
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Deg
Andra memeluknya.
Pelukan itu, pelukan yang terlihat sangat mesra seperti sepasang kekasih yang sedang saling menyalurkan rasa rindu. Itu semua terlihat oleh mata kepala Arra
Tanpa menunggu waktu lama, Arra langsung pergi dari rumah itu tanpa mengucapkan satu patah kata pun. Hatinya sungguh sakit, ia benar-benar tak pernah menyangka bahwa Andra akan melakukan itu semua terhadapnya
Tuhan, kenapa rasanya sangat sakit?-Arra
Air mata mulai mengalir cukup deras membasahi wajah cantiknya, berkali-kali ia memukul dada karena merasa sangat sesak bahkan ia juga memukul kepalanya untuk menenangkan diri
Ada berbagai kata yang ia dengar, yang membisikkan sesuatu padanya, yang menertawakannya, dan yang mengejeknya karena ia menangis. Arra menutup telinga, memukul kembali dadanya dan menarik-narik rambutnya hingga ia berteriak untuk mengusir bisikan-bisikan itu.
Namun, nihil.
“Pergi..tolong..pergi..”
“Kau hanya beban untuknya”
“Kau tidak pantas bersamanya”
Dan ada berbagai bisikan lagi yang ia dengar yang berputar di otaknya dan terasa enggan untuk meninggalkannya sendiri
Aku harus mengontrol diri.-Arra
Arra berusaha untuk tidak fokus mendengar berbagai macam bisikan itu sehingga ia mulai bisa mengontrol diri namun tetap saja berkali-kali ia memukul dadanya hingga ia teringat bahwa ada obat-obatan yang ia bawa selalu dalam tasnya
Dengan segera Arra membuka tas dan mengambil obat tersebut lalu meminumnya, membuatnya sedikit demi sedikit kembali sadar dan nafasnya kembali terdengar normal.
Beberapa saat kemudian, Arra baru menyadari bahwa ia berada tak jauh dari rumah Andra sehingga ia langsung berlari untuk pergi menjauhi rumah tersebut.
*****
Malam itu, Arra benar-benar tak berselera untuk makan atau pun sekedar keluar dari kamar. Hal itu membuat Ibu Dian heran sehingga ia mengirimkan pesan kepada Andra untuk sekedar bertanya
Nak Andra
Selamat malam, nak. Maaf jika Ibu malam-malam mengirimkan pesan. Ibu hanya ingin bertanya, apa nak Andra dan Arra sedang ada masalah?-Ibu Dian
Ah, selamat malam, Bu. Andra dan Arra baik-baik saja, Bu. Kalau boleh tau ada apa dengan Arra?-Andra
Sejak pulang dari rumahmu, Arra tak ingin keluar kamar dan sejak tadi belum makan, nak.-Ibu Dian
“Loh? Arra ada kerumah?” tanya Andra mengerutkan kening seraya matanya fokus menatap layar ponsel
Baiklah, Bu. Andra akan segera kesana.-Andra
Setelah bersiap-siap, Andra segera masuk kedalam mobil untuk menuju panti asuhan menemui sang kekasih. Namun, sebelum itu ia menelpon seseorang
“Bagaimana, O?”
“Semuanya sudah beres, Pak”
“Bagus. Oh ya, apa kau tadi bertemu Arra?”
“Tidak, Pak”
__ADS_1
“Katanya Arra ada kerumah”
“Apa jangan-jangan”
“Mungkin saja”
“Pak Andra yakin dengan ini semua?” tanya Leo ragu
“Tentu saja. Sudahlah, aku akan menemuinya”
“Selamat menikmati ocehan Arra, Pak”
“Sial.”
Andra segera memutuskan panggilan secara sepihak.
