
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Kamar Zira
Saat ini ketiga sahabatnya sudah berada di kamar gadis itu, buat apa lagi jika bukan melakukan sesi ghibah.
"Sebentar" ucap Zira seraya beranjak dari tempatnya menuju ke kulkas mini yang ada di dalam kamarnya.
Kamar Zira memang merupakan kamar yang sangat diinginkan oleh semua gadis. Bagaimana tidak? Kau bisa mencari apapun di dalam kamarnya seperti pakaian, aksesoris, bahkan berbagai macam camilan yang selalu tersedia. Ah, tak lupa dengan perintilan fangirl-ing.
"Zir, kamu sudah mendapatkan sosok pengganti Kim Taehyung?" celetuk Intan seraya menatap dinding kamar Zira yang hampir dipenuhi oleh poster dan lukisan member K-Pop.
Zira terkekeh pelan namun entah kenapa ia masih enggan menjawabnya. Ia tidak bodoh dan tau maksud dari pertanyaan sahabatnya. Namun, jika siapapun diantara mereka bertiga tidak menjelaskan lebih lanjut tentang rasa penasaran yang selama ini mereka rasakan, Zira terlalu malu untuk bercerita.
"Hei, Intan, kalau berbicara dengan Zira jangan setengah-setengah" ucap Yesika dengan wajah seriusnya.
"Benar, Zira kan orangnya harus dikorek lebih dalam baru mau cerita."
"Hei, bukan begitu" ucap Zira pelan.
"To the point aja, kamu dan Kak Gibran?"
Pertanyaan Maudy membuat Zira mengangguk pelan.
"OH MY GOD!! Benar, kan?! Aku bilang juga apa" teriak Intan dengan hebohnya.
Plak
Yesika memukul lengan sahabatnya tersebut karena terlalu berisik. "Diam atau kita nggak bisa tau kelanjutan ceritanya."
"Sebenarnya sudah jalan beberapa bulan setelah Kak Gibran memberanikan diri untuk berkunjung ke rumah dan akhirnya diberikan izin untuk mendekati ku. Selama itu juga Kak Gibran mengisi hari-hari ku dengan sekedar menemani ku belajar atau berkunjung ke rumah. Papi juga sudah memberikan izin sepenuhnya untuk Kak Gibran karena selama ini hubungan Papi dan Kak Gibran bahkan sangat baik. Dan seluruh keluarga ku menerima Kak Gibran dengan baik."
"Maaf, belum berpacaran?" tanya Yesika memastikan.
Zira terkekeh pelan seraya mengangguk. "Aku takut. Ada rahasia terbesar yang belum ku ceritakan untuknya bahkan untuk kalian semua. Tapi Kak Gibran nggak pernah memaksa ku untuk memberikan kejelasan dalam hubungan ini. Katanya, senyamannya aja."
__ADS_1
"Wow, aku benar-benar sudah curiga sejak dimana aku melihat dengan kepala sendiri bahwa Kak Gibran, Ketua Organisasi yang terkenal dingin dan cuek tiba-tiba memeluk mu dihadapan anak OSIS yang lain."
"What?! Sebentar, apa yang aku nggak tau?!" Intan teriak heboh mengetahui bahwa Yesika dan Maudy melihat Gibran dan Zira berpelukan.
"Ah, saat itu" gumam Zira pelan.
Maudy menatap Zira dengan wajah berbinar. "Aku benar-benar senang mendengarnya, Zir. Aku harap hal baik akan selalu bersama mu."
"Maudy benar, ah sepertinya aku belum siap melihat Zira kita tumbuh dewasa" celetuk Intan yang membuat semuanya tertawa.
Zira tersenyum tipis. Ia sungguh bersyukur jika teman-temannya menerima Gibran dengan baik karena ada pepatah yang mengatakan bahwa restu teman sama besarnya dengan restu orang tua.
*****
"Kak Gibran harus tau berita terheboh ini" ucap Zira dengan penuh semangat ketika lelaki yang sudah diberikan golden tiket itu menjemputnya.
Keduanya memang selalu berangkat dan pulang sekolah bersama, namun tidak ada yang mengetahuinya karena Zira selalu meminta Gibran untuk menurunkannya di dekat sekolah karena ia tidak mau jika satu sekolah tau hubungan mereka.
Gibran tertawa. Setiap hari baginya akan sangat bersemangat jika mendengarkan cerita random dari gadisnya. "Tentang apa lagi kali ini?" tanya Gibran tersenyum tipis.
