Cewek ABG & Duda Keren

Cewek ABG & Duda Keren
Jarak


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


Andra seketika mengepalkan tangannya menatap tajam kearah Nyonya Besar yang dengan seenaknya memberi kabar bahwa dirinya akan bertunangan dengan Gladis bahkan didepan Arra dan anak kandungnya.


Sungguh, saat ini Andra ingin sekali menyumpal mulut Nyonya Besar dengan semua makanan yang ada.


Leo berjalan mendekati Andra dengan tatapan yang sulit diartikan. “Apa kau tau dengan kejutan sialan ini?”


“Maaf, Pak. Saya benar-benar tidak mengetahuinya”


“Shit.”


Ketika Andra yang sudah tersulut emosi hendak berjalan mendekati panggung, Leo segera menghalanginya dengan menahan lengannya. “Pak, Arra membutuhkan Pak Andra sekarang”


Andra seketika sadar bahwa calon istrinya juga ada disini.


“Dimana, Arra?” tanya Andra saat melihat istrinya tidak ada ditempat.


Leo pun terkejut karena baru saja ia melihat Arra masih disana. “Apa Arra sudah pergi?”


Tatapan Andra tertuju pada Zero yang ternyata sudah bersama dengan Andre di pojokan. Dengan segera, ia menghampiri anaknya.


“Mami dimana?”


“Mami da campelin Papi?” tanya Zero yang juga terkejut ketika ditanya Arra ada dimana.


Andre mendekat dan berbisik. “Sepertinya, Arra pergi karena berita itu dan memberitahukan kepada Zero bahwa dia ingin bertemu Kak Andra”


“Ya Tuhan, Sayang..”


Andra dengan cepat meraih ponsel yang ada di saku jas nya untuk menghubungi calon istri.


Hingga panggilan ketiga pun tetap tak ada perubahan membuat raut wajah Andra berubah seketika.


“Sayang.. Kau dimana?” gumam Andra pelan dengan tangan yang tak lepas dari ponselnya.


Andre berjalan mendekati Zero yang terlihat sedang bingung dengan apa yang terjadi. “Ayo bersama Uncle, kita cari makan”


“Untel, Mami pelgi kalena Plesdil Dilgantala Glup beltunangan?”. Pertanyaan polos tiba-tiba keluar dari mulut Zero membuat Andra segera menatapnya.

__ADS_1


“Mami hanya kelelahan, Son. Papi akan mencari Mami jadi Zero bersama Uncle Andre, ya?”


Andra pun dengan segera berlari keluar menuju mobilnya untuk mencari Arra disekitar taman kota hingga jalanan raya menuju panti asuhan.


*****


Sungguh, Arra tidak tau harus bersikap seperti apa ketika berita mengejutkan itu terdengar oleh telinganya sendiri.


“Sayang, bisakah Zero mendatangi Uncle Andre?”


Zero menatap Mami nya dengan tatapan penuh arti. “Mami mau kemana?”


“Ah, Mami ingin bertemu dengan Papi sebentar, bisa ya?”


“Hu’um”. Entah kenapa saat itu Zero tidak rewel dan langsung berlari mendatangi Andre.


Karena melihat ada kesempatan, akhirnya Arra pergi dari taman dengan berlari menjauh.


Harusnya, aku sadar..-Arra


*****


Sepanjang perjalanan menuju panti asuhan, Andra tak menemukan jejak cang istrinya membuat dirinya sangat stress hingga beberapa kali ia menampar setir.


“Sayang, kau dimana?! Mas harus menjelaskan semuanya” lirihnya pelan.


“Loh? Kenapa Nak Andra kemari?” tanya Ibu Dian terkejut saat melihat Andra berlari menghampirinya.


Seketika, hanya dengan mendengar pertanyaan Ibu Dian, Andra mengetahui bahwa Arra tidak kembali ke panti asuhan.


Ibu Dian yang melihat Andra terdiam pun langsung kembali membuka suara. “Arra tidak pulang. Apa Ibu boleh bertanya sesuatu?”


Andra sudah mengetahui pertanyaan apa yang keluar karena acara di taman kota disiarkan secara langsung di media dan Ibu Dian pasti sudah mendengarnya.


