
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH yaa😘!!!
Author sayang Readers🥰!!!
Happy Reading!!!
*****
Ruangan Presdir
"Selamat pagi Pak, ini beberapa dokumen yang Bapak minta kemarin"
"Tentang Arra?"
"Ya, Pak"
"Berikan sini" ucap Andra yang masih fokus dengan laptopnya
Lalu Leo pun berjalan mendekati Andra dan memberikan beberapa dokumen tentang Arra yang ia minta membuat Andra menghentikan aktivitasnya dan mulai membuka dokumen itu
Setelah beberapa menit membolak-balikkan berkas bahkan membuat raut wajah Andra terkejut, dia pun kembali berbicara kepada Leo yang sudah fokus bersama Zero di sofa tak jauh dari meja kerjanya
"Jadi benar bahwa dia tinggal di panti asuhan?"
"Benar, Pak. Dan itu adalah salah satu panti asuhan yang mendapat donasi dari DGroup"
"Dimana alamatnya?"
"Jalan Merpati blok VI"
"Panti asuhan yang sering ku kunjungi? Panti Asuhan Cemara, bukan?"
"Benar sekali, Pak"
"Mengapa saat aku berkunjung tidak pernah bertemu Arra?"
"Seperti dari informasi yang saya dapat bahwa setelah pulang sekolah, Arra bekerja hingga sore di sebuah cafe dan dilanjutkan malam hari di minimarket"
"Sungguh menyedihkan hidupnya"
"Dan sekarang Arra sedang mencari pekerjaan yang menurut informasi bahwa dia sedang mengajukan berkas di restoran kecil"
"Apa dia juga berhenti bekerja di minimarket?"
"Tidak, Pak. Pemilik minimarket sangat tau kehidupan Arra jadi dia tidak tega untuk memberhentikan gadis itu walaupun minimarket tidak ramai seperti biasanya. Arra hanya dipecat di cafe karena tidak ada pengunjung yang datang jadi pemilik cafe tidak mempunyai uang untuk membayar gaji Arra"
"Pergi ke sekolahnya dan bayar uang sekolahnya"
Sungguh Leo sangat terkejut mendengar ucapan yang keluar dari mulut Andra, bahkan bola mata Leo hampir keluar karenanya
"Ada apa dengan matamu?" tanya Andra heran
"Bapak bercanda?"
"Sejak kapan aku terlihat bercanda, O?"
"Kenapa bisa?"
"Apanya?"
"Bapak naksir Arra?" tanya Leo yang membuat Zero berhenti menonton
"Untel bicala apa? Nakcil itu apa?"
"Eum tidak, Sayang. Zero lanjutkan saja menontonnya" ucap Leo seraya mengelus pelan pucuk kepala Zero hingga bocah itu tidak penasaran dan kembali menonton di ponsel Andra
"Kau gila, O?"
"Tidak, Pak. Hanya saja itu mengejutkan saya karena saya tidak pernah melihat Bapak perduli pada gadis"
"Hanya ingin membalas kebaikannya karena telah membawa Zero padaku"
"Yakin hanya itu? Apa Bapak tidak menyukainya?"
"Hei, untuk apa aku menyukainya?"
"Dia cantik dan baik hati, yang terpenting dia menyayangi Zero dan Zero bahkan sudah terikat padanya. Apa Bapak tidak memiliki kesan kagum?"
"Eum, y-ya hanya kagum" jawab Andra gugup yang membuat tawa Leo pecah seketika
"Bapak serius tidak menyukainya?"
"Memangnya kenapa?"
__ADS_1
"Jika Bapak benar-benar tidak menyukainya maka saya yang akan maju karena dia begitu baik hingga saya sepertinya menyukai gadis polos itu" ucap Leo yang membuat Andra menatapnya tajam
"Kau menyukai Arra?" tanya Andra dengan raut wajah terkejut
"Ya, jika Bapak tidak menyukainya" ucap Leo yang hendak pergi namun suara Andra menghentikan langkahnya
"Kau mau kemana, Leo?"
"Menelpon Arra"
"Jangan membohongiku. Arra tidak memiliki ponsel"
"Saya ingin menghubungi panti asuhan dan mengajak Arra bertemu makan siang nanti. Selamat pagi, Pak" ucap Leo sopan lalu benar-benar pergi dari ruangan Andra membuat yang punya ruangan menatapnya kesal.
Entah kenapa Andra benar-benar kesal saat mendengar bahwa Leo menyukai Arra terlebih saat Leo mengatakan ingin makan siang bersama Arra. Itu benar-benar membuat duda beranak satu ini sangat kesal bahkan tanpa sadar dirinya menjadi tidak fokus bekerja dan hanya memikirkan gadis polos itu.
Ada apa denganku? Bagaimana bisa aku memikirkan mereka? Terserah mereka saja jika mereka ingin berkencan atau apapun itu.-Andra
"Arrrggghhhh, benar-benar ya gadis itu berani sekali membuatku tidak fokus bekerja" gerutu Andra mengacak rambutnya karena kesal
"Papi...Papi"
"Eh ya, Sayang. Ada apa?"
"Zelo mau beltemu Mami"
"Zero mau bertemu Mami sekarang?"
