
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH yađ„°đ...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guysđ„°đ!!!!
*****
Arra dan Novi bersama Zero berjalan menuju minimarket didekat taman untuk membeli susu cokelat Zero serta membeli minuman dan camilan lainnya
âVi, bagaimana dengan keadaan di rumah mu?" tanya Arra saat mereka sudah sampai di minimarket
âMasih samaâ ucap Novi tersenyum
Senyum itu, bukan senyum bahagia, melainkan senyum untuk menutup luka yang semakin lama semakin terbuka lebar
âApa ayahmu masih menyalahkan mu?â tanya Arra hati-hati
Novi mengangguk pelan tanpa sadar air mata sukses lolos membasahi wajahnya
âBerkali-kali aku mencoba untuk membela diri, tapi ayah tetap menyalahkan ku. Jika bisa digantikan, mending aku yang pergi, Ra. Aku nggak mau disalahkan atas kematian ibu, Raâ
Bahu Novi bergetar hebat, ia memang tak akan pernah sanggup untuk menceritakan tentang keluarganya. Rumah yang selalu sepi dan ayah nya yang akan selalu menyalahkannya setiap saat.
Novi berasal dari keluarga yang berkecukupan namun ia tak pernah merasakan kasih sayang. Ibunya pergi meninggalkan mereka beberapa saat setelah melahirkan Novi. Dan semenjak Novi tumbuh menjadi anak remaja dengan wajah yang benar-benar mirip ibunya, dari situlah ayahnya selalu menyalahkan Novi atas kematian sang ibu.
âVi, maafâ ucap Arra merasa bersalah
âNggak, jangan minta maaf. Aku baik-baik ajaâ ucap Novi tersenyum tipis
âOnty..Ontyâ panggil Zero yang sejak tadi sedang sibuk meminum susu cokelat kesukaannya
âAda apa, Sayang?â tanya Novi sedikit menunduk untuk menatap Zero
âOnty thenapa ngis?â
âAh, itu Aunty nggak nangis kokâ
âTapi ail matanya kelual, itu tandanya Onty lagi ngisâ
âAstaga, anak ini pintar sekaliâ ucap Novi terkekeh pelan sedangkan Arra hanya tersenyum tipis
Tiba-tiba ponsel Arra kembali berdering menandakan sebuah panggilan masuk
Andre
âKau dimana? Aku sudah sampai tamanâ
âAstaga cerewet sekali, aku di minimarket membeli susu Zeroâ
Tut tut tut
âMenyebalkanâ gerutu Arra kesal
âApa ada masalah, Ra?â tanya Novi yang melihat raut wajah Arra
âHanya saja Uncle Zero sangat cerewetâ
âApa dia sudah sampai?â
âIya, menelpon hanya untuk bertanya kita dimana lalu memutuskan panggilan secara sepihak. Menyebalkan, bukan?â
âUntel cangat nakalâ ucap Zero tiba-tiba
__ADS_1
âHahaha..Oh ya, apa Uncle Zero tampan?â
tanya Novi bergurau
âDa, Zelo yang tampan cepelti Papi, Untel daâ
âKenapa nggak?â
âIsh Untel itu nakal, celalu membuat Zelo malahâ
âHahaha astaga anak iniâ ucap Arra seraya mengelus pucuk kepala Zero
âMami da tau ya kemalen Untel ambil mimi Zelo diam-diamâ
âUncle Andre minum susu Zero?â tanya Arra terkejut
âHuâum, dia menculi telus padahal Papi cudah kacih duitâ
Ucapan dan ekspresi Zero yang membuat Arra maupun Novi tertawa
âHah, disini rupanyaâ
Tiba-tiba suara berat seseorang terdengar dari belakang Arra
âUntelllllâ teriak Zero seraya berlari memeluk kaki Andre
âLoh? Apa ini? Bukannya Zero kesal dengan Uncle Andre?â tanya Arra menahan tawa
âOh, sudah pintar bergosip ya?â ucap Andre seraya menggelitik perut Zero membuat anak kecil itu tertawa
âTudah tudah, Zelo capek tauâ
âAndre, perkenalkan ini sahabatku Noviâ
âNoviâ
mereka pun berjabat tangan.
