
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Andra benar-benar melongo mendengar penjelasan Leo saat sang asisten sudah duduk tenang dihadapannya. Ia bahkan tidak pernah membayangkan otak pintar Leo bisa memikirkan hal seperti itu.
"Bagaimana bisa kau berpikir seperti itu?" tanya Andra untuk yang kesekian kalinya.
Leo menghela nafas berat. "Aku sudah katakan berkali-kali itu karena aku tidak nyaman duduk di mobil itu."
"Kenapa?"
Arra yang baru saja turun dari lantai atas pun duduk disebelah Andra dan ikut berbicara karena penasaran.
"Pak Andra heran karena aku membeli mobil baru" jawab Leo singkat.
"Heran? Kenapa, Mas?" tanya Arra seraya mengerutkan keningnya.
"Sayang, dia membeli mobil karena tidak nyaman duduk di mobil pick up milik pekerja bangunan."
"Hah? Maksudnya bagaimana?" Arra semakin bingung mendengar penjelasan Andra.
"Suami mu meninggalkan ku di proyek pembangunan terbaru pinggir kota yang menempuh waktu dua sampai tiga jam untuk pergi kesana. Aku nggak punya mobil yang bisa ditumpangi dan taksi juga nggak ada disana. Jadi salah satu pekerja menawarkan diri untuk mengantar ku ke pusat kota dan begitulah yang terjadi. Aku langsung membawanya ke dealer mobil dan membelikannya mobil baru."
"Parahnya dia meminta ku untuk mentransfer uang" celetuk Andra ikut menanggapi.
"Dompet ku tertinggal di mobil."
Arra hanya diam mendengar penjelasan dari keduanya. Sampai sekarang pun ia masih belum menemukan jawaban mengapa orang kaya dengan mudah menghamburkan uang seperti itu? Apa mereka tidak berpikir panjang dulu?
"Orang kaya memang seperti itu" gumam Arra pelan.
*****
Hari ini Arra terbangun dari tidurnya dan merasakan bahwa suaminya tidak ada disebelahnya. "Loh? Mas Andra kemana?" gumam Arra pelan.
Tatapannya tertuju pada jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 07:29 WIB yang membuat Arra sadar bahwa suaminya mungkin sudah berangkat ke kantor.
Arra pun berjalan pelan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Beberapa saat kemudian, ia pun keluar kamar menuju lantai bawah yang dimana ternyata suaminya sedang bermain dengan Zero.
"Loh, Mas?! Nggak kerja?"
Andra menoleh saat mendengar ucapan sang istri. "Sayang, hari ini kan weekend.."
"Oh iya lupa." Arra pun duduk di sebelah sang anak.
__ADS_1
"Main apa?"
"Papi mau main Malio Blos kalena mau cepelti Mistel Ceokjin."
Andra mulai menyesal bercerita kepada Zero. Yang diucapkan Zero memang benar karena ia mendengar dari sang anak bahwa Arra menyukai boy grup dan salah satu member grup tersebut menyukai game Mario Bros.
Arra tertawa mendengarnya. "Mas pasti kesal karena udah ngomong jujur sama Zero."
Andra hanya terkekeh pelan. "Sayang, ayo photo shoot maternity."
"Tiba-tiba banget, Mas. Tumben" ucap Arra terkejut.
"Mas pengen aja ada kenangan waktu kehamilan si adik" ucap Andra pelan.
Arra sadar bahwa suaminya sedang menjaga perasaan sang anak karena takut Zero akan bertanya tentang foto saat ia masih ada di dalam kandungan.
Arra tersenyum tipis. "Zero, mau foto bersama Mami, Papi, dan adik?"
Ucapan Arra membuat Zero terkejut. Tentu saja bocah itu mengangguk cepat karena hal itu benar-benar membuatnya senang.
Akhirnya, mereka pun bersiap untuk melakukan photo shoot maternity di tempat yang tentu saja sudah dipilih oleh Leo.
*****
"Wow, bagus" ucap Zero senang ketika melihat hasil photo shoot yang dipajang Andra di sebelah foto pernikahan mereka.
Andra memang bukan pria yang romantis namun hal-hal kecil seperti foto bersama akan selalu dicetak dengan bingkai yang besar lalu dipajang di ruang keluarga. Seperti sekarang foto hasil photo shoot maternity tadi sudah berbaur dengan foto pernikahan, foto bersama saat ulang tahun Zero, foto keluarga Andra, dan foto kejuaraan Zero saat memenangkan lomba cerdas cermat.
