
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Gibran keluar dari rumah keluarga Dirgantara dengan raut wajah yang tidak dapat ditebak. Entah apa yang membuat raut wajahnya tiba-tiba tidak jelas seperti itu. Apakah ia gagal mendapatkan golden tiket dari keluarga Dirgantara? Atau apakah pertanyaan yang diajukan Andra dan Leo selanjutnya tidak dapat ia jawab dengan baik?
Ting.
Selamat siang, calon pacar.-Gibran.
Sudah bisa ditebak bukan? Tentu saja Gibran berhasil menjadi lelaki pertama yang mendapatkan golden tiket dari keluarga Dirgantara untuk memantapkan hatinya memilih anak pertama perempuan dan cucu pertama perempuan yang sangat disayangi oleh semua orang tersebut.
*****
Saat ini Zira sedang berdoa sepenuhnya agar kali ini akan ada satu nama yang berhasil merobohkan benteng yang sudah dibangun tinggi oleh keluarganya untuknya.
Sebenarnya, Zira bukannya tidak suka. Hanya saja, ia sangat kesal jika teman lelakinya bahkan tidak bisa berteman dengannya ketika mereka tidak bisa mendapat semua pertanyaan yang dilontarkan dengan benar.
Sejak pertama kali surat dengan amplop berwarna biru mint tersebut tiba di rumahnya, Zira sudah menyukai isinya. Isi surat yang selalu terngiang-ngiang di pikirannya karena berbeda dari surat-surat yang pernah ia dapatkan sebelumnya.
Disaat orang lain berusaha menyatakan cinta padanya dengan berbagai kalimat yang indah, lain halnya dengan lelaki berinisial A tersebut. Dalam surat sebelumnya, ia tidak pernah mengatakan bahwa dirinya menyukai Zira. Lalu, apa isi dari suratnya? Gibran hanya menuliskan beberapa perhatian kecil karena kesalahan yang dilakukan Zira selama satu bulan penuh. Seperti pada surat pertama yang ditulis Gibran untuknya.
Selamat pagi, Nona. Jangan lupa untuk selalu membawa ikat rambut cadangan di saku seragam agar saat makan di kantin tidak kesusahan dengan rambut yang terurai. Have a nice day!
Hanya itu saja, namun membuat Zira merasa bahwa dirinya sedang diperhatikan dengan sangat oleh seseorang. Terlebih Gibran menulis surat tersebut dengan bahasa formal yang menjadi salah satu wish list Zira untuk bisa berkomunikasi dengan bahasa formal dengan orang yang ia suka.
Saat sedang melamun, Zira terkejut mendengar notifikasi pesan di ponselnya. Pikirannya sudah berpikir sangat jauh entah apa. Namun, sepertinya ia berpikir bahwa Gibran tidak berhasil.
"Kok dia masih berani chat aku sih?" gumam Zira harap-harap cemas.
What?!-Zira.
__ADS_1
Hanya dengan melihat raut wajahnya sekarang, sudah bisa dipastikan bahwa Zira benar-benar terkejut. Bagaimana tidak? Baru saja ia berpikir bahwa Gibran akan menjadi orang kesekian yang tidak bisa mendapatkan izin dari keluarganya, namun ternyata lelaki itu malah memanggilnya "calon pacar".
Apa ketikan anda sopan, Tuan Gibran?!-Zira.
Gibran yang saat itu baru saja masuk ke dalam mobilnya pun tersenyum tipis melihat balasan pesan dari Zira.
Kak Gibran, jangan kejar aku. Aku nggak bisa terima siapapun yang udah ditolak Papi dan Abang.-Zira.
Maaf.-Zira.
Pesan Zira membuat Gibran mengerutkan keningnya heran.
"Dia belum tau kalau aku diberikan izin?" gumam Gibran pelan.
Tangan lelaki itu bergerak cepat menari-nari diatas layar ponsel yang sedang menyala.
*Hei, aku dapat golden tiket. *ceritanya sedang pamer.-Gibran*.
