Cewek ABG & Duda Keren

Cewek ABG & Duda Keren
S2 : Nama


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


Malam ini, Arra ditemani dengan sang suami dan putra sulungnya berjaga di ruangan Zira karena gadis itu memang belum sadar sejak dipindahkan ke ruang rawat inap.


Galuh mengatakan bahwa karena efek dari cukup banyak hilangnya darah membuat Zira hingga sekarang belum sadarkan diri dan kemungkinan besar akan sadar besok hari.


"Papi, dimana Uncle Leo?" tanya Zero membuka suara.


Andra yang saat itu baru saja mengisi perut pun menoleh. "Tadi Leo pamit pulang sebentar" jawab Andra seadanya.


"Papi percaya? Kalau aku nggak akan percaya mengingat bagaimana kerasnya sifat Uncle."


Zero benar, tadi saja Leo benar-benar tersulut emosi dan ingin membalas dendam kepada siapapun yang membuat Zira menjadi seperti sekarang. Siapa tau saja kan sekarang ia menuntaskan keinginannya?


Mendengar hal itu, Andra segera menghubungi sang asisten namun sialnya ponsel Leo tidak aktif sehingga membuat Andra sedikit khawatir.


"Anak ini, sudah ku katakan untuk jangan gegabah dan jangan melakukan apapun sebelum aku memberikan perintah" gerutu Andra dengan raut wajah khawatir.


"Mas, jangan seperti itu. Coba berpikir positif aja, siapa tau Kak Leo memang sedang ada di rumah dan berisitirahat karena kelelahan" ucap Arra menenangkan sang suami.


Andra dan Zero pun mencoba untuk tetap berpikir positif walaupun hingga tengah malam tidak ada kabar dari Leo.


Di tempat yang cukup jauh disana, seorang pria yang baru saja menyelesaikan kegiatannya dengan peluh di wajahnya yang terlihat penuh emosi.


"Kau kira setelah ini akan hidup tenang dan bahagia?"


Suara berat menggema di ruangan yang gelap dengan dipenuhi oleh remang-remang cahaya dari luar.


"Kau itu terlihat sangat bodoh, apa kau tidak berpikir dahulu sebelum memilih mangsa? Kau berurusan dengan orang yang salah!"


Leo terlihat sangat emosi ketika ia menatap wajah Gerren yang sudah tak berdaya namun tetap memperlihatkan wajah angkuhnya seolah ia tidak merasa bersalah sedikit pun dengan apa yang sudah ia lakukan terhadap Zira.

__ADS_1


Bugh


Satu pukulan keras kembali mendarat di wajah Gerren hingga membuat bibirnya kembali mengeluarkan darah segar.


"Akan ku pastikan kau tidak akan pernah bisa menikmati hidup mu dengan kebahagiaan!"


Setelah mengatakan hal itu, Leo segera pergi meninggalkan Gerren yang benar-benar sudah tidak berdaya akibat pukulannya sejak tadi.


"Pak Leo, Tuan Andra menghubungi Pak Leo sejak tadi" ucap salah satu pengawal yang memang memegang ponsel Leo.


Leo mengerutkan kening lalu menatap jam tangannya yang sudah menunjukkan waktu tengah malam.


"Apa ada sesuatu yang serius?" tanya Leo yang masih heran.


Pengawal tersebut menggeleng sopan. "Saya rasa Tuan Andra curiga dengan apa yang Pak Leo lakukan."


Ah benar saja, Leo baru sadar dengan apa yang ia lakukan sekarang adalah kemauannya sendiri tanpa ada sedikit pun perintah dari Andra.


Apa yang terjadi pada Leo? Biasanya ia tidak akan seperti ini. Namun, jika itu menyangkut Zira maka Leo tidak akan bisa tinggal diam. Entah karena ia benar-benar menganggap Zira sebagai keponakannya dan putri tunggal Dirgantara atau ada perasaan lain.


*****


Mata Zira tertuju pada sosok pria yang sedang tertidur di sofa yang masih cukup kecil untuk menampung tubuh kekarnya.


