Cewek ABG & Duda Keren

Cewek ABG & Duda Keren
S2 : Menambah Luka


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


Akhirnya, pintu ruang UGD terbuka dan Galuh keluar dengan wajah yang sulit diartikan.


"Bagaimana dengan anakku?!"


"Kak, apa anakku baik-baik saja?"


"Apa yang terjadi pada Zira?"


Semua orang bertanya-tanya bagaimana keadaan Zira yang membuat Galuh cukup lama berada di dalam sana.


Galuh menghela nafas berat. "Untung saja lukanya tidak terlalu dalam dan tidak mengenai urat nadi nya, namun tetap saja darah yang keluar cukup banyak sehingga membuat Zira pingsan. Setalah ini Zira akan dipindahkan ke ruang rawat inap sampai benar-benar sembuh total. Apa bisa berbicara berdua dengan kedua orangtuanya?"


Andra mengangguk. "Zero, bisa temani adikmu sampai ke ruangannya?"


"Baik, Pi."


Setelah itu, Galuh membawa Andra dan Arra ke ruangannya.


"Apa yang terjadi?" tanya Galuh saat mereka sudah sampai karena memang Galuh tidak mengetahui apa yang terjadi pada keponakannya tersebut.


"Zira melukai dirinya sendiri karena trauma berat" ucap Andra pelan.


Tidak perlu dijelaskan lebih lanjut pun Galuh mengerti, terlebih ketika dirinya melihat Arra yang hanya menunduk sejak tadi seolah sakit mendengar ucapan Andra.


"Jika mau, bawakan saja ia ke orang yang benar-benar mengerti pada semua yang dirasakannya. Zira pasti sembuh."


Andra mengangguk pelan karena ia sendiri sudah memikirkan hal itu. "Aku akan membicarakannya nanti karena memang aku sendiri baru mengetahui hal itu malam kemarin. Zira benar-benar menutupi semuanya."


Galuh mengerti posisi Zira juga pasti sakit ketika ia harus terbuka tentang trauma yang ia rasakan. Mungkin untuk membahasnya akan membuka lagi luka itu sehingga Zira memilih untuk diam dan memendamnya sendiri.

__ADS_1


*****


Saat infusnya sudah habis, Gibran dibantu oleh seorang perawat melepaskan infus dan pergi ke ruangan dokter yang sudah merawatnya tadi.


Tok tok tok


"Silahkan masuk."


Gibran perlahan masuk, entah kenapa saat ia tiba di ruangan tersebut jantungnya berdetak sangat kencang seolah ia tau bahwa kesehatannya sedang tidak baik-baik saja.


"Gibran, silahkan duduk" ucap dokter tersebut ramah.


Gibran pun hanya duduk tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Dari identitas yang kami dapatkan di dompet, sepertinya Gibran sudah menjadi siswa akhir, benar?" Gibran mengangguk.


"Apa akhir-akhir ini Gibran merasakan sakit kepala yang hebat?" Lagi. Gibran mengangguk.


"Gibran tidak mempunyai orang terdekat yang bisa dijadikan wali?" Lagi-lagi Gibran hanya mengangguk tanpa mengeluarkan suara.


Dokter tersebut terdiam sebentar lalu kembali membuka suara. "Sebenarnya ini perlu dibicarakan dengan wali pasien yang bersangkutan."


"Maaf jika harus mengatakan ini, Gibran menderita penyakit tumor otak yang cukup parah."


Deg.


Gibran benar-benar menyangka bahwa sakit kepala yang selalu ia rasakan adalah gejala dari tumor yang ada di otaknya. Apakah penyakitnya benar-benar serius? Apakah Gibran masih bisa sembuh? Atau apakah sudah saatnya untuk Gibran pergi meninggalkan dunia? Begitu banyak pertanyaan yang hinggap di pikirannya membuat Gibran hanya diam tanpa merespon apa-apa.


"Tumor otak terjadi karena tumbuhnya jaringan abnormal di otak. Selain sakit kepala terus menerus, penderita akan merasa mudah lelah, sulit menggerakkan anggota tubuh, sering mual, susah berbicara, atau bahkan bisa mati rasa pada beberapa bagian tubuh tertentu. Dari beberapa gejala, mungkin sudah pernah atau sering dirasakan oleh Gibran. Setelah diperiksa lebih lanjut, tumor yang tumbuh di otak Gibran terlihat sudah cukup serius sehingga akan sulit disembuhkan. Namun, ada beberapa penanganan yang bisa dilakukan untuk memperlambat pertumbuhan sel kanker."


