Cewek ABG & Duda Keren

Cewek ABG & Duda Keren
Keputusan Arra


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


"Mereka keluarga calon istriku.."


Deg.


"A-apa?!"


Bukan hanya Nyonya Besar, Ketua pun benar-benar terkejut mendengar fakta baru bahwa korban tersebut adalah calon besan nya.


"Ya, seluruh keluarga yang kau bunuh. Orang tua dan adik-adik calon istriku.." ucap Andra tersenyum sinis.


"Dengan tidak tau malunya aku mendekatinya dan melamarnya tanpa tau sebuah kebenaran bahwa Ibu tiri ku yang membuatnya menderita dan sendirian selama beberapa tahun ini bahkan Ibu tiri ku yang membuat kematian orang tua dan kedua adiknya menjadi kematian yang tidak adil.. aku bahkan belum mengenalkannya pada kalian, namun ternyata ada fakta baru."


Untuk pertama kalinya dalam hidup, Andra menganggap Nyonya Besar sebagai Ibu tiri dan bukan sebagai istri Ketua.


"Kau.. bagaimana bisa kau hidup seperti ini..? Kau membuat calon istriku menderita. Ah, apa aku harus menanggung semua kesalahan di masa lalu mu..? Mungkin, aku hanya bisa menyebutkan calon istri sekarang.. bagaimana bisa ia akan menikah denganku setelah tau fakta ini? Ibu tiri ku saja membunuh keluarganya.."


Andra tertawa sendu meratapi bagaimana hubungannya dengan Arra nantinya. Sungguh, ia yang bukan bagian dari keluarga Angga saja benci dan tidak terima dengan fakta yang ada. Fakta yang mengatakan bahwa Nyonya Besar melakukan itu semua.


Bagaimana dengan Arra jika ia juga mengetahui hal ini? Keluarga korban satu-satunya yang hanya tau fakta bahwa keluarganya meninggal akibat kecelakaan tunggal dan hidup seperti itu tanpa tau kebenaran bahwa keluarganya memang menjadi incaran Dirgantara Group. Ralat, incaran Nyonya Besar.


*****


Andra segera berlari keluar dari kamar membuat Andre dengan cepat mengejarnya.


"Kak Andra!" teriak Andre yang dengan segera menahan lengan Andra untuk tidak pergi.


"Aku mau mencari Arra" ucap Andra dingin seraya menepis kasar lengan Andre.


Andre segera mengambil alih kursi kemudi. "Aku yang akan membawa mobil" ucap Andre yang membuat Andra akhirnya mengalah lalu duduk di kursi penumpang sebelah Andre.


"Kita akan mencari Arra ke panti asuhan" ucap Andre pelan.


Lalu mobil pun melaju meninggalkan pekarangan rumah Ketua menyusuri jalanan kota yang cukup padat menuju ke panti asuhan milik Ibu Dian.


"Ah.." Andra menghela nafas berat membuat Andre segera menatapnya dengan tatapan heran seraya mengerutkan kening.


"Pantas saja dia menghindar dari panggilan ku.." gumam Andra pelan.


Andre yang mendengarnya seketika membuka suara. "Apa? Arra sudah mengetahuinya?"


"Sepertinya begitu. Ah, bagaimana dengan pernikahan ku?" tanya Andra terkekeh pelan.


Andre hanya diam tanpa bersuara karena ia ingin memberikan ruang untuk Andra mengeluarkan semua yang ia rasakan sekarang.

__ADS_1


"Apa aku harus gagal menikahi wanita ku..? Apa aku harus menanggung semua kesalahan yang tak pernah aku lakukan..? Skenario terburuknya adalah ketika aku kembali merasakan cinta yang tulus, namun ternyata ada begitu banyak kerikil yang menghambat hubungan ku.."


Ada jeda sebentar dengan helaan nafas berat sebelum Andra kembali membuka suara.


"Aku tidak berani menatap mata Arra.."


*****


Tak lama kemudian, mobil Andra pun sampai di panti asuhan membuat Ibu Dian segera keluar menghampiri calon menantu nya tersebut.


"Ada apa, Nak Andra?" tanya Ibu Dian saat ia sudah mendekati Andra dan Andre.


"Bu, apa Arra ada?"


"Loh? Arra tidak memberitahukan padamu? Dia menginap di tempat Ibu Rina" ucap Ibu Dian mengerutkan keningnya heran.


"Ah, baiklah. Terima kasih banyak, Bu. Andra permisi"


Langkah Andra yang hendak pergi pun terhenti ketika Ibu Dian menahan lengannya.


"Apa ada masalah, Nak?" tanya Ibu Dian pelan.


Andra menghela nafas berat. "Andra janji akan menyelesaikan masalah apapun dengan Arra, Bu" ucap Andra pelan.


Mobil pun kembali melaju menuju panti asuhan milik Ibu Rina. Untung saja, Andra mengetahui alamat panti asuhan tersebut karena Arra pernah memberitahukan padanya.


