Cewek ABG & Duda Keren

Cewek ABG & Duda Keren
Bayi Kita


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


Mobil pun melaju menyusuri jalanan malam menuju ke rumah sakit dengan kecepatan diatas rata-rata. Untung saja bukan Andra yang mengemudi, jika memang ia maka akan mengemudi dengan ugal-ugalan terlebih ketika mendengar istrinya menjerit kesakitan.


"Cepatlah!" teriak Andra dengan wajah emosi karena merasa sangat lama di jalanan.


Arra yang melihat suaminya sedang marah pun perlahan menggenggam tangan sang suami. "Mas Andra.. jangan marah-marah, kan mau ketemu adik.."


"Maaf, Sayang" ucap Andra seraya mencium pucuk kepala sang istri.


Tak lama kemudian, mobil hitam pun sampai tepat di depan gedung rumah sakit dimana sudah ada beberapa orang yang menunggu kedatangan Arra dan sudah menyiapkan ranjang rumah sakit untuknya.


Andra segera menggendong istrinya dan membaringkannya di ranjang rumah sakit. Tim medis pun dengan cepat bergerak mendorong ranjang tersebut agar segera sampai di ruangan Dokter Maureen.


"Mami thenapa, Untel?" tanya Zero pelan kepada Leo karena ternyata asisten itu sudah menunggu di rumah sakit semenjak dikabari oleh Ibu Leli.


Leo menggendong Zero dan membawanya menunggu di depan ruangan Dokter Maureen. "Adik mau keluar bertemu Zero."


"Apa Mami cudah mau di belah?!"


Pertanyaan Zero membuat Leo terdiam.


"Untel jawab! Apa Mami mau di belah?!"


"Zero mau bertemu adik?" tanya Leo yang membuat Zero mengangguk pelan.


"Zelo mau tapi da dennan Mami cakit."


*****


Ruangan Dokter Maureen


Suasana di dalam ruangan benar-benar menegangkan terlebih ketika semua orang melihat wajah panik Andra yang sejak tadi ketakutan mendengar istrinya yang akan melahirkan.


"Sudah pembukaan 3, Nona" ucap Dokter Maureen tersenyum tipis.

__ADS_1


Andra mengerutkan keningnya heran. "Apa setiap pembukaan selalu sakit? Sampai kapan istri saya menunggu?"


"Pembukaan terkadang selalu dirasakan sakit dengan perut yang sering terasa mulas dan kram. Biasanya, pembukaan hingga yang ke 10 lalu bisa dipastikan bahwa bayi sudah bisa keluar."


Dokter Maureen menjelaskan dengan sangat sabar kepada Andra yang sejak tadi selalu bertanya mengapa istrinya merasa sakit.


*****


Semua orang sudah berkumpul di depan ruangan Dokter Maureen dimana Leo sudah mengabari semuanya bahwa Arra akan segera melahirkan. Hal itu membuat semua orang terkejut karena tiba-tiba sekali bahkan Dokter Maureen pernah mengatakan bahwa hari perkiraan lahir bayi Arra sekitar satu sampai dua minggu lagi.


"Sudah sampai pembukaan berapa?" tanya Ibu Dian saat ia dan Ibu Rina baru saja sampai di rumah sakit.


Leo menggeleng pelan karena memang tidak mengerti tentang hal itu dan ia juga belum dikabari oleh tim medis di dalam.


Ibu Dian pun mengajak Ibu Rina juga Nyonya Besar untuk masuk ke dalam melihat keadaan Arra.


Klek


Pintu ruangan terbuka dan terlihatlah Arra yang sedang tiduran di ranjang rumah sakit sedangkan Andra sedang duduk di sebelahnya seraya mengelus pucuk kepala sang istri.


"Sudah pembukaan berapa?" tanya Nyonya Besar kepada Dokter Maureen.


*****


Jam sudah menunjukkan pukul 22:34 WIB dimana tiba-tiba Arra keluar dari ruangan dengan dituntun oleh Andra membuat semua orang terkejut karenanya.