"Dok, saya tidak bisa sembuh, ya?" tanya Gibran dengan suara bergetar menahan tangis.


Dokter tersebut menghela nafas panjang. "Kita bisa membantu proses penyembuhan dengan memperlambat pertumbuhan sel yang ada."


"Kira-kira berapa lama lagi sisa hidup saya?"


Jujur saja, Gibran sangat takut mendengar jawaban dokter tersebut karena ia sangat belum siap dengan segala hal yang akan terjadi. Baru saja rasanya ia mendapat kebahagiaan dengan bertemu gadis yang sekarang sudah menjadi kekasihnya. Baru saja rasanya ia merasakan kehangatan keluarga yang diberikan oleh keluarga Dirgantara padanya. Dan, baru saja rasanya Gibran bermimpi akan bahagia selalu bersama sang kekasih.

__ADS_1


Bahkan, semesta saja tidak berpihak padanya. Merebut paksa nyawa dengan segala ekspektasi indah dan mimpi indah yang dimiliki oleh seorang lelaki yang sejak kecil tidak mendapatkan kasih sayang dari kedua orangtuanya.


Saat itu, Gibran hanya bisa berjalan gontai setelah keluar dari ruangan sang dokter. Kepalanya benar-benar dipenuhi oleh kebisingan dan pertanyaan negatif yang muncul. Bagaimana ia akan melanjutkan hidupnya setelah ini?


*****


Gib👿


By.. maaf..-Gibran.


Aku nggak becus, aku nggak bisa jadi pacar yang baik. Aku aja nggak tau apa-apa tentangmu. Aku benar-benar nggak tau tentang apa yang dilakukan bajingan itu padamu. Aku benar-benar minta maaf.--Gibran.


By, tolong.. tolong maafkan aku..-Gibran.


Arra terdiam menatap layar ponsel Zira karena pesan dari Gibran bisa terlihat dari notifikasi sehingga Arra bisa membaca semuanya.


Entah apa yang terjadi pada semesta kali ini sehingga seolah tidak mengizinkan mereka untuk bahagia. Arra bahkan merasa semua ini benar-benar sudah sangat keterlaluan untuk kedua anak muda yang saling mencintai.


"Mami? Kenapa bengong?" tanya Zero yang saat itu baru saja kembali dari kantin membeli makanan untuk Arra.


"Ah, Mami hanya sedang berpikir" ucap Arra tersenyum tipis.


"Apa yang terjadi pada hubungan Gibran dan Zira?" tanya Zero setelah ia mendudukkan dirinya di sebelah Arra.


Arra terdiam. Ia sendiri pun tidak tau pasti bagaimana jadinya hubungan percintaan anaknya ketika Zira bangun. Apakah gadis itu akan membenci Gibran karena baru mengetahui bahwa lelaki yang pernah ingin melecehkannya adalah kakak kandung dari kekasihnya? Atau apakah Zira akan menutup mata dengan hubungan darah mereka dan tetap memilih Gibran?


"Kalau Zero yang ada di posisi Zira, apa yang akan anak Mami lakukan?" tanya Arra yang membuat Zero berpikir keras.


"Pertama, setiap keputusan pasti ada resiko yang akan dihadapi nantinya dan Zero nggak akan gegabah untuk memilih. Namun, hal pertama yang akan Zero lakukan adalah menyembuhkan hati dan mencoba berdamai dengan diri sendiri. Pilihan apapun yang akan dipilih oleh Zira akan terasa sangat menyakitkan ketika Zira sendiri belum bisa berdamai dengan dirinya yang tanpa sadar bukannya menyembuhkan tapi malah menambah luka."


Arra mengangguk pelan seolah setuju dengan pendapat sang anak.


Benar, kan? Kita tidak akan bisa menghindar dari luka ketika kita saja tidak mau berdamai dengan diri sendiri. Lalu, bagaimana bisa kita berharap sebuah kebahagiaan ketika kita saja tidak mau memaafkan diri sendiri?


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2