"Uncle Leo?" panggil Zira dengan suara yang sangat pelan.


Seolah suara tersebut bisa terdengar oleh Leo, pria itu sedikit menggeliat lalu membuka matanya sehingga tatapan mereka bertemu.


"Zira?! Sejak kapan sudah bangun?! Sebentar, Uncle panggil Kak Galuh" ucap Leo dengan raut wajah paniknya karena memang Zira sadar setelah dua hari kemudian.


Zira tersenyum tipis seraya menggeleng pelan. "Jangan panik, Zira baik-baik aja" ucap gadis itu.


Setelah Leo menekan tombol yang ada di dekat ranjang rumah sakit yang otomatis terhubung dengan tim medis luar, Leo duduk di kursi sebelah Zira.


"Mami dan Papi dimana, Uncle?"


"Mereka sedang berada di bandara untuk mengantarkan Zero yang harus kembali ke London sekarang karena memang tidak bisa terlalu lama meninggalkan pendidikannya" jawab Leo seadanya.

__ADS_1


"Uncle..? Mami dan Papi pasti kecewa dengan Zira.." lirih gadis itu pelan.


Leo tidak membuka suara namun tatapannya tidak berhenti untuk menatap gadis yang saat ini sedang menahan diri untuk tidak menangis sekarang.


"Zira jadi anak yang nggak bisa dibanggakan, ya? Zira sudah sangat kotor dan membuat Papi dan Mami juga Abang pasti sangat kecewa dan jijik punya Zira.. Harusnya memang Zira nggak pernah dilahirkan di dunia ini.. Zira cuman beban.."


Sebenarnya, Leo sangat ingin menghentikan gadis itu berbicara omong kosong. Namun, setiap melihat keadaan Zira yang terpuruk seperti ini Leo hanya bisa diam tanpa melakukan apapun karena ia ingin memberikan ruang untuk Zira melepaskan semua yang dirasakannya.


Jika ada yang mengatakan bahwa Leo itu tidak peduli dan tidak mempunyai perasaan, kalian salah. Nyatanya, Leo juga menderita ketika melihat Zira dalam keadaan terpuruk dan Leo juga merasa sakit ketika melihat air mata mengalir di wajah cantik gadis itu.


Namun, Leo sadar bahwa dirinya tidak lebih dari sekedar asisten pribadi keluarga sehingga ia tidak bisa berlaku seperti Andra dan Zero. Leo juga tidak mau jika dirinya terlalu jauh seperti menasehati Zira bahkan melakukan hal yang di luar batas antara paman dan keponakan. Leo benar-benar menganggap Zira sebagai keponakannya saja untuk sekarang. Tidak tau kalau nanti.


*****


"Zira!" teriak Intan, Maudy, dan Yesika ketika melihat Zira yang baru saja masuk ke dalam ruang kelas mereka.


Memang, Zira sudah beberapa hari tidak masuk sekolah dengan alasan sakit sehingga para sahabatnya baru melihat dirinya hari ini.


"Hei, apa yang terjadi?!"


"Kami pergi ke rumah mu tapi kamu di rawat di rumah sakit jadi kami nggak bisa menjenguk mu karena katanya kau di rawat di ruangan yang dipenuhi oleh pengawal."


"Intan benar, kami bahkan nggak tau keadaan mu selama ini. Kau sakit apa?"


Zira terkekeh pelan mendengar beberapa pertanyaan dari temannya yang seolah tidak memberikan izin padanya untuk sekedar menjawab.


"Zir, kami benar-benar khawatir terlebih ketika Maudy bertanya pada Kak Gibran tentangmu."


Deg.


Jantung Zira berdetak lebih cepat ketika mendengar nama Gibran setelah sekian lama.


Pikirannya kembali penuh dan kepalanya benar-benar berisik. Entah kenapa dadanya begitu sakit bahkan hanya karena nama Gibran. Zira tidak kuat untuk menahannya hingga detik berikutnya ia ambruk.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2