
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Hari-hari berikutnya Zero semakin akrab dan lengket dengan Arra sehingga gadis itu harus ekstra menangani Zero yang hampir setiap pagi melarangnya pergi ke sekolah. Terlebih Andra yang juga semakin hari semakin manja sekali terhadapnya seperti pagi ini saat Andra sedang berada di panti asuhan untuk menjemput Arra sekaligus mengantar Zero untuk tinggal di panti asuhan selama ia sedang di kantor
“Sayang, minta tolong pasang dasi Mas” ucap Andra yang membuat Zero langsung berlari mendekati Arra dan memeluknya erat
“Papi manja cekali padahal cudah tua” gerutu Zero dengan lucunya
“Papi manja sekali ya?” ucap Arra terkekeh
“Hu’um manja cekali padahal cudah tua dacal Andla Dilgantala”
“Astaga, anak siapa itu?” gumam Andra memijit pelipisnya
“Anak Mami dong”
Cup.
Seketika Zero mencium pipi Arra dengan mesra membuat Andra mendengus kesal melihatnya
“Zero”
Tiba-tiba suara Ibu Dian terdengar dari dalam rumah
“Nenek” ucap Zero tersenyum
“Ayo dengan nenek, Mami dan Papi Zero mau berangkat”
“Zelo mau tunggu Mami Papi campai cudah belangkat”
“Kenapa harus ditunggu, ganteng?” goda Arra terkekeh
“Nanti Papi kiss Mami telus peyuk-peyuk”
Seketika, halaman panti asuhan dipenuhi gelak tawa mereka yang tertawa gemas mendengar ucapan Zero
Tak lama, ponsel Andra berdering menandakan sebuah panggilan masuk
Istri Ketua
Nama kontak yang tiba-tiba menelpon Andra pagi ini.
Tanpa menunggu panggilan berakhir, Andra langsung mematikan ponselnya
“Kenapa Mas?" tanya Arra heran
“Nggak, Sayang. Sudah? Ayo berangkat sekarang”
“Baiklah”
*****
Setelah mengantarkan Arra ke sekolahnya, Andra melajukan mobil menuju kantor. Namun, ditengah perjalanan tiba-tiba iPad nya berdering menandakan sebuah panggilan masuk dari Leo
“Selamat pagi, Pak”
“Kenapa, O?”
“Nyonya Besar sedang ada di kantor”
“Apa yang dilakukannya?”
“Ingin bertemu Pak Andra”
“Bersama Nona Gladis..”
“Sial. Merusak pagi ku saja”
“Maaf, Pak”
“Usir saja, O. Aku malas berhadapan dengan mereka”
__ADS_1
“Mereka sudah mengatakan kepada Ketua, Pak. Jika Bapak mengusir mereka maka-“
“Ketua pasti memarahiku. Sial”
“Maaf, Pak Andra”
“Aku masih diperjalanan”
“Baik, Pak”
Panggilan pun terputus.
“Apa lagi yang mereka inginkan?” gumam Andra sepanjang perjalanan.
*****
Ruang Presdir
“Apa yang kalian inginkan lagi?”
tanya Andra saat baru saja sampai di ruangannya membuat Nyonya Besar dan Gladis terkejut akan kehadirannya
“Andra, itu sangat tidak sopan” tegur Nyonya Besar menatap Andra
“Memangnya sejak kapan saya sopan dengan anda?”
“Andra!!”
“Sudah, Ma. Andra mungkin hanya lelah dan emosinya tidak stabil” ucap Gladis yang berusaha untuk menenangkan Nyonya Besar
“Saya bertanya sekali lagi, apa yang kalian inginkan sekarang?”
“Kapan kau akan menikahi Gladis?” tanya Nyonya Besar to the point
“Sejak kapan aku berbicara bahwa akan menikahinya?” tanya Andra kembali
“Andra!!”
“Lagi pula ada urusan apa anda mengurusi tentang kehidupan saya? Mencari wanita yang akan mendampingi saya? Dan mencari Ibu sambung untuk anak saya? Sejak kapan anda peduli?”
“Andra, Mama selalu peduli dengan kehidupanmu dan cucu Mama. Buktinya Mama menjodohkan mu dan Gladis agar kau mendapat istri yang baik”
“Sampai kapan saya hidup diatur oleh kalian? Untuk memilih istri saja saya harus mendengar apa kata kalian”
“Andra, Gladis ini wanita yang baik. Dia akan menjadi Ibu sambung untuk Zero dan menjadi istri yang baik untukmu”
“Maaf, tapi saya bisa mencari istri sendiri”
“Kau tidak lihat dengan kejadian sebelumnya? Wanita pilihanmu yang ternyata pergi meninggalkanmu lalu menceraikan mu?”
