Cewek ABG & Duda Keren

Cewek ABG & Duda Keren
Periksa


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


Siang ini, Andra sekeluarga akan bersiap-siap untuk menuju ke rumah sakit dimana Galuh sudah mengatakan bahwa dokter kandungan menunggu mereka sejak tadi.


Dengan perasaan haru sekaligus bahagia, Andra menggandeng tangan istrinya dan menuntunnya hingga masuk ke dalam mobil.


"Terima kasih, Mas" ucap Arra tersenyum tipis.


Cup.


Setelah mencium kening sang istri, Andra pun segera berlari dan duduk di kursi pengemudi karena memang ia tidak meminta supir untuk mengantarkan mereka.


"Mami?" panggil Zero dari kursi belakang.


Arra pun menoleh. "Ada apa, Sayang?"


"Apa Papi ada melakukan kecalahan?" tanya Zero yang membuat Arra bahkan Andra mengerutkan kening.


"Apa maksud Zero?"


"Hu'um, Papi pelnah mengatakan kalau kita ada melakukan kecalahan di hadapan Mami, kita halus baik-baik cama Mami."


Mampus Andra.


Tentu saja ucapan Zero membuat Arra segera menatap Andra dengan tatapan mematikan.


"Eh—anu Sayang, maksud Mas bukan gitu" ucap Andra tertawa canggung.


Zero menggeleng. "No, Mami. Papi memang belkata cepelti itu."


"Mas, jangan mengajari Zero yang aneh-aneh."


"Hu'um. Zelo bilang kalau kita melakukan kecalahan maka halus meminta maaf, bukan malah baik-baik dan lupa cama kecalahan nna."


"Pintar sekali anak Mami."


"Mami, apa kita da ucah teman Papi caja? Papi nakal."


"Hei."


"Ide bagus. Bagaimana kalau malam ini Zero tidur bersama Mami?"


"Sayang.." rengek Andra dengan ciri khas manjanya.


Zero yang melihat Papinya frustasi pun langsung tertawa. "Ish Papi cepelti bayi, da bica bobo cendili."


"Hu'um, Papi kan manja" jawab Arra setuju.


"Dan nakal."

__ADS_1


"Galak juga."


"Telakhil, cuka menyuluh olang."


"Astaga."


Andra hanya bisa pasrah dan menghela nafas berat ketika anak dan istrinya bersatu untuk mengejeknya.


*****


Baru saja Arra melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam ruangan dokter kandungan, tiba-tiba ia merasakan sedikit gugup sehingga tanpa sadar dirinya mencengkeram tangan Andra dengan sedikit kuat.


Ketika Andra merasakannya, ia langsung bersikap seperti suami siaga yang segera mengeratkan genggaman tangannya dan menatap sang istri dengan tatapan penuh cinta.


"Zero akan senang jika mengetahui segera mendapatkan adik" ucap Andra tersenyum tipis.


Mereka memang belum menceritakan pada Zero tentang hal ini agar bocah itu heboh sendiri dan melontarkan banyak pertanyaan kepada dokternya saja.


"Silahkan masuk Tuan Dirgantara dan Nyonya Dirgantara" ucap perawat yang sudah menunggu di dekat pintu ruangan.


Arra pun menatap sekelilingnya dan melihat ruangan dokter kandungan dengan berbagai macam alat didalamnya. Begitu pula ketika tatapannya tertuju pada seorang wanita paruh baya yang ia yakini sebagai dokter kandungan disini dan dua perawat yang siap untuk membantunya.


"Silahkan duduk Tuan dan Nyonya" ucap dokter tersebut ramah.


Andra pun segera mengajak anak dan istrinya untuk duduk di kursi yang telah disediakan.


"Baiklah, sebelumnya perkenalkan saya Dokter Maureen yang akan membantu proses kehamilan hingga persalinan Nyonya Dirgantara nantinya. Dokter Galuh sudah memberitahukan bahwa saat diperiksa menggunakan test pack ternyata hasilnya positif. Apakah saya boleh tau kira-kira berapa lama semenjak haid terakhir?"


Andra menatap sang istri seolah tidak sabar menunggu jawaban Arra. "Jika dihitung-hitung sepertinya sekitar tiga minggu saya telat haid, Dok. Awalnya saya kira karena memang tanggal haid saya sedikit tidak menetap."


"Sebenarnya beberapa hari yang lalu saya sempat merasakan mual, tapi saya kira hanya masuk angin biasa."


"Loh?! Kapan, Sayang?!" tanya Andra panik.


