Cewek ABG & Duda Keren

Cewek ABG & Duda Keren
S2 : Sahabat


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


Pagi itu Arra terbangun dari tidurnya ketika merasakan Andra tiba-tiba memeluknya dengan sangat erat.


"Mas? Ada apa?" tanya Arra karena tak biasanya sang suami bersikap demikian.


Andra tersenyum tipis. "Memangnya harus ada apa-apa dulu ya baru Mas bisa memeluk istri sendiri?"


Mendengar pertanyaan Andra, Arra pun tertawa. "Nggak, maksud Arra aneh aja karena Mas pagi-pagi udah peluk Arra, biasanya juga Arra yang duluan bangun."


"Sayang, kita itu semakin tua harus semakin romantis."


"Kata siapa?"


"Kata Mas lah."


*****


Arra baru saja selesai mempersiapkan sarapan pagi dan beranjak untuk ke lantai atas membangunkan gadis kecilnya karena memang pagi ini jadwal Zira untuk berobat ke psikiater.


Saat sedang membuka kenop pintu kamar sang anak, betapa terkejutnya Arra ketika mendengar Zira menangis. Anak perempuannya sedang bermimpi namun entah kenapa air mata yang keluar benar-benar nyata.


Arra pun bertanya-tanya apa yang dimimpikan oleh Zira sehingga membuat anaknya terlihat sangat terpukul dan menderita.


"Zira.." Perlahan Arra memanggil sang anak.


"Zira sayang.." Lagi, namun Zira seolah enggan meninggalkan dunia mimpinya.


Hingga akhirnya Arra memberanikan diri untuk menyentuh sang anak dan mengelus pucuk kepalanya. "Sayang.."


Zira terbangun. Ia menatap Arra cukup lama dengan sisa air mata yang masih ada di pelupuk matanya.


"Mami.." lirih Zira pelan dengan nafas yang memburu seolah-olah sedang dikejar oleh sesuatu.


"Ada apa sayang?" Arra kembali mengelus pucuk kepala sang anak dan sesekali menghapus jejak air mata yang masih ada.


"K-kak Gibran.."


Deg.


Untuk pertama kalinya setelah kejadian itu, nama Gibran kembali terdengar.


"Kenapa, Sayang? Nak Gibran kenapa?"


"Zira mimpi buruk.. Kak Gibran.. Kak Gibran pergi selamanya.. Zira takut, Mami."

__ADS_1


Arra cukup terkejut dengan penjelasan Zira mengenai mimpi buruknya. Jauh dalam hatinya, Arra ikut mendoakan bahwa semoga mimpi itu hanya sebagai bunga tidur, bukan sebagai pertanda musibah apapun. Diam-diam Arra pun mendoakan tentang keselamatan Gibran di luar sana, entah apa yang terjadi pada lelaki itu karena Arra pun tidak pernah mendengar kabarnya lagi.


"Kita berdoa semoga saja mimpi itu hanya bunga tidur dan bukan pertanda buruk. Anak Mami ayo siap-siap dulu setelah itu turun sarapan" ucap Arra berusaha menenangkan sang anak.


Zira mengangguk pelan. Ia berusaha untuk menghilangkan semua pikiran negatifnya tentang Gibran setelah ini.


"Zira akan turun setelah mandi."


*****


Gibran menatap layar ponselnya dengan tatapan sendu. Pesan yang sudah sejak lama ingin ia kirim kepada sang gadis ternyata sudah sampai malam kemarin namun tidak ada tanda-tanda balasan sama sekali walaupun pesan itu sudah dibaca oleh sang penerima.


"Apa memang sudah nggak ada kesempatan lagi untuk kita, By..?" lirih Gibran pelan.


Gibran melanjutkan perjalanannya menuju ke cafe dimana salah satu sahabatnya bekerja karena memang setelah ia memutuskan untuk hidup mandiri, lelaki itu mulai bekerja paruh waktu di cafe itu juga


"Pagi banget, Gib" ucap Erfan, karyawan cafe sekaligus sahabat Gibran.


Gibran terkekeh pelan. "Hanya satu jam lebih cepat dari biasanya."


"Tapi tumben sekali pagi ini kau terlihat sangat pucat? Apa sedang kurang enak badan?" tanya Erfan yang membuat Gibran menggeleng pelan.


