
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
****
Gibran benar-benar menepati janjinya. Ia sudah duduk dengan sopan dihadapan Andra, Arra, Zero, bahkan Leo yang akan menginterogasi kedatangannya hari ini.
"Ini siapa lagi?" tanya Zero mengerutkan keningnya heran.
"Hei, jangan seperti itu dengan teman adikmu. Nak Gibran sudah lama berteman dengan Zira?"
Memang, hanya Arra yang waras diantara semuanya. Untung saja ada Arra saat itu, jika tidak maka tidak akan ada yang tau kalau Gibran bisa saja menahan pipis menghadapi suasana yang mencekam.
"Ada urusan apa berani ke rumah saya?"
Oke, mode posesif Papi dimulai sekarang.
"Sebelumnya, saya mohon izin untuk memperkenalkan diri saya terlebih dahulu, Tuan dan Nyonya Dirgantara. Saya Gibran Agaskara, kakak kelas Zira Leorra Dirgantara. Sejak dua tahun yang lalu saya menaruh perasaan terhadap anak Tuan dan Nyonya namun saya tidak berani mendekatinya karena saya tau bahwa Zira adalah gadis yang sangat spesial dan saya sadar diri bahwa saya tidak bisa bersanding dengan gadis sepertinya. Saya berusaha menganggap bahwa perasaan saya hanya perasaan suka sebentar namun ternyata saya akan selalu berusaha mencari kesempatan hanya untuk bertemu dengan anak gadis Tuan dan Nyonya lalu memberanikan diri mengirimkan surat setiap bulannya untuk Zira.
Beberapa hari yang lalu saya mengirimkan surat terakhir kepadanya dengan menyatakan perasaan saya yang sebenarnya, dan malam kemarin saat bertemu di pesta temannya, saya bertanya akan jawaban dari pertanyaan yang ada di surat itu. Zira menolak saya dengan sangat sopan, saya juga sebenernya sudah mempersiapkan diri ditolak olehnya karena saya tau Zira bukanlah tipe orang yang mudah untuk jatuh cinta, namun disaat Zira melontarkan lelucon dengan meminta saya menghadapi Tuan Andra dan Tuan Zero, saya merasa bahwa saya mempunyai kesempatan untuk membuktikan semua perasaan saya, jadi saya memberanikan diri untuk kemari."
Gibran berbicara panjang lebar tanpa rasa takut. Ia mengatakan semuanya dengan jelas hingga membuat Arra tersenyum tipis karena lelaki itu benar-benar sopan.
Andra dan Zero saja dibuat diam olehnya. Sebelumnya tidak ada yang sangat sopan seperti itu bahkan memanggil mereka dengan panggilan Tuan. Sepertinya, Gibran akan diberikan piagam penghargaan karena naik satu tangga.
"Wow, kau tidak lelah berbicara panjang lebar?"
Pertanyaan Zero membuat Gibran mengerutkan keningnya heran. Ia kira dirinya akan dimarahi habis-habisan karena berani-beraninya menyukai sosok Zira, namun malah Zero melontarkan pertanyaan lucu kepadanya.
Plak
__ADS_1
"Hei, orang sedang serius" gerutu Andra dengan kesal.
"Gibran ya?" Gibran mengangguk.
Ia sudah mempersiapkan diri dan hati untuk mendengar ucapan yang keluar dari mulut Andra.
"Minum dulu."
Hah?-Gibran.
Lelaki itu benar-benar dibuat melongo. Ia bahkan sudah mengira bahwa Andra akan menjawab pertanyaan darinya, namun ia malah diminta untuk minum.
"Hei, jangan heran seperti itu. Saya meminta mu untuk minum karena takut tenggorokan mu kering" ucap Andra tertawa karena melihat raut wajah heran Gibran.
"Mas, jangan usil deh. Nak Gibran, maaf ya ini Papi dan Abang nya Zira memang seperti itu" ucap Arra merasa tidak enak.
Gibran mengangguk sopan. Ia bahkan menuruti ucapan Andra dengan minum minuman yang sudah disediakan olehnya. Lelaki itu benar-benar sopan, bahkan saat minum pun ia menghadap kearah lain.
"Sayang, dia sopan sekali" ucap Arra senang sedangkan Andra hanya tersenyum tipis.
