
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Keesokan paginya, Zira baru saja bangun dari tidurnya dan segera mengecek ponsel untuk mengetahui kabar Gibran yang kemarin malam menghilang tiba-tiba dan membuatnya sangat khawatir.
"Ah, masih nggak aktif" gumam Zira pelan.
Who?
Morning, Kak Gibran. Aku nggak tau Kak Gibran kemana dari kemaren, tapi semoga semuanya baik-baik aja ya, Kak.-Zira.
Setelah mengirimkan pesan tersebut kepada lelaki yang sudah beberapa bulan ini mengisi hari-harinya, Zira segera melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi.
*****
Gibran terbangun dari tidurnya dan merasakan seluruh badannya benar-benar sakit, terlebih ketika melihat wajah tampannya yang babak belur membuat Gibran tidak tau harus berangkat ke sekolah atau tidak hari ini.
Setelah berpikir cukup lama dengan tentunya mencari alasan untuk ia katakan kepada gadisnya nanti, Gibran pun segera bersiap-siap menuju ke sekolah.
*****
Zira benar-benar terkejut ketika melihat sosok yang sejak kemarin malam menghilang tiba-tiba berada di halaman rumahnya sudah siap dengan mobil miliknya.
"Kak Gibran..?" panggil Zira pelan.
Tanpa sadar, gadis itu berjalan mendekati Gibran dan tangannya bergerak untuk mengelus pipi lelaki tersebut.
"Kak Gibran berantem sama siapa..?"
Gibran tersenyum tipis ketika melihat raut wajah khawatir Zira yang tidak bisa disembunyikan.
"Kak Gibran berantem kenapa..? Ada yang nyerobot antrian es milo? Ada yang senggol miniature one piece nya? Ada yang jambret? Ada yang—"
"By, nanya nya satu-satu dong, kan aku nggak tau mau jawab yang mana" ucap Gibran tertawa gemas.
Zira segera menunduk. "Eh, maaf.."
Gibran memegang dagu Zira agar membuat gadis itu berhenti menunduk. "Udah berapa kali aku bilang kalau jangan nunduk terus, By? Nanti cantiknya nggak kelihatan loh."
"Kak Gibran, jangan gombal dulu, tolong jawab pertanyaan ku. Ini aku lagi khawatir" ucap Zira kembali mengingatkan pertanyaannya yang belum dijawab sama sekali oleh Gibran.
Lelaki tersebut tertawa melihat kepolosan gadis dihadapannya. "Masalah kecil doang kok, By."
__ADS_1
"Masalah kecil sampai harus baku hantam dan bikin wajah Kak Gibran babak belur gini?"
Gibran mengangguk seraya tersenyum tipis. "Udah ya, nggak usah dipikirkan. Aku gapapa kok, kan cowok kamu kuat."
"Tapi Kak Gibran luka-luka gitu.."
"By, udah ya jangan dipikirin, kan aku udah ada disini didepan kamu."
Zira menggeleng. "Aku ambil kotak P3K dulu ya, Kak. Sebentar."
Seolah tak mendengar teriakan Gibran yang memintanya untuk tidak kembali ke rumah, Zira segera berlari masuk untuk mengambil kotak obat dan segera mengobati lelakinya tersebut.
Ketika melihat punggung Zira yang semakin menjauh, Gibran hanya bisa menatap punggung gadisnya dengan tatapan penuh arti.
Many secrets about me that might hurt you.-Gibran. (Banyak rahasia tentangku yang mungkin akan menyakitimu.)
*****
Untung saja Gibran menuju ke rumah Zira tepat pukul 06.00 WIB sehingga masih ada waktu bagi Zira untuk mengobati lukanya.
Di dalam mobil, terlihat bahwa Zira benar-benar telaten mengobati luka Gibran sedangkan lelaki itu hanya diam seraya sesekali meringis pelan karena merasa perih.
"Kak.. tolong jangan terluka lagi.."
Gibran hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan gadis kecilnya.