“Apa Nak Andra benar-benar serius dengan anak Ibu? Jika memang hanya main-main, tolong tinggalkan Arra.”


Deg.


“Bu, Andra serius dengan Arra. Andra tidak pernah berpikir untuk main-main dengannya. Apa yang Ibu lihat di televisi semuanya tidak benar bahkan Andra sendiri tidak tau jika Nyonya Besar akan memberikan kabar palsu seperti itu. Jika Andra mengetahuinya pun akan Andra bereskan sebelum beritanya tersebar kemana-mana seperti sekarang”


Ada raut wajah terkejut ketika Ibu Dian mendengar Andra menyebut ibu kandungnya dengan sebutan Nyonya Besar. Dan dapat dipastikan jika hubungan mereka tidak baik-baik saja.


“Sepertinya keluargamu akan setuju jika Nak Andra menikahi wanita yang sederajat. Mereka tidak akan pernah menyetujui tentang hubungan kalian. Nak, Ibu tidak ingin ikut campur namun jika itu akan menyakiti Arra, tolong tinggalkan.”


Setelah mengucapkan itu, Ibu Dian masuk ke dalam meninggalkan Andra yang terdiam.

__ADS_1


Arra, kau dimana?-Andra.


*****


Jalan raya terlihat sangat ramai dengan orang-orang yang sedang berlalu-lalang, namun ditengah keramaian itu terlihat sosok gadis kecil yang sedang duduk diam seolah keramaian tidak membuatnya merasa nyaman.


Gadis itu hanya diam melamun hingga tidak menyadari ada sekelompok anak kecil yang sedang menuju kearahnya.


“Kakak cantik, jangan bersedih.” Setelah mengatakan itu dan memberikan lollipop kepada gadis kecil itu, rombongan anak kecil tersebut pun berlari menjauh meninggalkan gadis itu yang tidak sadar bahwa air mata sudah mengalir membasahi wajahnya.


Perlahan, terukir senyum tipis diwajahnya namun dengan air mata yang tidak berhenti mengalir. “Apa yang harus ku lakukan?”


Tidak ada jawaban atas pertanyaannya, hanya terdengar suara angin sepoi-sepoi dan helaan nafas berat seolah mengatakan bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja.


Sungguh, gadis itu terlihat sangat amat menyedihkan sekarang dengan senyum palsu diwajahnya ketika ia tak sengaja bertatapan dengan orang-orang yang sedang berlalu-lalang. Ia akan memperlihatkan senyumnya dan membuat seolah semuanya baik-baik saja padahal semua orang tau bahwa itu hanya topeng yang ia perlihatkan agar tak ada satupun orang yang mengasihaninya.


Ya, gadis itu adalah Arra yang sejak meninggalkan taman kota tidak tau arah tujuannya harus kemana sekarang. Jika ia kembali ke panti asuhan, jelas ia menyerahkan dirinya kepada Andra. Jika ia pergi ke rumah Novi, jelas dengan mudah Leo akan menemuinya. Ia tidak tau harus kemana, dirinya benar-benar tidak ingin berhadapan dengan Andra saat ini.


Saat sedang larut dengan pikirannya, ia melihat ada telepon umum diseberang jalan. Arra berniat untuk mengabari Ibu Dian agar ibunya tidak khawatir mencarinya.


Dengan segera, Arra bergegas menuju telepon umum. “Halo?”


Terdengar suara Ibu Dian ketika panggilan tersambung.


Arra sempat diam beberapa detik ketika Ibu Dian kembali bersuara dengan menyebut namanya.


“Nak? Ini Arra, kan?”


“Ibu..”


“Arra kemana?”


“Ibu..”


“Ibu punya teman di jalan Mawar XVII, pemilik panti asuhan juga. Arra bisa pergi kesana, Ibu sudah mengabarinya karena Ibu tau Arra akan menghubungi Ibu”


Arra hanya diam tanpa tau harus mengatakan apa.


“Jika Arra mau, pergilah kesana”


Akhirnya, setelah berpikir cukup lama, Arra menyetujui ide Ibu Dian untuk menetap sementara di panti asuhan milik salah satu kenalannya.


Semoga, dengan jarak ini aku bisa melepaskannya.-Arra


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2