
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Arra masih tidak habis pikir dengan tindakan Andra yang menculiknya paksa hanya untuk menjelaskan semua kejadian yang terjadi membuatnya berkali-kali menatap pria yang duduk dihadapannya.
“Bagaimana bisa Mas memikirkan cara ini?” tanya Arra ketika mereka sudah duduk berhadapan untuk membicarakan hal yang serius
Semua pelayan dan para pengawal pun diminta keluar dari area ruangan tersebut karena memang ini pembicaraan yang hanya didengar dan dibahas oleh mereka berdua.
“Zero” jawab Andra santai seraya mengingat kembali malam itu.
Flashback on
Malam itu Andra sedang menemani Zero seraya membacakan dongeng untuknya agar sang anak bisa segera tidur, namun bukan Zero namanya jika tidak berceloteh sebelum tidur.
“Papi” panggilnya ketika Andra baru saja membacakan dongeng tentang Snow White and the Seven Dwarfs.
Andra pun menoleh sebentar ketika dipanggil oleh sang anak. “Why, Son?”
“Bagaimana kalau kita culik Mami cepelti nenek jahat culik puteli calju?” usul Zero yang tentu saja membuat Andra mengerutkan kening.
“Menculik Mami? Untuk apa?” tanya Andra heran
“Papi can meet Mami again like a Plince who meets Cnow White” ucap Zero yang membuat Andra terdiam seketika.
Lalu ide itulah yang ia rencanakan sejak malam dimana Zero mengusulkan untuk bertemu Arra agar mereka bisa bertemu dengannya lagi hingga saat ini ia berhasil menculik Arra dan membawanya ke rumahnya yang ada di pinggiran kota.
Flashback off
“Astaga, bagaimana bisa Zero memikirkan itu?” ucap Arra heran
Andra terkekeh pelan. “Entahlah, anak kita memang sangat pintar.”
__ADS_1
Arra terdiam ketika kalimat anak kita terngiang-ngiang dalam pikirannya. Ia tidak tau bagaimana pasti perasaannya terhadap Andra namun jika boleh jujur ia pun merasa jantungnya masih berdebar dengan cepat ketika berhadapan dengan Andra.
“Sayang, izinkan Mas jelaskan sekarang ya. Kau hanya diminta untuk diam” ucap Andra yang menatap Arra dengan lekat sedangkan yang ditatap langsung menunduk karena ia merasa wajahnya memanas akibat malu dan salah tingkah.
“Hari itu Mas benar-benar nggak tau dengan hadiah sialan yang diberikan Nyonya Besar bahkan Leo sekalipun nggak sadar apa yang direncanakannya. Mas nggak sempat untuk mencarimu dan menjelaskan semuanya lalu ketika Zero menyalahkan dirinya saat kau pergi, Andre pergi menemui Nyonya Besar dirumah utama dan meminta untuk menghentikan semua artikel bodoh itu lalu Zero nggak sengaja menyebut namamu sehingga Ketua meminta bertemu dengan Mas di kantor setelah kau mencampakkan Mas.”
Terdengar helaan nafas berat yang membuat Arra benar-benar merasa bersalah karena tidak memberikan kesempatan untuk Andra menjelaskan semuanya terlebih ketika ia mendengar bahwa Zero menyalahkan dirinya atas kepergiannya itu.
“Ketua bertanya apa Mas pernah sedikit pun mencintai wanita itu dan Mas dengan tegas mengatakan bahwa Mas nggak pernah mencintai Gladis. Setelah itu, Mas meminta Ketua untuk mengatur makan malam keluarga juga bersama Gladis dan malam itu Leo membawa bukti ketika Gladis menumpahkan susu cokelat di kepala Zero. Disitulah Ketua dan Nyonya Besar akhirnya mengetahui bahwa mereka hampir saja menjodohkan Mas dengan Nenek Lampir.”
“M-mas.. maafkan Arra yang nggak pernah kasih kesempatan untuk Mas menjelaskan semuanya..”