"Itu loh Uncle Leo.. dia mau nikah.. Kak Gibran kaget, kan? Aku juga kaget banget."
"Seriusan? Om Leo yang cuek itu?"
"Maaf, cantik. Tapi jawab dulu pertanyaan ku, Om Leo mau nikah dengan siapa?"
Zira menggeleng pelan. "Wanitanya pasti kasihan."
"Loh? Kasihan kenapa?"
"Harus hidup dengan manusia kulkas.."
*****
Pagi ini suasana hati Zero sepertinya sangat baik terlihat dari raut wajahnya yang tidak lepas dari senyuman sejak bangun tidur.
Jika ada yang bertanya apa Zero bermimpi sangat indah? Jawabannya tidak. Zero tidak bermimpi apa-apa. Hanya saja, pembicaraan serius malam itu dengan kedua orang tuanya membuat Zero merasakan bahwa bahunya sangat ringan sekarang. Sebelumnya, Zero tak pernah absen untuk menyalahkan dirinya atas kematian yang dialami Tania hingga membuat Arra sadar bahwa anaknya belum benar-benar ikhlas merelakan kepergian Tania.
Untung saja Arra mengajak Zero dan Andra berbincang bersama hingga membuat mereka akhirnya mengerti apa yang dirasakan oleh Zero dan bisa memberikan nasehat agar anaknya tidak terpuruk dalam kesedihan.
Zero, lagi-lagi bersyukur karena Arra hadir dalam hidupnya. Andai saja ia tidak kabur dari rumah Tania, andai saja ia tidak bertemu Arra, dan andai saja Zero kecil tidak meminta Arra untuk mengantarkannya ke kantor Andra, maka ia sendiri tidak tau bagaimana hidupnya sekarang.
__ADS_1
Terlebih lagi, andai saja saat itu Andra benar-benar dijodohkan dengan Gladis, wanita iblis yang pernah menyiramkan susu cokelat diatas kepalanya, Zero tidak pernah bisa membayangkan bagaimana hidupnya.
Ah, ngomong-ngomong tentang Gladis, dimanakah wanita itu sekarang? *author senyum jahat.
*****
Ponsel Zira berdering menandakan sebuah notifikasi pesan grup yang berisikan dirinya dan teman-temannya.
Girls
Zira, tolong kami.-Maudy.
Zira sedang mengetik...
Ada apa?-Zira.
Kak Gibran sangat galak, huh. Kamu bikin Kak Gibran kesal?-Maudy.
Yup, benar sekali. Dia meminta rapat tetap berlanjut disaat cacing perut ku sudah menagih makanan.-Yesika.
Loh? Bukannya rapat sudah dari dua jam yang lalu?-Zira.
Zira mengerutkan keningnya heran. Ada apa dengan Gibran saat ini? Mengapa ia menyiksa anak-anak OSIS?
Perlahan, jari tangan Zira bergerak mencari kontak Gibran untuk sekedar bertanya dan mengirim pesan.
Who?
Kak Gibran? How are u today? Ada masalah? Kenapa rapatnya masih lanjut padahal Kak Gibran bilang rapatnya udah mulai dari dua jam yang lalu? Aku tau kalau Kak Gibran lagi rapat nggak akan buka ponsel. I hope everything is fine.-Zira.
Zira benar-benar terkejut ketika melihat pesannya langsung dibaca oleh penerima. Tidak biasanya Gibran bersikap seperti ini, Zira pun dibuat heran. Bagaimana tidak? Yang biasanya rapat OSIS paling lama dua jam saja dan akan diberikan waktu istirahat sejenak namun sekarang seolah tidak diberikan waktu istirahat. Yang biasanya Gibran tidak pernah membuka ponsel saat sedang rapat pun tiba-tiba online.
Pas sekali aku lagi butuh energi. Terima kasih, cantik.-Gibran.
Kak? Tumben banget buka WhatsApp saat lagi rapat?-Zira.
Tanpa disadari bahwa Gibran terkekeh pelan di ruang OSIS hingga membuat semua anak-anak bergidik ngeri.
Siapa yang tidak takut melihat Ketua Organisasi yang beberapa menit lalu berbicara dengan sangat serius tak lupa dengan memasang tatapan yang menusuk namun sekarang tersenyum hanya karena sebuah pesan?
*
__ADS_1
*
*