Cewek ABG & Duda Keren

Cewek ABG & Duda Keren
S2 : Masa Lalu Andra


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


Saat itu perasaan Zira benar-benar tidak nyaman, terlebih ketika ia baru saja melepaskan kepergian kakak satu-satunya yang akan berkuliah di luar negeri meninggalkan dirinya sendirian.


Dengan segala rasa lelah yang ia rasakan, Zira mengambil ponselnya untuk menceritakan tentang hari ini kepada lelakinya. Namun, baru saja ia hendak menghubungi Gibran, ternyata sudah ada notifikasi pesan dari lelaki itu yang membuat Zira segera membacanya.


Who?


Let's break up. Ada sesuatu yang harus kamu ketahui dariku, sejak dulu aku memang nggak pernah mencintaimu. Aku hanya membalaskan dendam Ibu ku. Jika ingin tau lebih lanjut, tanyakan kepada Tuan Andra bagaimana ia menghancurkan hidup seorang wanita yang bernama Gladis.-Gibran.


Deg.


Hampir saja gadis itu tidak bisa menahan keseimbangan sehingga ia sempat sedikit mundur karena terlalu shock membaca pesan dari Gibran.


Apa yang terjadi pada lelaki itu? Bukannya mereka baik-baik saja? Apa yang membuat Gibran tiba-tiba mengatakan hal itu padahal sebelum Zira berangkat ke bandar udara untuk mengantarkan Zero saja, Gibran bahkan mengirimkannya pap agar Zira tidak terlalu sedih. Bahkan, pesan terakhir mereka saja diakhiri dengan emoji ❤️.


Kak Gibran? What do you mean? Ada apa? Kenapa tiba-tiba seperti ini?-Zira.


Zira berusaha untuk mengontrol emosinya dan tidak memaksa Gibran untuk segera membalas namun sepertinya semesta memang berpihak padanya karena terlihat di room chat mereka bahwa Gibran sedang online dan sudah membaca pesannya.


Entah kenapa ketika melihat kontak Gibran yang sedang mengetik membuat jantung Zira kembali berdetak lebih kencang dari biasanya.


Ting.


Who?

__ADS_1


Maaf.-Gibran.


Hanya dengan satu kata, cukup membuat air mata Zira jatuh tiba-tiba. Ia tidak bisa mempertahankan lelakinya lagi, terlebih ketika melihat foto profil Gibran yang semulanya adalah foto tangan Zira tiba-tiba hilang, sepertinya lelaki itu sudah memblokir nomor Zira.


Tangisan Zira semakin lama semakin terdengar sangat sesak. Rasanya baru saja ia diberikan izin untuk dekat dengan seorang lelaki dan akhirnya ia menjadikan Gibran sebagai dunianya satu-satunya sehingga ketika ia ditinggalkan dengan alasan yang tidak masuk akal, membuat Zira benar-benar kehilangan dunianya sekarang.


Tangisan Zira terdengar ketika Arra yang saat itu sedang melewati kamar sang anak hingga membuatnya langsung membuka pintu kamar Zira tanpa mengetuk terlebih dahulu karena rasa paniknya.


"Sayang?! Ada apa, Nak?!" tanya Arra khawatir ketika melihat Zira yang sudah berantakan.


Zira segera memeluk Mami nya dan menangis keras. Rasanya ia sudah tidak bisa menahan itu semua. Ia benar-benar sakit.


Arra yang mengira bahwa Zira menangis karena ditinggal pergi oleh Zero pun hanya bisa menghibur sang anak dengan mengatakan beberapa kalimat menenangkan. Namun, ketika mendengar tangisan Zira semakin lama semakin menghilang, Arra memberanikan diri untuk bertanya kepada sang anak mengapa ia menangis begitu keras hingga membuat hati Arra benar-benar ngilu mendengarnya.


Zira menunduk seraya mulai mengontrol perasaannya. "K-kak Gibran.. Kak Gibran memutuskan semuanya sepihak.."


Betapa terkejutnya Arra mendengar lirihan kecil Zira. Sebagai seorang Ibu, tentu saja Arra penasaran apa yang terjadi dengan keduanya terlebih bahwa terakhir kali Gibran mampir pun hubungannya dengan Zira terlihat sangat baik. Namun, ada apa sekarang?