Sampai saat ini, tidak ada satupun teman Gibran yang mengetahui tentang penyakit yang dialami oleh lelaki itu. Gibran benar-benar menutupi semuanya dengan rapat bahkan lelaki itu sudah menolak untuk menerima pengobatan dengan alasan tak sanggup membayar biaya pengobatannya sendiri.


"Mungkin karena kelelahan aja, aku kemarin sedikit bergadang karena lupa mengerjakan tugas" jawab Gibran santai.


"Kalau memang nggak kuat, pulang aja nanti aku yang bilang ke Pak Bos."


"Memang keras kepala."


*****


Erfan menatap pintu toilet dengan tatapan heran, dalam pikirannya ia bertanya-tanya apa yang sedang Gibran lakukan karena sudah hampir sepuluh menit tidak ada tanda-tanda lelaki itu keluar.


"Gib? Apa terjadi sesuatu?" tanya Erfan dengan tatapan khawatir..


"Gib?"


"Gibran?"


Karena tak kunjung dijawab, dengan segera Erfan mendobrak pintu toilet dan betapa terkejutnya ia melihat Gibran yang sudah tergeletak pingsan dengan wajah yang sangat pucat.


"Gibran?!"


*****


Saat melihat pengunjung sudah semakin sedikit, Gibran meminta izin kepada Erfan untuk pergi ke toilet sebentar karena memang sudah mendekati waktu istirahat siang.


Erfan yang sejak awal menaruh curiga terhadap Gibran pun hanya bisa mengiyakan terlebih ketika melihat wajah lelaki itu semakin memucat.


Hampir sepuluh menit sudah berlalu dan belum ada tanda-tanda Gibran kembali hingga membuat Erfan segera menyusulnya dan mendapati lelaki itu sudah tergeletak pingsan di lantai toilet.

__ADS_1


Rumah Sakit


Erfan segera menghubungi ambulance dan menemani Gibran pergi ke rumah sakit karena memang lelaki itu sudah sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada sahabatnya.


Beberapa saat kemudian, dokter keluar dari ruang UGD dan mengatakan hal yang tidak pernah terbayangkan oleh Erfan sebelumnya.


"Apa?!"


Siapa yang pernah mengira bahwa Gibran menderita penyakit mematikan selama ini? Siapa yang pernah mengira jika Gibran menyembunyikan penyakitnya yang serius?


"Bagaimana pengobatannya?" lirih Erfan pelan.


"Sebenarnya, beberapa bulan yang lalu saya sudah meminta pasien untuk rawat jalan. Namun, pasien memilih tidak pernah menemui saya lagi."


"Dokter, tolong lakukan apapun untuk membantu teman saya" ucap Erfan memohon.


"Kami akan berusaha sekuat tenaga. Pasien akan rawat inap sampai keadaannya sudah membaik."


Setelah mengatakan itu, dokter yang menangani Gibran pun pamit permisi meninggalkan Erfan yang masih tidak menyangka dengan apa yang terjadi.


*****


"Kalian tau sesuatu tentang Gibran?" tanya Erfan kepada beberapa temannya.


Diego menatap lelaki itu dengan heran. "Sesuatu apa dulu?"


Erfan menatap teman-temannya satu per satu dan benar saja kecurigaannya bahwa tidak ada yang tau tentang penyakit yang diderita oleh Gibran.


"Gibran menderita penyakit tumor otak.."


"****?!"


"Apa yang kau katakan Er?!"


"Jangan bercanda!"


Semua orang benar-benar terkejut mendengar apa yang keluar dari mulut Erfan.


Erfan mengangguk seolah menjawab semua keraguan dari teman-temannya. "Tadi siang Gibran pingsan dan dilarikan ke rumah sakit, aku juga baru tau tadi kalau Gibran menderita penyakit mematikan itu. Ternyata selama ini dia menyembunyikan semuanya dari kita.."


"Dimana dia sekarang?"


"Gibran masih rawat inap di rumah sakit. Aku mengumpulkan kita semua untuk menceritakan ini sekaligus untuk membantu Gibran. Seperti yang kita tau, Gibran sekarang sudah hidup sebatang kara."


"Kita harus membantunya."


"Harus. Gibran sahabat kita."


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2