"Papi cudah beljanji"
Ya, Andra ingat janjinya kemarin malam dimana Zero tiba-tiba terbangun pukul 01:00 WIB dan cerewet mencari Arra, memanggil-manggil Mami nya bahkan dirinya menangis dengan kencang membuat Andra harus begadang untuk mengurusinya
Tangisan Zero terhenti saat Andra tiba-tiba berjanji untuk mengajaknya bertemu dengan Arra dan sialnya Zero mengingat kembali janji itu disaat Andra sedang pusing dengan perasaan
"Eum, Sayang-"
"Papi mau bilang apa? Papi da mau antal Zelo beltemu Mami?" tanya Zero dengan mata berkaca-kaca
"Bukan begitu, Son. Papi sedang bekerja, bagaimana jika Zero menemui Uncle Leo? Uncle Leo akan makan bersama Mami nanti"
Entah kenapa Andra tiba-tiba kepikiran ucapan Leo yang ingin mengajak Arra bertemu hingga Andra berencana agar Zero ikut dan merusak kencan mereka
"Papi celius?"
"Zelo mau ke luangan Untel dulu, pay pay" ucap Zero bersemangat lalu berlari menuju ruangan Leo yang tak jauh dari ruangan Andra.
*****
Ruangan Leo
"Untel" teriak Zero yang membuat Leo terkejut
"Hei, ada apa? Tumben Zero main ke ruangan Uncle"
"Ayo beltemu Mami"
"Hah?"
"Papi bilang Untel mau mam belcama Mami, ajak Zelo ya, Zelo uga mau beltemu Mami"
Astaga, Pak Andra benar-benar menyukai Arra? Bahkan meminta Zero untuk mengganggu kami?-Leo
"Papi Zero ikut juga?"
"Da, Papi cibuk bekelja"
Aku tidak yakin jika Pak Andra tidak mengikuti kami nantinya hahaha.-Leo
"Untel, kenapa cenyum-cenyum cendili?"
"Eum, tidak apa-apa. Nanti Uncle ke ruangan Papi ya setelah Uncle selesai bekerja lalu kita akan bertemu Mami"
"Zelo tunggu dicini, Untel"
"Apa Zero tidak bosan?"
"Da, kalau Untel belbicala belcama Zelo"
"Hahaha..Anak ini" ucap Leo terkekeh lalu mengacak rambut Zero
"Ish Untel da boleh cepelti itu, nanti Zelo da danteng lagi" gerutu Zero dengan wajah cemberutnya dan sedang memperbaiki rambutnya membuat Leo tersenyum melihatnya
Semoga kau menjadi anak yang baik dan pintar, Nak. Dan Uncle harap karena keinginanmu bisa membuka kembali hati Papi mu untuk bisa menerima perempuan di hidupnya.-Leo
__ADS_1
"Untel, kita nanti mam dimana?"
"Zero mau makan apa?"
"Telcelah acalkan Zelo beltemu Mami"
"Zero rindu Mami?"
"Lindu cekali"
"Bagaimana jika kita menelpon?"
"Untel punya nomol Mami?"
"Kita coba telpon ya" ucap Leo lalu berjalan menuju meja kerja untuk menelpon ke panti asuhan
"Halo?"
"Halo, dengan Ibu Dian?"
"Iya saya sendiri, maaf ini siapa ya?"
"Saya Leo, Bu. Ingin berbicara dengan Arra"
"Kebetulan sekali Arra sedang izin dari sekolah dan sedang memasak di dapur. Tunggu sebentar ya, Nak"
"Baik, Bu" ucap Leo sopan
Tak lama kemudian terdengar suara Arra di telepon
"Ya, ada apa Kak Leo?"
"Arra, bagaimana kabarmu?"
"Kak Leo bertanya seakan sudah lama tidak bertemu" ucap Arra yang membuat Leo terkekeh pelan
"Apa kau tidak sibuk siang ini?"
"Aku harus pergi ke restoran untuk wawancara, Kak" ucap Arra pelan yang membuat Leo sadar bahwa Arra menyembunyikan pekerjaan paruh waktunya kepada Ibu Panti
"Aku akan menunggu hingga kau selesai wawancara di restoran itu"
"Apa ada sesuatu yang penting, Kak?"
"Tidak, Zero hanya rindu dan aku ingin memberitahukan beberapa hal" ucap Leo yang membuat Arra senang karena dirinya juga merindukan bocah itu
"Mami, Mami"
"Ya, Sayang?"
"Zelo mau main belcama Mami"
"Nanti kita bertemu ya, Sayang. Dengan Uncle Leo juga"
"Mami janji ya?"
"Iya, Sayang"
"Horeeee"
Terdengar suara Zero yang begitu senang
"Baiklah, Arra. Sampai bertemu nanti siang"
"Eh-apa Kak Leo tau dimana restorannya?"
"Oh iya aku lupa menanyakannya"
"Restoran Amanda, Kak. Yang berada diseberang kantor Pak Andra"
Lagi dan lagi Arra berurusan dengan segala aset milik Andra. Huh semoga saja itu membuat mereka saling jatuh cinta.-Leo
"Baiklah. Aku tutup ya telpon nya"
"Iya, Kak"
Panggilan pun terputus.
*
*
*
__ADS_1