapa hebatnya saat pria itu muda.


"Kalian datang bersama?" tanya Prasetya membuyarkan lamunan Dara tentang gagahnya pria yng kini semakin melangkah menjauh.


Dara tersenyum saja, dia tidak ingin menjawab apalagi berbohong.


"Ya ... Begitulah Papa." sahut Rian lebih dulu dengan melirik Dara. "Tadi aku mengantarkan Dara sebentar." ujarnya bohong.


Terserahlah, Dara tidak ingin ambil pusing dengan jawaban Rian yang seolah melindunginya, entahlah dia juga tidak ingin memikirkan kalau pun itu hanya untuk menutupi kebohongannya karena jelas jelas dia yang terlambat datang, ya seperti biasa karena Rian bukan hanya sekali dua kali saja terlambat akan janjinya sendiri.


"Oh ya ... Bagaimana hasil meetingnya Pap ..? Apa kita akan berhasil?" Rian mengganti topik pembicaraan.


"Tentu saja, proyek ini harus berhasil, kau tahu keuntungan perusahaan akan sangat besar kalau ini berhasil, proyek ini dipegang langsung oleh Direktur komisarisnya sendiri! Kau tahu artinya itu kan Rian? Perusahaan kita bukan hanya bekerja dengan anak perusahaannya tapi ini induk dari segala induk perusahaan, dan berpeluang tinggi kedepannya soal apapun, dia komisaris G.G Corps."


"Bukankah Global globe di pimpin oleh orang baru?" tanya Rian dengan antusias.


"Papa juga dengar begitu, kau harus bangun relasi lebih dekat lagi dengan pihak mereka, sebab komisaris itu hanya aktif di pusat luar negeri!"


"Wah ... Daebak!!" Rian terlihat semakin bersemangat dengan sedikit tepukan kedua tangannya saat mendengar hal itu, membayangkan sebesar apa peluang bisnis yang akan dia dapatkan.


Bisa di bayangkan juga jika perusahaannya akan lebih unggul dari pada perusahaan yang lain yang ingin bekerja sama dengan perusahaan besar itu.

__ADS_1


"Papa jangan khawatir, aku tidak akan mengecewakanmu kali ini, kita akan menang dalam mega proyek ini dan bisa setara dengan G.G Corps!" ucapnya dengaan penuh keyakinan.


Prasetya tertawa, "Belum ada yang bisa menyaingi G.G Corps selama ini, mereka benar benar perusahaan besar, kita harus masuk ke dalamnya agar bisa setara dengan perlahan!"


__ADS_2