*****
Sebelum menyusuri jalan ke alamat panti asuhan, Andra berhenti disebuah toko roti untuk membeli beberapa roti dan makanan ringan lainnya untuk anak-anak panti sekalian menyogok Arra dengan makanan
Tak berapa lama, mobil pun sampai di halaman panti asuhan dimana ada banyak anak-anak panti yang sedang duduk bersama-sama didepan panti untuk sekedar bercerita dan mengobrol bersama atau ada juga yang sedang belajar
Ibu Dian melihat Andra keluar dari mobil segera berjalan mendatanginya
“Apa dia belum mau keluar, Bu?” tanya Andra setelah bersalaman dengan Ibu Dian
“Katanya ingin beristirahat, nak. Tapi biasanya Arra tak pernah mengurung diri seperti ini” ucap Ibu Dian khawatir
“Apa boleh Andra izin masuk membujuknya?” tanya Andra sopan
“Boleh, nak. Silahkan masuk”
Andra pun mulai masuk kedalam rumah menuju kamar Arra
“Sayang” panggil Andra pelan seraya mengetuk pintu kamar Arra
“Mas tau kau belum tidur”
“Aku nggak mau ketemu Mas Andra dulu” gumam Arra pelan
“Sayang, keluar sebentar. Ada yang ingin Mas bicarakan”
“Apa aku egois?”
Lagi-lagi Arra hanya bergumam pelan agar Andra tak bisa mendengarkannya
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Arra memberanikan diri untuk keluar kamar menemui Andra yang masih menunggunya
“Hei, ada apa?” tanya Andra mengelus pucuk kepala Arra dengan lembut sedangkan Arra hanya diam menunduk
“Sayang?”
“Mas Andra kok nggak bawa Zero?” tanya Arra mengalihkan pembicaraan
“Sayang, Mas bertanya loh” tegur Andra yang membuat Arra kembali diam
“Kenapa hm? Kenapa tiba-tiba unmood?”
“Mas..”
“Apa, Sayang?”
“Ehm, nggak jadi deh hehe”
Arra tersenyum canggung sedangkan Andra menahan tawa melihat tingkah Arra yang semakin hari semakin lucu menurutnya
__ADS_1
“Ada yang mau ditanya?” tebak Andra yang membuat Arra menatapnya
“Ada apa hm?”
“Mas, maaf kalau ini menyinggung Mas. Tapi sepertinya Arra yang bertanya seperti itu, apa ada yang ingin Mas bicarakan kepada Arra?” tanya Arra pelan seraya menatap Andra lekat
“Mas? Entahlah, sepertinya nggak ada, Sayang”
“Mas yakin?” tanya Arra yang membuat Andra mengangguk pelan
“Ah, baiklah”
Terdengar helaan nafas putus asa yang semakin membuat Andra ingin tertawa seketika
“Tapi Mas--“
Cup.
Andra tiba-tiba mencium bibir sang kekasih yang sudah lama ia rindukan.
Untung saja hanya ada mereka berdua didalam rumah karena Ibu Dian masih bersama anak-anak di depan rumah
Cukup lama bibir itu saling menyentuh hingga akhirnya Andra melepaskan ciuman tersebut, tak lupa dengan mengelus pelan bekas ciumannya membuat Arra semakin malu dibuatnya
“Mas kangen tau” ucap Andra pelan
“Sayang?” panggil Andra menatap sang kekasih yang melamun
“Eh--iya, kenapa Mas?”
“Mikir apa hayo?”
“Nggak, Mas tadi bicara apa?”
“Mas kangen”
“Mas akhir-akhir ini sibuk, ya?”
“Iya, Mas banyak kerjaan jadi nggak sempat kemari”
“Zero, bagaimana kabarnya?” tanya Arra pelan
Jujur, ia sungguh merindukan ocehan Zero yang sudah terbiasa ia dengar. Hampir seminggu ia tak mendengar kabar sang anak membuatnya sungguh merindukan bocah itu
“Kabarnya baik”
“Mas..”
“Hm?”
“Apa Arra boleh bertanya sesuatu?”
“Bisa ditunda dulu? Mas ingin mengajakmu ke suatu tempat” ucap Andra seraya memberikan paper bag
Arra pun hanya diam setelah menghela nafas berat namun tatapannya masih berpaku pada paper bag tersebut
“Kemana, Mas?”
“Bersiaplah, Mas akan menunggu diluar” ucap Andra lalu mencium pucuk kepala Arra dan berjalan keluar membuat Arra mau tak mau mengikuti ucapannya
Dia bahkan belum menjelaskan padaku.-Arra
*
*
__ADS_1
*