âCie cieâ ucap Zero menatap mereka
âHei, siapa yang mengajarinya?â tanya Andre seraya duduk disebelah Arra
âDia menonton drama di ponselkuâ
âDrama apa?â
âRomanceâ ucap Arra terkekeh
âAstaga Arraâ
âAku lupa kalau aku masih menyimpan drama itu di ponselku, jadi saat Zero meminta ponselku ya kuberikan saja karena menurutku dia nggak menonton apa-apa selain yang biasanya dia tonton. Tapi ternyata dia malah menonton drama, dan parahnya tanpa subtitleâ ucap Arra menjelaskan yang membuat Andre dan Novi tertawa
âHahaha...Kapan?â
âSaat Mas Andra lemburâ
âOh, kejadian PlayStation rusak?â tanya Andre tak bisa menahan tawa mengingat kejadian beberapa hari yang lalu
âNovi, bergabunglah dan jangan hanya diamâ ucap Arra yang melihat sahabatnya hanya diam
âAku kan nggak tau ceritanya, Raâ
âAh, benar jugaâ
__ADS_1
âOnty takut cama Untelâ
âKenapa takut?â tanya Andre mengerutkan kening
âEh? Nggakâ jawab Novi cepat
âKalena Untel olang jahatâ
âAstagaâ
*****
Hari-hari Arra jalani dengan terbiasa akan kehadiran Andra dan Zero dalam hidupnya bahkan sepertinya Arra sudah siap menjadi istri dan ibu yang baik. Sebenarnya Arra masih belum percaya diri menjalin hubungan dengan Andra, namun ia akan selalu mempercayai takdir dan menjalani semuanya. Sudah berbulan-bulan lamanya ia terbiasa dengan hadirnya Andra dan juga Zero, sejak saat itu juga ia tak pernah mendengar lagi kabar ibu kandung Zero yang sejak awal ia takuti jika bertemu dengannya.
Sudah sejak beberapa hari yang lalu, sikap Andra tiba-tiba berubah terhadapnya, Andra selalu susah untuk dihubungi, bahkan untuk sekedar membaca pesan Arra pun sepertinya enggan, terlebih saat Zero yang beberapa hari ini juga tak ada menghubungi atau mendatangi panti asuhan, membuat Arra bertanya-tanya apa ia mempunyai salah hingga mereka terlihat seperti menghindar darinya
âAh, mungkin saja Mas Andra sangat sibuk jadi nggak ada waktu untuk mengantarkan Zero kemariâ gumam Arra pelan
Saat ini ia sedang berada di kamarnya untuk mengistirahatkan tubuh dan otaknya yang setiap malam susah tidur karena memikirkan perubahan calon suami dan anaknya tersebut
âApa kesalahanku sangat susah untuk dimaafkan? Tapi, aku bahkan nggak tau apa kesalahankuâ
Lagi-lagi ia hanya berbicara kepada dirinya sendiri
âApa aku kerumah Mas Andra aja ya?â
Tiba-tiba usulan itu terlintas di kepalanya sehingga ia mulai bersiap-siap untuk mengunjungi rumah Andra.
Setelah mendapatkan izin dari Ibu panti, akhirnya Arra pergi ke luar untuk menunggu taksi yang ia pesan. Beberapa saat kemudian, taksi pun datang dan mulai menyusuri jalan raya untuk membawanya ke alamat rumah Andra
Di perjalanan, Arra terlihat sangat gelisah karena takut akan apa yang akan ia hadapi nantinya. Entah kenapa perasaannya tiba-tiba tidak enak sehingga beberapa kali ia merasakan nafasnya begitu sesak dan tangannya tiba-tiba gemetaran. Hal itu dilihat oleh supir taksi yang sejak tadi memperhatikannya dengan raut wajah khawatir
âApa Nona baik-baik saja?â tanya sang supir taksi dengan sopan
âAh, saya baik-baik saja, Pak. Maaf jika saya merepotkan Bapakâ ucap Arra yang berusaha untuk menutupi perasaannya
âJika Nona sedang sakit, saya bisa mengantarkan Nona ke rumah sakit atau klinik terdekat. Wajah Nona sudah terlihat sangat pucatâ
Lagi. Sang supir taksi berbicara dengan raut wajah khawatir
âTidak, Pak. Tolong segera antarkan saya ke alamat yang tadi saja. Terima kasih atas kekhawatiran Bapakâ
Tak lama, taksi pun berhenti tepat di dengan rumah Andra yang membuat Arra semakin gemetaran
âTerima kasih, Pakâ ucap Arra saat sudah keluar dari taksi
âKalau begitu, saya permisi, Nonaâ
Taksi tersebut pun semakin lama semakin menghilang dari tatapan Arra.
Arra berjalan untuk menekan bel rumah yang ada di pagar, pagar yang sedikit terbuka membuat Arra mengintip dan melihat ada mobil yang sangat asing menurutnya
Apa Mas Andra sedang ada tamu?-Arra
Saat baru saja ia hendak menekan bel kembali, tiba-tiba Andra keluar dengan seorang wanita yang tak pernah Arra lihat sebelumnya dari dalam rumah
Deg
Andra memeluknya.
*
*
__ADS_1
*