Arra terkekeh pelan. "Apakah Papi nakal?"
Pertanyaan Arra membuat Zero mengangguk mantap. "Nakal cekali."
"Nakal bagaimana?"
"Celalu mengganggu Zelo belmain dan celalu culang cepelti Untel Andle."
"Curang bermain? Itu hal yang sangat buruk."
"Hu'um, kita halus membasmi keculangan."
"Oh, sudah berani ya membicarakan Papi?"
Keduanya terkejut mendengar suara berat Andra karena awalnya Andra memang pamit ke lantai atas untuk melakukan pekerjaan di ruang kerjanya.
"Bagus kalau Papi dengal" ucap Zero yang membuat Andra melongo seketika sedangkan Arra sudah tertawa karenanya.
"Anak ini kenapa pintar sekali?" gumam Andra.
Ia sendiri masih tidak percaya dengan isi otak anaknya. Zero benar-benar sangat pintar, ya salah satunya pintar berbicara.
__ADS_1
"Papi da iyat itu?" gerutu Zero seraya menunjuk foto yang selalu ia banggakan.
"Ya ya ya Papi melihatnya" jawab Andra malas.
"Itu bukti ici otak nna Zelo."
*****
Malam ini entah kenapa Arra sangat ingin sekali memasak untuk suami dan juga anaknya karena sudah cukup lama sejak terakhir kali ia pergi ke dapur dan berperang dengan bahan masakan.
Sebenarnya, Andra selalu melarang Arra untuk melakukan pekerjaan yang berat mengingat ia sedang hamil besar dan ini adalah kehamilan pertamanya. Namun, bukan Arra namanya jika tidak bisa membuat pria tua itu terdiam dengan seribu bahasa.
"Mas mau seperti mayat hidup?!"
Andra kalah telak jika harus berdebat dengan sang istri.
Akhirnya, mau tak mau ia mengizinkan Arra untuk memasak. Tentu saja tetap dengan bantuan Ibu Leli dan beberapa pelayan yang menemani Arra di dapur.
"Mas, makan malam udah siap. Arra masak makanan kesukaan Mas" ucap Arra dengan wajah berbinar yang membuat Andra terkekeh pelan.
"Memangnya makanan kesukaan Mas itu apa?" tanya Andra yang membuat Arra seketika tertawa.
"Masakan Arra lah. Mas Andra kan suka masakan Arra."
Ah, Andra selalu jatuh cinta dengan sosok itu. Benar-benar menggemaskan.
Mereka pun berjalan bersama menuju meja makan tentu saja dengan disusul oleh sang anak karena Andra memang selalu menerapkan sistem sebisa mungkin harus makan bersama.
"Mami thenapa bibil nna putih?" tanya Zero heran ketika melihat wajah Arra yang pucat.
Andra yang mendengarnya pun ikut menatap sang istri dan benar saja wajah Arra sangat pucat sekarang.
"Sayang? Kenapa pucat sekali? Ada yang sakit?" tanya Andra dengan raut wajah khawatir.
Arra tersenyum tipis. "Nggak, Mas. Arra juga bingung kenapa malah pucat padahal Arra nggak sakit sama sekali" ucap Arra dengan jujur.
Mereka pun kembali melanjutkan makan malam yang sempat tertunda. Beberapa saat kemudian, Arra merasakan sakit di bagian perutnya secara tiba-tiba.
"Aw" ucapnya seraya mengelus perutnya dengan pelan.
Andra yang sedang makan pun terkejut lalu berlari dan berjongkok dihadapan istrinya. "Sayang, kenapa?! Perutnya sakit?!"
"M-mas.. mungkin adik udah mau keluar.." ucap Arra pelan.
Mendengar hal itu, Andra pun berteriak memanggil para pelayannya untuk mempersiapkan semua dari mobil yang akan digunakan ke rumah sakit, peralatan dan perlengkapan bayi yang sudah disiapkan di dalam tas besar, dan semua berkas-berkas yang diperlukan.
Dengan segera Andra menggendong istrinya keluar rumah dan masuk ke dalam mobil diikuti oleh sang anak yang juga ikut panik.
*
__ADS_1
*
*