Baru saja mobil berhenti tepat di halaman panti asuhan dengan hujan yang tiba-tiba turun dengan sangat deras membuat Andra segera berlari masuk dan mengetuk pintu.


Andre yang sudah mematikan mesin pun ikut berlari masuk dan mengetuk pintu.


"Ra, kau didalam?"


Arra baru saja membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur kemudian segera beranjak ketika samar-samar mendengar orang memanggilnya.


Saat ia baru keluar kamar, Ibu Rina pun terbangun akibat teriakan orang tersebut.


"Apa mereka dari Dirgantara Group?" tanya Ibu Rina yang membuat Arra hanya diam.


"Biarkan Ibu saja yang menghadapi mereka."


Setelah mengatakan itu, Ibu Rina segera berjalan menuju pintu sedangkan Arra dengan segera menyembunyikan dirinya agar bisa menguping sedikit pembicaraan mereka.


"Ada apa, ya?" tanya Ibu Rina.


"Bu, izinkan saya untuk bertemu Arra" ucap Andra seraya menggenggam erat tangan Ibu Rina.


Dengan segera Ibu Rina menepis kasar tangannya. "Maaf, tidak bisa."


Saat hendak menutup pintu, tangan Andre bergerak cepat untuk menahannya. "Tolong, izinkan kami bertemu Arra hanya sebentar."


"Apa kalian tidak bisa mendengar dengan baik?! Saya bilang tidak bisa!" teriak Ibu Rina dengan penuh emosi.

__ADS_1


Melihat hal itu, Andra segera berlutut karena ia menyadari bahwa Ibu Rina pasti mengetahui semuanya. "Tolong, saya hanya ingin berbicara dengan Arra sebentar" ucap Andra pelan.


Arra yang bersembunyi dibalik pintu mulai menampakkan diri ketika melihat Andra sampai harus berlutut hanya untuk bertemu dengannya.


"Ra?!"


"Sayang.."


Dengan segera Arra membantu Andra untuk berdiri. "Mas?! Jangan seperti ini" ucap Arra pelan.


"Sayang, maaf.. maafkan Mas.."


Ada jeda sebentar sebelum Andra membuka suara lagi.


"Maaf.. maaf karena Mas baru mengetahui fakta itu.. maaf.. maaf.."


Arra benar-benar tidak enak ketika Andra yang lebih tua darinya malah berlutut dihadapannya.


"Mas, jangan seperti ini. Kita bicara lain kali, ya? Sudah sangat larut."


"Tolong, maafkan Mas.. Mas nggak bisa harus kehilangan mu.."


"Mas.."


Air mata Andra menetes ketika tatapannya terpaku pada Arra yang juga sedang menatapnya. Dengan segera Arra membantunya berdiri membuat Andra segera memeluknya dengan sangat erat.


"Nggak, Mas nggak bisa kehilangan mu.. Tolong, jangan pergi.. Mas minta maaf.."


Arra hanya diam namun tangannya bergerak untuk mengelus punggung Andra dengan lembut.


"Maaf.. maaf karena Mas, kau jadi menderita selama ini.. karena Mas, kau harus hidup dengan sangat tidak adil.. Tolong, maafkan Mas.."


Ucapan Andra benar-benar membuat semua orang yang mendengarnya pilu. Sungguh, Andra bahkan tidak sadar jika dirinya menangis dihadapan Arra.


"Mas takut ketika Mas harus menanggung semua kesalahan yang nggak pernah Mas buat.. Mas takut jika harus melihat mu pergi.. Mas takut jik—"


"Mas.. ini bukan kesalahan Mas.. Arra nggak berhak untuk menyalahkan siapa-siapa karena ini semua takdir Tuhan.. Mungkin memang sangat berat menerima semua kebenarannya, tapi bukankah lebih baik jika kebenaran walau sakit dari pada kebohongan yang indah? Arra akan belajar mengikhlaskan semuanya, Mas.


Jika Arra harus membenci Mas, apa akan membuat Ayah dan Ibu bangga pada Arra? Atau jika Arra harus membenci seluruh keluarga Mas, apa akan membuat keluarga Arra kembali hidup? Saat mendengar faktanya pun Arra berharap semuanya hanya bohong, namun Arra harus menerima kenyataan bahwa itu semua memang kebenaran yang terjadi.


Setelah berpikir sangat lama, mungkin Arra hanya harus bisa kembali hidup seperti biasa dengan menerima dan mengikhlaskan kenyataan yang ada. Arra sakit, Mas.. sakit sekali ketika mendengar kebenarannya.. namun, Arra nggak bisa menghukum Mas karena Mas nggak ada sangkut pautnya dengan ini semua. Arra juga nggak bisa menyalahkan Andre atas semuanya, karena Andre pun nggak ada hubungannya dengan ini.


Biarkan para orang tua saja yang menanggung semuanya, Mas dan Andre jangan pernah menyalahkan diri kalian setelah ini."


Itulah keputusan yang dipilih oleh Arra.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2