*****
Semua yang berada disana tak satu pun yang rela melihat kepergian lelaki itu. Lelaki yang bahkan tidak bisa berjauhan dari Arra, namun karena tuntutan pendidikan membuatnya harus berpisah dari keluarganya.
"Jangan lupa untuk pulang" ucap Andre setelah memeluk keponakannya tersebut.
Bahkan Andre pun merasakan kesedihan karena memang sejak kecil, tak jarang ia membantu Arra untuk mengurus Zero. Jadi, perpisahan ini cukup membuat pria beranak satu itu merasakan kesedihan.
Bukan hanya Andre saja, bagaimana dengan Zira yang sejak bayi tidak pernah berpisah lama dengan Zero? Gadis itu benar-benar tidak ingin melepaskan rangkulannya bahkan disaat orang lain sedang mengantri menunggu giliran untuk sekedar mengucapkan salam perpisahan kepada Zero.
"Hei, Mami mau memelukku" ucap Zero seraya mengelus pucuk kepala adiknya.
Ah, Zira lupa bahwa ia sudah lama memeluk Abangnya itu.
"Abang nggak kangen denganku nanti kalau sudah sampai disana?"
Zero hanya tertawa mendengarnya. Bagaimana bisa rindu? Ia saja belum menginjakkan kaki di London, bahkan pelukan Zira masih sangat erat.
"Sayang, bolehkah sekarang giliran Mami untuk memeluk Abang?" tanya Arra yang membuat Zira akhirnya melepaskan pelukannya.
Tak lama kemudian, Arra pun segera merengkuh tubuh anak lelakinya dengan sangat erat. Rasanya, ia tidak rela jika berjauhan dengan Zero, namun ia tidak mau egois karena ini adalah salah satu impian anak lelakinya untuk bisa menempuh pendidikan di kampus favoritnya.
__ADS_1
"Mami, bukankah Zero sudah mengatakan dari kemarin bahwa jangan menangis saat mengantarkan Zero?"
Arra menggeleng pelan. Ia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya bahkan air matanya sejak tadi keluar tanpa disadari.
"Jangan menangis, Mami ku Sayang.. Zero akan sering-sering pulang ke Indonesia.."
"Ah, maaf.. Mami nggak bisa menyembunyikan air mata Mami.." ucap Arra segera setelah ia merasa sedikit agak tenang.
Zero tersenyum tipis seraya kembali memeluk Arra dengan sangat erat. "Zero janji akan segera pulang setelah Zero selesai pendidikan" ucapnya berjanji.
Arra hanya bisa mengangguk pelan seraya kembali berusaha menguatkan dirinya sendiri.
*****
Bugh
"Kapan kau akan menyakiti gadis itu?!"
Bugh
Belum sempat lelaki itu menjawab, pukulan demi pukulan kembali mendarat pada wajah tampannya.
"Aku sudah katakan untuk segera menghancurkan hidupnya! Apakah kau tidak bisa mendengarkan ucapan ku?!"
"A-apa tidak bisa jika aku berhenti sekarang? Aku mencintainya, Bu.."
Plak
Tamparan keras mengenai wajah tampannya hingga bibirnya mengeluarkan darah segar.
"AKU KATAKAN UNTUK MENGHANCURKAN HIDUP KELUARGA DIRGANTARA!" teriak wanita paruh baya tersebut dengan kesetanan.
Lelaki itu hanya pasrah, ia tidak tau harus melakukan apa. Apakah ia akan menghancurkan rencana Ibu nya atau ia akan berhenti sekarang karena sudah yerlanjur mencintai sosok Zira?
*****
Zira baru saja sampai di rumahnya ketika ponselnya tiba-tiba berdering menandakan sebuah notifikasi pesan masuk.
Who?
Let's break up. Ada sesuatu yang harus kamu ketahui dariku, sejak dulu aku memang nggak pernah mencintaimu. Aku hanya membalaskan dendam Ibu ku. Jika ingin tau lebih lanjut, tanyakan kepada Tuan Andra bagaimana ia menghancurkan hidup seorang wanita yang bernama Gladis.-Gibran.
Deg.
*
*
__ADS_1
*