"Kenapa keluar?!" tanya Andre dengan wajah terkejut.


"Memang seperti itu agar memperlancar pembukaan. Ibu hamil disarankan untuk berjalan-jalan" ucap Ketua menjawab pertanyaan sang anak.


Melihat Arra yang keluar dari ruangan dengan perut yang masih buncit, Zero yang sedang duduk di pangkuan Leo pun segera berlari dan memeluk kaki Arra dengan sangat erat.


"Ada apa, Zero?! Mami harus berjalan-jalan" tegur Andra kepada sang anak.


"Mami, Zelo da mau ada adik kalau Mami halus cakit cepelti ini.." ucap Zero dengan air mata yang ternyata sudah berlinang.


Arra tersenyum tipis seraya mengelus pucuk kepala sang anak. Ia benar-benar menyayangi bocah itu terlepas dari bocah itu tidak ada hubungan darah dengannya. Zero benar-benar sudah mengisi ruang kosong di hati Arra sehingga membuat Arra sangat menyayanginya.


"Setelah adik keluar, bukankah Zero sudah berjanji mau mengantarkan Mami dan adik untuk membeli dress yang cantik?" tanya Arra yang membuat Zero mengangguk pelan.


"Sayang, Mami minta doa aja ya. Tolong doakan Mami dan adik agar semuanya baik dan lancar, doakan juga adik supaya cepat keluar dan bisa melihat Abang yang ganteng ini, okay?"

__ADS_1


"Mami, Zelo janji da minta adik agi.. Kalena Zelo, Mami jadi cakit.."


Semua orang yang mendengar ucapan Zero terdiam. Bocah sepertinya saja mengerti bagaimana sakitnya Arra dengan usia yang masih sangat muda harus bertaruh nyawa untuk melahirkan anaknya.


Sayang, maaf..-Andra.


*****


Berjam-jam mereka menunggu di depan ruangan Dokter Maureen bahkan jam sudah menunjukkan pukul 23:32 WIB namun suara bayi belum juga terdengar hingga membuat banyak orang gelisah.


Semua orang yang berada di sana selalu berdoa dan meminta kepada Tuhan agar proses persalinan Arra lancar dan agar ibu juga bayi selamat.


Suasana di dalam ruangan begitu menegangkan terlebih ketika Dokter Maureen mengatakan bahwa rambut si bayi sudah terlihat dan sudah waktunya ia keluar. Andra berkali-kali mengelus pucuk kepala sang istri dan berusaha untuk menenangkannya.


"Nona, bisa didorong sekarang" ucap Dokter Maureen memberi perintah.


Arra mulai menarik nafas dan mendorong namun rasanya sangat sakit. Rasa sakit yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Arra benar-benar ingin menangis sekarang namun ia harus tetap sadar karena bayinya ingin segera melihat dunia.


"Nona, ayo sebentar lagi."


"Sayang, ayo si adik nggak sabar bertemu Mami cantik nya. Mas tau istri Mas pasti bisa."


Andra berkali-kali mengucapkan kalimat-kalimat yang bisa menyemangati sang istri. Andra sadar ternyata melahirkan itu sangat beresiko. Melihat istrinya yang kesakitan sekarang ada sedikit penyesalan dalam lubuk hati Andra karena ia menghamili wanita kecilnya.


"Sayang, ayo sedikit lagi. Bertahanlah sebentar untuk anak kita."


oekkkk... ooeeekkkkk.. oooeekkkkkkkk..


Akhirnya, setelah menunggu beberapa jam, semua orang bisa mendengar suara tangisan itu. Semuanya segera mengucapkan syukur kepada Sang Pencipta karena akhirnya setelah melewati banyak hal, Arra bisa melahirkan secara normal.


Bayi kecil yang digendong oleh Dokter Maureen segera diambil alih oleh perawat agar dimandikan dahulu sebelum diserahkan kepada Arra.


Andra mencium pucuk kepala istrinya berkali-kali seraya menghapus jejak keringat dan air mata.


"Terima kasih, Sayang. Terima kasih sudah mau melahirkan anak kita."


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2