"O, ingin menanyakan sesuatu?"
"Saya bukan Papi Zira" jawab Leo singkat.
"Ku doakan kau semakin tua." Andra benar-benar kesal melihat Leo yang semakin hari semakin menyebalkan.
"Oke kembali ke topik kita hari ini, jadi apa kau sudah yakin dengan perasaan mu dengan Zira?" tanya Andra yang membuat Gibran mengangguk setuju.
"Kau juga tau kalau Zira bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta." Zero menanggapi yang membuat Gibran kembali mengangguk.
"Jika ku berikan waktu untuk mu membuat Zira jatuh cinta selama satu bulan penuh, bagaimana?" Pertanyaan Zero membuat semua orang terkejut mendengarnya.
Gibran berdehem pelan sebelum membuka suara. "Izinkan saya menjawab pertanyaan dari Tuan Zero. Sebelumnya saya ingin meminta maaf, sepertinya saya tidak bisa. Bukan karena saya tidak mau berusaha untuk membuat Zira mencintai saya, namun saya tidak bisa menuruti ucapan Tuan Zero dengan membuat Zira jatuh cinta hanya dalam waktu satu bulan penuh. Jatuh cinta tidak bisa diukur hingga berapa lama, saya bahkan tidak mengetahui pasti berapa lama saya mulai mencintai Zira."
__ADS_1
Bukannya marah karena ide nya ditolak, Zero malah bertepuk tangan kegirangan membuat semua orang menatapnya dengan heran.
"Gibran, buat Zira jatuh cinta dan kita akan bermain game sampai bosan" ucap Zero tertawa.
Wow, sepertinya Gibran akan diberikan golden tiket dari Zero.
"Kau setuju dengannya?" tanya Andra yang membuat Zero mengangguk cepat.
"Itu pertanyaan menjebak yang biasanya dijawab oleh orang-orang yang percaya diri seolah tau kapan perasaan cinta harusnya hadir. Papi juga dengar kan apa yang dikatakan Gibran bahwa jatuh cinta itu nggak bisa diukur kapan datangnya."
Andra mengangguk setuju. Memang benar, jawaban Gibran cukup dewasa dan cukup untuk mendapatkan golden tiket dari Zero.
"Apa kesan pertama mu saat bertemu Zira?"
"Maaf, gadis galak dan menyebalkan.." jawab Gibran pelan.
Zero tertawa seketika mendengar jawaban Gibran. Hanya lelaki itu yang berani berbicara dengan sangat jujur dihadapan keluarga Dirgantara.
"Maaf, Tuan" ucap Gibran sopan.
"Apa ada sesuatu yang terjadi di saat pertama kalinya kalian bertemu?" tanya Arra disela-sela gelak tawanya.
Gibran mengangguk pelan. "Saya tidak sengaja menabrak Zira di koridor sekolah dan membuatnya memarahi saya habis-habisan padahal saya sudah meminta maaf. Karena melihat Zira badmood seharian, saya berinisiatif untuk memberikannya susu rasa strawberry dan meminta maaf kembali, namun Zira malah menangis dihadapan saya yang membuat orang-orang mengira saya lah penyebab Zira menangis. Ternyata, Zira menangisi sapi yang susunya dijadikan minuman.."
Ucapan Gibran mengundang gelak tawa semua orang. Tidak heran lagi jika hati Zira benar-benar lembut. Apakah kalian ingat saat ia dalam kandungan dan Arra menangis karena beef yang dimakan Leo? *Eps.88 Perkara Beef Teriyaki
"Dia menangis tapi susu nya habis, kan?" tebak Zero tepat sasaran.
"Karena saya dikira penyebab Zira menangis jadi saya yang balik marah padanya. Tapi saat ia bertanya bagaimana nasib anak-anak sapi yang susu ibunya diperas untuk dijadikan minuman membuat saya tidak bisa memarahi Zira lagi."
Hari ini Andra dan Zero banyak tertawa karena jawaban polos dari Gibran. Apa hari ini menjadi hari legendaris untuk keluarga Dirgantara? Apakah Gibran akan menjadi satu-satunya lelaki yang bisa mendapatkan golden tiket hanya dengan pertemuan pertama dengan keluarga Dirgantara?
*
__ADS_1
*
*