
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH yaa😘!!!
Author sayang Readers🥰!!!
Happy Reading!!!
*****
Masih di Restoran
"Ish Mami dan Papi lama nna, mam Zelo tudah mau bis" gerutu Zero saat melihat Andra dan Arra mendekati meja mereka
"Maaf ya, kan Papi pengen peluk Mami dulu mumpung Zero tidak ada" ucap Andra jahil
"Zelo tudah bilang, jannan peyuk-peyuk Mami"
"Tapi gimana ya kan Papi perlu Mami juga"
"Bapak, jangan usil sama anak sendiri" tegur Arra lalu mendekati kursinya ke kursi Zero
"Sayang, Papi bohong kok"
"Tapi thenapa Mami dan Papi lama cekali?" lirih Zero dengan mata berkaca-kaca membuat Andra dan Leo tak bisa menahan tawa
"Huaaaa Mami...Papi dan Untel jahat"
Dan tentu saja membuat tangis bocah itu pecah saat melihat Papi dan Uncle nya tertawa
"Hei, Sayang berhenti menangis ya" ucap Arra menenangkan seraya sesekali menghapus air mata di pipi Zero
"Zelo da mau teman Papi dan Untel"
"Lalu Zero teman siapa?"
"Zelo teman Mami"
"Ya udah sama Mami aja ya, tapi Zero harus mam lagi biar kuat, oke?"
"Oke, Mi"
Dengan cepat bocah itu kembali memakan makanannya membuat Arra tersenyum gemas melihatnya
"Sayang, mau ayam dong"
Tiba-tiba Andra bersuara membuat Arra dan Leo terkejut sedangkan Zero menghentikan acara makannya
"Huaaaa...Papi da boleh cayang-cayang, ini Mami Zelo"
Dan lagi-lagi Andra berhasil membuat Zero menangis karena kejahilannya siang ini
"Astaga. Kak Leo punya selotip besar tidak?" ucap Arra yang membuat Andra terkejut
"Untuk apa?"
"Mami mau tutup mulut Zelo ya?" tanya Zero dengan mata berkaca-kaca
"Tidak, Sayang. Mami mau tutup mulut Papi yang nakal"
Astaga, gadis ini berani sekali menyebutku nakal.-Andra
"Iya, tutup aja Mi, Papi nakal" ucap Zero yang menjulurkan lidahnya ke Andra sedangkan Andra hanya menghela nafas berat
"Bapak jangan suka usil, tuh liat kan Zero jadi berhenti makan" tegur Arra yang membuat Andra menatap Zero yang kembali memakan makanannya lagi
"Saya suka lihat wajahnya yang mau nangis" ucap Andra terkekeh
__ADS_1
"Oh iya, eum Pak? Apa saya boleh pergi sekarang? Saya harus bekerja"
"Bekerja dimana?" tanya Andra mengerutkan kening
"Disini" jawab Arra pelan
"Tidak boleh, Zero pasti mencari mu dan mengganggu mu bekerja. Saya sudah minta izin untukmu dan kamu baru bisa bekerja besok"
"Apa? Bapak masih waras?"
"Da, Mi. Papi da walas" celetuk Zero tiba-tiba yang membuat Leo dan Arra kelepasan tertawa sedangkan Andra mendengus kesal mendengarnya
"Emangnya Zero tau apa itu waras?"
"Da tau" jawab bocah itu enteng
"Astaga, anak siapa ini?"
"Anak Mami dan Papi"
"Pak, Bapak serius? Saya bisa dipecat, Pak. Baru saja diterima kerja sudah minta izin" ucap Arra kembali ke topik awal
Astaga, Arra. Tidak ada yang bisa memecat mu disini karena semuanya tunduk dibawah Pak Andra.-Leo
"Tidak ada yang berani memecat mu"
"Pak, saya hanya gadis biasa jadi apa kelebihan saya hingga membuat pemilik restoran ini tidak berani memecat saya?"
"Karena kamu Mami nya Zero"
Deg
Arra terdiam menyimak kata-kata yang barusan didengarnya. Sungguh, dia tidak mengerti maksud Andra. Bagaimana bisa pemilik restoran tidak berani memecatnya hanya karena dirinya Mami Zero? Apa pemilik restoran ini tunduk kepada Andra yang diketahui mereka sebagai Papi Zero hingga mereka mengira Arra adalah istri Andra? Atau apa karena Andra mengatakan bahwa mereka sepasang suami istri?
"Eh--iya, Pak?"
"Kenapa melamun?"
"Eum, tidak apa-apa"
"O, aku tidak kembali ke kantor dan kau handle semuanya"
"Bapak mau kemana?"