Hah?! Kak Gibran serius?! Kalau nggak, garing sih lawakannya.-Zira.
Nggak perlu pakai nama lengkap.-Zira.
Takut, ya? Kata Om Andra, kalau udah dipanggil dengan nama lengkap berarti m kesalahan kamu itu sangat fatal.-Gibran.
Gadis itu terkekeh pelan membaca pesan dari Gibran.
Om Andra?! Hihi lucu juga.-Zira.
*****
Mari kita berkenalan pada sosok Gibran.
Gibran Agaskara adalah seorang anak tunggal dari keluarga yang berkecukupan namun dirinya selalu merasa sangat kurang. Apa yang salah? Ya, keluarga.
Gibran adalah seorang anak yatim yang hidup bertahun-tahun tanpa pernah melihat langsung sosok wanita yang melahirkannya di dunia ini. Sejak kecil, ia belum pernah merasakan bagaimana rasanya disayang oleh seorang ibu. Maka dari itu, saat Arra bersikap baik padanya, ada getar dalam hati Gibran yang sangat merindukan sosok wanita yang melahirkannya tersebut.
__ADS_1
Gibran tumbuh menjadi remaja idaman semua orang dengan prestasi dan bakat juga wajah tampan yang dimilikinya. Namun, ia tidak pernah dekat dengan gadis mana pun.
Dengan faktor lingkungan dan keluarga yang memaksanya tumbuh sendiri, cukup sulit untuk Gibran menerima orang baru di hidupnya. Ia akan memberikan benteng yang sangat tinggi dan mengusir orang yang bahkan belum sempat masuk di hidupnya. Gibran tidak akan menerima orang lain yang ingin masuk dengan sukarela. Ia terlalu takut menyakiti orang.
Saat tumbuh menjadi remaja yang dingin dan acuh dengan kehidupan keluarga yang berantakan, lelaki itu malah bertemu dengan sosok galak dan ceria yang hanya dimiliki oleh seorang Zira Leorra Dirgantara.
Saat mengetahui nama gadis itu, Gibran segera mundur karena ia sadar dirinya tidak akan pantas bersanding dengan gadis dari keluarga yang harmonis.
Siapa yang tidak mengenal keluarga Dirgantara? Bahkan semua warga kota sepertinya mengenal keluarga Andra dengan baik. Keluarga yang sangat harmonis dimana pun dan kapan pun. Keluarga yang tidak pernah tersorot kasus tidak senonoh yang bisa merusak citra keluarga dan perusahaan.
Tak jarang juga keluarga tersebut mempunyai banyak musuh, karena tentu saja akan ada orang yang tidak menyukai mereka.
*****
Zira terdiam mendengar cerita Arra. Wanita itu baru saja selesai menceritakan apa yang terjadi di lantai bawah tadi pagi. Tentang Gibran yang dengan berani mengutarakan keinginannya, tentang Zero yang melontarkan pertanyaan menjebak, dan tentang Andra yang akhirnya memberikan izin untuk Gibran mendekati Zira.
Bukan tanpa alasan gadis itu terdiam, ia tidak tau jika Gibran benar-benar diberikan kesempatan untuk mengetuk pintu hatinya. Pintu hati yang sepertinya sudah berkarat karena tidak pernah ada yang bertamu dan menetap didalamnya.
"Mami.. Zira belum kenal baik dengan Kak Gibran" ucap Zira pelan seolah mengutarakan perasaannya sekarang.
Arra tersenyum tipis. Ia mengerti kenapa anaknya terlihat cukup khawatir. "Perlahan-lahan, Sayang. Karena semuanya itu pasti butuh waktu, nggak ada yang langsung instan tanpa proses. Mami mengerti kenapa anak Mami yang satu ini khawatir, jangan terlalu dijadikan beban pikiran, jalani saja."
"Kak Gibran itu di sekolah galak tau."
"Ya bagus dong, galak sama galak" ucap Arra tertawa.
Mendengar dirinya disebut galak, Zira mendengus kesal.
"Namanya juga banyak gen dari Papi."
*
*
*
__ADS_1