"Mami..? Gladis itu siapa..?"


Deg.


"Kak Gibran mengatakan bahwa ia mendekati ku hanya untuk membalaskan dendam Ibunya.. dan Gladis adalah nama Ibu dari Kak Gibran.."


*****


"Apa?!"


Andra benar-benar terkejut mendengar fakta yang baru saja Arra bagikan kepadanya. Malam ini, mereka baru saja menyelesaikan makan malam bersama dan sekitar tiga puluh menit yang lalu Andra pamit ke ruang kerjanya untuk memeriksa beberapa berkas.


Karena tak ingin menunda lebih lama, Arra pun segera menyusul sang suami untuk memberitahukan fakta yang baru saja ia ketahui tersebut.

__ADS_1


Arra tau bagaimana sifat suaminya tersebut, maka dari itu ia mencoba menjelaskan semuanya dengan kalimat yang sangat hati-hati karena takut Andra akan tersulut emosi. Dan benar saja, Ayah mana yang tidak emosi mendengar bahwa musuhnya menyangkut-pautkan anak gadisnya dalam masalah masa lalu?


"Mas Andra.."


"Maaf.. Mas benar-benar nggak tau kalau Gibran itu anak Gladis. Wanita licik itu benar-benar merencanakannya dengan sempurna bahkan tanpa Mas ketahui.."


Andra benar-benar merasa bersalah karena masa lalunya malah melibatkan anak gadisnya yang tidak tau apa-apa. Terlebih ketika Arra menceritakan bagaimana keadaan Zira setelah mengetahui bahwa dirinya hanya sebagai jembatan untuk balas dendam masa lalu Ayahnya.


"Mas, apa Gibran hanya dipaksa untuk balas dendam?"


Ah, sifat baik Arra kembali muncul. Entah kenapa rasanya ia sendiri tidak percaya bahwa Gibran sebatas balas dendam kepada anak gadisnya.


"Sayang, Mas akan mengurus semuanya" ucap Andra seraya menggenggam tangan Arra dengan sangat erat.


Area mengangguk pelan. "Kita harus menceritakan semuanya pada Zira. Bagaimana pun juga, Zira harus tau tentang Nona Gladis dan masa lalu Mas.."


*****


"Aku sudah melakukan seperti yang Ibu perintahkan" ucap Gibran seraya memberikan bukti bahwa ia sudah menghancurkan hidup gadis perempuan keluarga Dirgantara yang memang sejak awal sengaja ia dekati atas perintah Ibu kandungnya sendiri.


Gladis tersenyum bangga seraya menepuk pelan bahu sang anak yang tak pernah ia anggap. "Kerja bagus, Gibran Agaskara!"


Gibran hanya diam. Ia sudah terbiasa mendapat perlakuan seperti itu sejak dulu. Ketika ia berbuat sesuatu atas perintah dari Gladis, wanita paruh baya tersebut akan memujinya. Namun, ketika Gibran mendapat penghargaan atas pencapaiannya di sekolah, tak sekali pun Gladis menghargai kerja kerasnya.


Jika boleh jujur, Gibran benar-benar muak dengan tempat yang ia sebut "rumah". Tak pernah sedikit pun ia merasakan ketenangan didalamnya bahkan ia sendiri tidak tau siapa Ayah kandungnya.


Gibran hidup sendirian di rumah yang serba berkecukupan. Gladis tak pernah sekali pun menginjakkan kakinya ke rumah itu kecuali jika ada yang ingin ia perintahkan langsung kepada anak sulungnya. Karena sudah terbiasa melakukan segala sesuatu dengan sendiri, Gibran tak pernah menggubris keberadaan Ayah atau pun Ibu nya. Hanya ada satu fakta yang selalu ia ketahui, bahwa ketika Gladis ada di rumah berarti ada sesuatu yang harus ia kerjakan.


Ada begitu banyak rahasia yang Gibran sembunyikan untuk dirinya sendiri, yang tak pernah ia ceritakan kepada siapapun termasuk kepada gadis yang sudah menemaninya selama hampir satu tahun tersebut.


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2