Arra benar-benar terkejut mendengar apa yang terjadi hingga untuk menatap wajah Andra pun, ia sangat malu.
Dengan segera, Andra berdiri dan memeluk gadisnya yang sudah lama ia rindukan. Pelukan hangat yang seolah menjadi saksi bagaimana rasa rindu menyiksa keduanya. Pelukan hangat yang menutupi semua kesalahpahaman yang sempat terjadi beberapa bulan ini. Dan pelukan hangat yang seolah menjadi ucapan bagaimana kedua pasangan ini kembali bersama.
Air mata Arra mengalir membasahi wajah cantiknya ketika ia kembali merasakan pelukan ini. “Maafkan Arra..”
“Hei, berhentilah menangis. Maaf karena Mas baru bisa menjelaskan semuanya sekarang dan mulai detik ini Mas berjanji akan memperbaiki semuanya”
“Mas.. maaf karena kebodohan Arra, Mas dan Zero terluka”
“Nggak, Mas. Arra harusnya memberikan kesempatan seperti sekarang tapi Arra dengan bodohnya membiarkan semuanya bahkan tanpa sadar sudah beberapa bulan. Maaf..”
Andra mengelus pelan pucuk kepala sang kekasih. “Berjanjilah bahwa semua yang terjadi kedepannya akan dilalui bersama” ucap Andra tersenyum tipis.
Andra segera mengambil sesuatu dari saku celananya dan kembali berjongkok dihadapan Arra. “Apa Nyonya Andra mau menerima kembali cincin ini?” tanya Andra yang membuat Arra tersenyum seraya mengangguk pelan.
Dengan hati-hati Andra kembali menyematkan cincin pada jari manis sang kekasih yang akan ia nikahi beberapa bulan ini. Setelah cincin kembali pada tempat yang seharusnya, Andra mencium punggung tangan Arra dan menatapnya dengan penuh kasih sayang.
“Ayo bersama kembali memperbaiki semuanya”
“Mas, kata orang jatuh cinta itu bikin lelah” ucap Arra tiba-tiba yang membuat Andra mengerutkan kening.
“Iya, lelah. Tapi jika itu jatuh cinta kepada Mas, Arra nggak peduli dengan rasa lelahnya”
Andra seketika tertawa. “Hei, tiba-tiba sekali. Oh, jadi selama ini calon istri Mas sudah berani gombal hm?”
__ADS_1
“Mau lagi?” ucap Arra terkekeh pelan seraya mengedipkan sebelah matanya.
“Ingin menikah malam ini?”
Plak
“Astaga, aku bercanda, Sayang.”
*****
Setelah semua kesalahpahaman dijelaskan, disinilah Andra dan Arra berada di balkon kamar yang mengarah pada pantai dengan pemandangan yang sangat indah. Kedua pasangan yang baru saja kembali bersama itu mulai merajut momen agar dikenang bersama. Andra sesekali mengelus tangan mungil yang ia genggam erat seolah tidak ingin melepaskannya lagi membuat Arra terkekeh pelan.
“Apa setelah ini, Arra masih tetap diculik?” tanya Arra seraya menatap Andra yang juga sedang menatapnya.
Andra tertawa seketika ketika mendengar pertanyaan tiba-tiba dari mulut gadisnya. “Mungkin sampai beberapa saat karena kau nakal jadi Mas harus mengurungmu disini”
“Loh?! Mas?! Bagai—”
“Mas sudah memberitahukan kepada Ibu dan bossmu di restoran” jawab Andra santai yang membuat Arra terkejut.
“Hah?! Bagaimana bisa?”
“Apa yang nggak bisa Mas lakukan hm?”
Dia benar-benar seperti om pedo.-Arra.
“Jangan menyumpahi Mas”
“Arra masih heran bagaimana bisa ada duda seperti ini” gumam Arra yang terdengar jelas ditelinga Andra hingga membuat pria itu menatapnya heran.
“Seperti ini? Bagaimana?”
“Sangat tampan.”
“Ceh.”
*
__ADS_1
*
*