
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Matahari pagi kembali menampakkan dirinya namun tidak membuat pasangan suami istri yang sedang terlelap itu terbangun.
Pagi ini entah kenapa Arra masih tertidur dengan nyenyak padahal biasanya jam-jam seperti ini sudah rawan dengan semua ocehan paginya.
Andra menggeliat pelan seraya merasakan bahwa sang istri masih berada disebelahnya membuat Andra terbangun seketika.
Ia tersenyum tipis melihat wajah manis Arra yang masih tertidur lelap membuatnya perlahan mengelus perut sang istri yang mulai membuncit.
"Hei, selamat pagi adek. Mami sedikit terlambat bangun ya, Nak? Mami kelelahan karena mencari keperluan untuk adek" ucap Andra seraya tangannya bergerak mengelus perut sang istri.
Perlahan, tangan Andra bergerak mengelus wajah Arra. "Selamat pagi cantiknya Mas."
Cup.
Kecupan singkat mendarat di kening Arra.
Entah kenapa wanita itu bahkan tidak menggeliat sedikit pun padahal biasanya ia sangat sensitif terhadap sentuhan. Hal itu tentu saja menjadi kesempatan untuk Andra agar bisa menikmati wajah istrinya yang masih terlelap.
"Dia benar-benar cantik sekali. Ah, aku heran mengapa dia mau menerima ku? Ya aku tau bahwa pesona ku tidak bisa membuat para hawa berkutik."
Arra, selamatkan dirimu. Dihadapan mu sedang ada manusia super pede.
"Aku benar-benar bersyukur memilikinya. Aku berjanji akan menjaga mu dan keluarga kita."
Tak pernah berhenti untuk Andra mengucap syukur kepada Sang Pencipta atas kejutan indah yang diberikan kepadanya. Dengan pertemuan yang tidak disengaja antara anaknya dengan gadis SMU hingga berakhir menjadi istrinya sekarang. Dalam hatinya, Andra berjanji akan selalu menjaga dan melindungi Arra. Gadis kecil yang bahkan menyerahkan masa mudanya dan masa depannya untuk hidup bersama Andra. Disaat gadis seumurannya sedang menempuh pendidikan, Arra bahkan memilih untuk melayani keluarganya. Betapa mulia sekali pekerjaan yang ia lakukan.
"Mas?!"
Arra terkejut melihat wajah Andra yang sedang menatapnya. Jarak diantara keduanya bahkan sangat minim.
Melihat sang istri yang sudah bangun, degan segera bayi besar itu memeluk pujaan hatinya. Gadis kecil yang selalu membuatnya jatuh cinta setiap saat.
"Hei, ada apa?!" tanya Arra sedikit panik.
Andra terkekeh pelan. "Sayang, setiap pagi itu wajib ciuman dan pelukan."
Ah, akhirnya Arra mengerti bahwa suaminya ini sedang dalam mode bayi. Dengan segera tangan Arra bergerak untuk mengelus pucuk kepala sang suami.
"Maaf ya Arra terlambat bangun" ucap Arra memulai obrolan pagi.
Andra tersenyum tipis. Sentuhan Arra benar-benar selalu memabukkannya. "Mami pasti kelelahan karena mencari keperluan adek. Aku sudah mengatakannya kepada adek tadi."
Sial, dia benar-benar menggemaskan.-Arra.
Arra masih malu ketika Andra menggunakan kata "aku dan Mami" membuatnya benar-benar lucu seperti Zero. Bagaimana jika ia memakan suaminya pagi ini?"
__ADS_1
"Hei, jangan gemas begitu" protes Arra yang membuat Andra mendongak.
"Why, Mami?" tanya Andra dengan wajah herannya.
"Mas, stop. Arra bisa gila lama-lama melhat Mas Andra dalam mode bayi" ucap Arra yang membuat suaminya tertawa seketika.
"Andai saja karyawan Mas tau bahwa Presdir mereka ini sangat manja."
"Mami, itu nggak salah, aku kan manja cuman sama Mami" ucap Andra yang kembali memeluk Arra dengan erat.
"Mas.. Arra izin pingsan ya.."
"Hei, kenapa Sayang?!" tanya Andra panik.