“Jangan ikut campur dengan kehidupan saya. Jika tidak ada yang dibahas lagi silahkan pergi”
“Ah, satu lagi. Tolong Nona Gladis jangan mengharapkan semuanya karena itu hanya mimpi”
*****
“Mama, Andra lagi-lagi menolak ku” ucap Gladis dengan wajah yang sudah dipenuhi dengan air mata
“Sayang, bersabarlah. Sebentar lagi Andra akan menikahi mu”
“Tapi kapan, Ma?”
“Mama punya rencana”
“Apa itu?”
“Tunggu saja” ucap Nyonya Besar tersenyum penuh arti.
*****
Saat ini Arra dan Novi, teman sekelasnya sedang berada di kantin dimana jam pelajaran sudah selesai. Arra sudah memikirkannya sejak semalam bahwa hari ini ia akan menceritakan semuanya kepada Novi. Tentang Andra, Zero, dan pernikahan mereka yang akan dilaksanakan setelah lulus
“Novi” panggil Arra
“Ya, ada apa Ra? Kau sudah pesan?”
“Sudah. Ada hal yang ingin ku bicarakan kepadamu”
__ADS_1
“Sepertinya sangat penting”
“Tapi, tolong setelah aku berbicara jangan terkejut”
Arra sangat hafal dengan sahabatnya itu yang jika terkejut akan berteriak dan membuat seisi kantin menatap mereka dengan heran
“Hehehe tergantung. Karena kau tau, aku nggak bisa diajak mendengar berita penting karena mulutku nggak bisa diam” ucap Novi yang membuat Arra terkekeh pelan
“Awas ya, jangan kelepasan teriak”
“Sepenting itu, Ra?” tanya Novi tidak sabar
“Dan mungkin akan membuatmu pingsan” ucap Arra tersenyum tipis
“Aku nggak akan pingsan kecuali mendengar kalau sahabatku ini tiba-tiba menikah”
“Ya, kau benar..”
“Apanya yang benar? Kau akan menikah? Hahaha”
Novi tertawa setelah menebak asal berita penting yang akan dikatakan oleh sahabatnya karena ia mengira bahwa tidak mungkin Arra akan menikah segera
“Aku akan menikah”
Deg.
“APA?!”
“Novi, kecilkan suaramu” ucap Arra sedikit berbisik
“Ra, sebentar”
Novi mengatur nafasnya lalu kembali menatap Arra dengan tajam
“Sudah kubilang jangan membuatku ingin pingsan”
“Tapi itu benar, Novi.. Aku akan menikah setelah lulus..”
“Ra..”
Tiba-tiba Novi menatap Arra dengan tatapan sendu, air mata sudah membasahi wajah cantiknya. Sedangkan yang ditatap heran dengan perubahan perilaku Novi bahkan Arra gelagapan untuk menenangkan Novi yang semakin terdengar isak tangisnya
“Hei, mengapa kau menangis? Astaga, Novi tenanglah. Ada apa denganmu?” tanya Arra khawatir
“Ra, yang harusnya bertanya seperti itu aku. Kenapa denganmu?”
“Aku? Memangnya aku kenapa?” tanya Arra heran
“Jangan menutupi semuanya lagi. Cerita lah kepadaku semuanya”
Arra benar-benar bingung dengan semua ucapan Novi sehingga ia hanya diam menatap Novi seraya mengerutkan keningnya
“Ra.. Berapa banyak utang yang harus kau bayarkan? Apa dia membeli mu dengan uang? Berapa yang ia berikan kepadamu? Aku akan mencari uang untuk membantumu melunasi semuanya” ucap Novi dengan khawatir
“Sebentar”
Arra seakan tau maksud dari Novi, mulai mencerna setiap ucapan sahabatnya sehingga ia tak bisa lagi menahan tawa
“Ada apa denganmu?” tanya Novi heran
“Astaga, perutku benar-benar sakit karena mu”
“Kenapa kau tertawa?”
“Novi, kau kira aku menikah karena mempunyai hutang dengan pria nya?” tanya Arra
“Lalu? Atas dasar apa lagi kau menikah jika bukan karena itu? Apa perekonomian panti sangat sulit sekarang hingga kau harus merelakan dirimu dinikahi oleh pria tua bangka?”
“Novi, astaga. Diam lah sebentar, aku akan menjelaskan semuanya tapi tolong hapus dulu air matamu karena aku benar-benar akan tertawa lagi” ucap Arra terkekeh lalu memberikan tissue kepada sahabatnya
“Aku akan menikah dengan pria yang ku cintai”
“APA?!”
*
*
__ADS_1
*