"Papi cih cibuk kelja telus." Bukannya Arra, malah Zero yang menanggapi.


"Papi kerja karena duit nggak jatuh sendiri dari langit" jawab Andra tidak mau kalah.


Zero mendengus kesal. "Mami cakit aja da tau, dacal."


"Astaga, sudah-sudah. Maaf Dok, mereka memang selalu seperti ini. Tolong dilanjutkan saja" ucap Arra sedikit malu.


Dokter Maureen pun tersenyum tipis. "Memang masih di umur lagi ribut-ributnya. Baiklah, sekarang apakah kita bisa memeriksanya, Nyonya?"


Arra mengangguk pelan.


Salah seorang perawat pun menghampiri Arra dan menggandengnya menuju sebuah tempat di balik tirai yang ternyata adalah tempat untuk memeriksa janin.


Andra dan Zero yang penasaran pun segera beranjak untuk mendekat.


"Papi, apa Mami cedang dihukum kalena kita libut?" tanya Zero panik ketika melihat Arra yang berbaring di atas ranjang rumah sakit.


"Diam sebentar. Papi punya hadiah untuk Zero."


Tak lama kemudian, Dokter Maureen pun mengoleskan gel ke perut rata Arra dan mulai memainkan alat yang sudah ia letakkan di atas perut gadis itu. Tak butuh lama untuk alat tersebut berputar naik turun kanan kiri membuat mata Zero juga mengikutinya.

__ADS_1


"Selamat Tuan dan Nyonya Dirgantara. Bayi yang ada di dalam kandungan Nyonya sekarang berusia sekitar empat minggu. Bisa kita lihat di monitor, ini adalah janin yang tumbuh."


"Doktel, thenapa kecil cekali?" tanya Zero penasaran.


"Ini akan bertumbuh, Nak. Seperti Zero yang nantinya akan besar, adik Zero juga akan besar nantinya. Jika Zero bertemu dengan Dokter Maureen, berarti Zero akan melihat adik yang semakin besar."


Dokter Maureen dengan sabar menjelaskan kepada Zero.


"Zero akan mempunyai adik" ucap Arra menanggapi.


"Hei?! Kenapa diam?! Zero nggak suka punya adik?" tanya Andra heran ketika melihat Zero yang hanya diam.


Tentu saja hal itu membuat Zero kesal. "Zelo cedang belpikil. Papi ini menganggu caja."


"Papi kira Zero nggak suka."


"Zelo pasti cuka apalagi Papi dan Mami bekelja kelas untuk membuat adik."


Skakmat.


Pasangan suami istri ini tidak tau harus menaruh wajah mereka dimana akibat kelakuan mulut polos dan blak-blakan milik sang anak.


*****


Setelah cukup lama mengobrol dengan Dokter Maureen seputar hamil muda, Andra sekeluarga pun pamit pulang.


"Terima kasih, Dok."


"Terima kasih kembali, Nyonya. Jangan ragu untuk bertanya apapun menyangkut kehamilan pertama, Nyonya. Saya masih ingat rasanya dulu sangat gugup dan berhati-hati mengingat baru pertama kali merasakan ada bayi di dalam perut" ucap Dokter Maureen terkekeh pelan.


Arra tersenyum tipis. "Saya masih tidak menyangka bahwa akan diberikan kepercayaan secepat ini" ucap Arra terharu yang membuat Andra segera mengelus perut ratanya.


"Semoga selalu diberikan kebahagiaan, Nyonya."


Setelah berpamitan, mereka pun beranjak pergi.


"Sayang, apa ingin makan sesuatu?" tanya Andra menatap sang istri.


Arra mengerutkan keningnya seraya menggeleng pelan. "Mas, apa kita sebaiknya memberitahukan kabar bahagia ini secepatnya?"


"Hei, Mami. Beristirahatlah dulu" ucap Andra gemas.


Andra tau bahwa Arra sangat tidak sabar melihat respon keluarga mereka ketika tau bahwa ada bayi yang sedang tumbuh dalam rahimnya, namun karena saat ini Arra baru saja selesai periksa membuat Andra tidak ingin melihatnya kelelahan sehingga Andra cukup khawatir akan janinnya, maklum Arra masih sangat muda dan ini kehamilan pertamanya.


"Bagaimana dengan malam nanti? Kita ajak semuanya untuk makan bersama" usul Andra yang membuat mata Arra seketika berbinar.


"Ide bagus, Mas. Arra akan menyiapkan semuanya."


"Mami! Kata Papi, Mami itu halus belistilahat" gerutu Zero tiba-tiba.


"Astaga, dia galak sekali."


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2