"Menemani anak dan calon istriku jalan-jalan" ucap Andra yang membuat wajah Arra memerah karena malu
"Wow, Bapak sudah jadian dengan Arra?" tanya Leo langsung yang tentu saja membuat Arra semakin malu
"Pestanya beberapa bulan lagi" jawab Andra menahan tawa melihat Arra yang menunduk karena malu
"Arra, kasihan sekali hidupmu harus bersama pria tua" lirih Leo pelan
Buugghhh
Refleks Andra menendang kaki Leo dibawah meja
"Bercanda, Pak"
"Sudah, kembali ke kantor sana"
"Bapak serius tidak kembali ke kantor?"
"Sangat serius, Leo" jawab Andra menahan amarah membuat Leo terkekeh lalu pamit pergi kembali ke kantor meninggalkan Andra dan Arra yang hanya diam sedangkan Zero masih fokus pada makanannya
"Pak, saya boleh pergi sekarang?"
__ADS_1
"Kamu tidak mendengarnya? Kita akan jalan-jalan"
"Ki-kita?"
"Ya, saya, anak saya dan calon istri saya" ucap Andra yang membuat wajah Arra memerah seketika
"Hei ada apa dengan wajahmu? Apa kau demam?"
"Ti-tidak, Pak"
"Hahaha...Habiskan makanan mu setelah ini kita pergi"
"Bapak serius?"
"Astaga, mengapa kau dan Leo sering meragukan saya?"
"Eum, entahlah" jawab Arra pelan lalu kembali memakan makanannya.
*****
Setelah selesai makan siang, Andra melajukan mobilnya menuju mall terkenal di kota ini membuat Arra yang duduk disebelahnya menatap Andra heran sedangkan Zero yang duduk di kursi belakang sudah fokus dengan ponsel Andra
"Pak, kita mau ke mana?"
"Mall"
"Astaga, tapi pakaian saya tidak pantas, Pak" ucap Arra pelan yang membuat Andra menatap kearahnya
Pakaian yang dikenakan Arra terlihat sopan bahkan sangat sopan dengan rok hitam span selutut dan kemeja pink polos setengah lengan dan rambut panjang yang dibiarkan tergerai membuatnya semakin cantik
"Pakaian kamu itu sudah sangat sopan, Arra. Pakaian seperti apa menurutmu yang sopan untuk pergi ke mall? Menggunakan sarung seperti orang sunatan?" tanya Andra yang membuat Arra tertawa seketika
"Mungkin orang-orang akan mengira saya membawa kedua anak saya, tidak ada yang mengira saya membawa calon istri saya"
"Dan mungkin saja orang-orang mengira saya jalan bersama Om-Om, Pak" celetuk Arra yang menahan tawa melihat wajah kesal Andra
Tentu saja tidak, wajah Andra tidak setua itu walaupun umurnya sudah 30 tahun dan memiliki seorang anak, Andra masih terlihat muda bahkan mungkin banyak yang mengira bahwa umurnya masih 24 tahun terlebih dengan penampilannya yang sekarang, kemeja berwarna merah maroon yang digulung setengah dengan dasi yang masih rapi di leher kemejanya membuat Andra semakin terlihat muda dan gagah
"Astaga, apa saya harus berteriak nantinya dan mengatakan bahwa saya berjalan-jalan dengan calon istri saya?"
"Bapak, jangan macam-macam" ucap Arra cepat yang membuat Andra terkekeh
"Oh iya, Pak. Bagaimana dengan Bunda nya Zero?" tanya Arra pelan agar Zero tidak mendengarnya
"Bagaimana apanya?"
"Bagaimana jika kita bertemu dengannya nanti? Apa Bunda nya Zero akan menampar pipi saya, Pak? Pipi kanan saya saja masih sakit ditampar wanita cantik tadi" keluh Arra tanpa sadar lalu beberapa detik kemudian dia menutup mulutnya karena baru sadar bahwa dirinya keceplosan mengatakan bekas tamparan Gladis masih sakit
"Masih sakit?" tanya Andra lembut seraya mengelus pelan pipi kanan Arra
"Eh--sudah tidak Pak, tadi saya hanya berbicara asal" ucap Arra yang berusaha menetralkan jantungnya yang ingin copot
"Maaf ya, calon istri"
"Pak--"
"Suka-suka saya mau manggil kamu dengan sebutan apa jadi jangan protes" potong Andra cepat sebelum Arra protes dengan panggilan yang diberikannya
"Baiklah" gumam Arra pelan membuat duda beranak satu itu tersenyum penuh kemenangan.
*
*
*
__ADS_1