Arra hanya diam namun senyum tipis terukir di wajahnya.
"Sayang?! Hei, jangan bikin Mas panik."
"Selesai. Kenapa? Kan Arra sudah bilang mau pingsan dulu" ucap Arra heran.
"Bukan seperti itu, Sayang."
"Makanya jangan terlalu gemas, Arra kan nggak kuat. Tolong kasihani hati saya yang lemah ini, Tuan."
****. Iman Andra benar-benar goyah sekarang.
"Mau main satu ronde?"
"HEH!"
"Please, Mami.. ya..? ya..?"
Jika boleh berteriak, Arra sangat ingin berteriak sekarang. Ah, ia salah terjebak bersama Om Pedo di pagi hari.
Dan begitulah pagi ini terlewati dengan janji Andra yang hanya satu ronde.. hanya (hampir dua jam belum keluar kamar).
*****
Leo beberapa kali mendengus kesal seraya menatap ke arah lantai dua dimana kamar utama berada. Ia benar-benar kesal, pasalnya saat ini mereka ada janji untuk berkunjung ke salah satu proyek perusahaan yang ada di pinggiran kota namun tidak ada tanda-tanda keluarnya si Presdir dari dalam kamar.
Dengan segera, tangan Leo mengambil ponsel dan bersiap menelepon seseorang.
"Silahkan dilanjutkan. Pak Andra memundurkan jadwal dua jam kedepan."
Sepertinya asisten ini tau bahwa ada perang pagi di lapangan.
"Untel" teriak Zero yang sudah rapi.
Zero berlari menuruni tangga menghampiri Leo yang sendirian di ruang keluarga.
"Hei, pagi-pagi sudah rapi saja. Apa Mr.Eldo akan datang lagi?" tebak Leo tepat sasaran.
Zero mengangguk cepat. "Untel tebak, hali ini pelajalan apa?"
__ADS_1
Leo seolah berpikir keras. "Bahasa Inggris?" tebaknya yang lagi-lagi tepat sasaran.
Tentu saja, pelajaran apa lagi yang bisa membuat Zero sangat bersemangat kalau bukan bahasa Inggris. Dalam diamnya, Leo sedikit heran dengan keponakannya yang genius ini.
"Dimana Mami dan Papi?" tanya Leo mengalihkan pembicaraan.
Zero menggeleng pelan. "Mungkin Papi cedang manja. Kata Mami, kalau Mami lama kelual pasti Papi cedang manja" jawab Zero dengan santainya.
"Untel.. Untel.. Zelo kemalen beli tempat tidul adik tau" ucap Zero dalam mode aktif.
Leo tersenyum tipis karena tau bahwa setelah ini akan ada banyak cerita random yang ia dengar dari mulut kecil keponakannya.
"Tempat tidul nnna bagus tapi di kamal Mami Papi jadi Untel da bica iyat" ucap Zero lagi.
"Oh ya? Lalu Zero ada membeli apa lagi untuk adik?"
"Keleta, tempat tidul yang bica dibawa, gendongan, banyak deh."
"Loh? Pakaian?"
"Untel, adik kan da tau cuka tobot atau balbie" gerutu Zero yang membuat Leo menepuk keningnya.
"Oh iya Uncle lupa."
"Ishh dacal pikun cepelti Untel Andle. Untel Andle pelnah malah-malah cama Zelo kalena kata nna Zelo cembunyi kacamata baca nna padahal ada di kepala."
Leo tertawa mengingat hal itu karena memang ia ada disitu saat kejadian Andre marah-marah dengan Zero. Ia ingat sekali bagaimana Zero kembali memarahinya karena pikun. Hahaha lucu sekali.
"Untel?"
"Ya?"
"Onty mana?"
Hei, Zero..
Leo menatap Zero dengan tatapan aneh. Siapa yang mengajari bocah ini bertanya hal seperti itu? Bahkan ini pertama kalinya Zero menanyakan keberadaan pasangan Leo.
"Siapa yang mengajari Zero bertanya seperti itu?"
"Untel Andle. Kata Untel, Zelo halus cali Onty buat Untel Leo."
Sialan, Andre.-Leo.
"Untel, thenapa da membuat adik?!"
Uhuk uhuk uhuk
*
*
*
__ADS_1