
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Erfan dan teman-temannya masuk ke dalam ruangan Gibran bersamaan dengan seorang perawat yang sedang menutup seluruh tubuh Gibran dengan kain putih.
"Gibran kenapa?!" tanya Erfan panik seraya menatap dokter dan beberapa tim medis yang ada di ruangan tersebut.
Dokter yang menangani Gibran pun menghela nafas. "Pukul 15:25 WIB, pasien atas nama Gibran Agaskara dinyatakan meninggal dunia."
"Apa?!"
"Dokter bercanda, kan?! Gibran nggak mungkin meninggal!"
"Dok! Jangan bercanda!"
Semua orang benar-benar terkejut mendengar ucapan dokter terlebih ketika melihat semua alat yang digunakan untuk pengobatan Gibran sudah dilepas.
"Dok.. bilang kalau ini bercanda.." lirih Erfan dengan tatapan yang tidak ingin berpaling dari Gibran.
"Maaf.. maaf karena saya tidak bisa menyelamatkan Gibran.."
Klek
Pintu ruangan terbuka dan masuklah Diego yang memang agak terlambat karena membeli buah-buahan dahulu.
Ketika melihat Gibran yang sudah terbujur kaku, buah-buahan yang dibeli olehnya jatuh dan berhamburan.
"Apa yang terjadi?!" tanya Diego dengan nafas yang memburu.
Erfan membuka suara. "Go, Gibran menyerah pada dunia.. Gibran pergi.. Gibran.. sahabat kita.."
Mendengar hal itu, hancur sudah semua perasaan Diego. Sahabat dekat yang selalu bersamanya, orang pertama yang selalu mengulurkan padanya ketika ia butuh bantuan, teman yang rela ikut bolos karena dirinya terlambat masuk sekolah. Semua memori dan kenangan yang sudah mereka habiskan bersama kembali berputar hingga tanpa sadar membuat Diego meneteskan air mata.
"Gib.. kenapa..?! Kenapa harus seperti ini?! Mana janji mu yang bilang kalau kita harus kuliah di kampus yang sama?! Mana janji mu yang bilang kalau kita harus tetap bersama?! Kenapa, Gib?! Kenapa menyerah duluan?!"
Teriakan Diego membuat semua orang yang mendengarnya sangat sakit. Diego bukan orang sembarangan, ia adalah satu-satunya teman dekat Gibran yang cukup banyak tau tentang lelaki itu. Tentu saja ia merasakan kehilangan yang sangat ketika melihat sahabatnya sudah terbujur kaku.
"Jenazah akan segera dimandikan. Tolong untuk segera mengurus administrasi" ucap salah satu perawat seraya mulai mendorong ranjang rumah sakit.
Diego benar-benar sakit. Hatinya benar-benar hancur. Siapa yang pernah menyangka bahwa Gibran akan menutup mata di usia yang masih sangat muda? Terlebih ketika perpisahan mereka adalah perpisahan yang tiba-tiba tanpa adanya salam perpisahan.
"Kita perlu menghubungi orang tuanya" ucap salah satu teman mereka.
__ADS_1
Diego menggeleng. "Gibran akan ku bawa ke rumahku. Orang tuanya nggak akan pernah peduli."
"Tapi walaupun begitu, Gibran tetap masih punya wali sah, Go."
"Jangan membuang waktu. Percaya saja dengan ucapan ku karena kalian nggak pernah tau bagaimana hubungan Gibran dengan orang tuanya."
Akhirnya, semua teman-temannya mendengarkan ucapan Diego dengan tidak memberitahukan kepada orang tua Gibran.
Diego segera menghubungi kedua orang tuanya untuk menceritakan apa yang terjadi dan meminta tolong untuk membersihkan rumah karena memang jenazah Gibran akan dibawa ke rumahnya.
"Sepuluh menit lagi Ayah akan kesana" ucap Papa Diego setelah mendengar kabar duka dari sang anak.
Keluarga Diego memang mengenal Gibran dengan baik terlebih ketika anak mereka sering mengajak Gibran untuk bermain bahkan menginap di rumah. Seperti yang dijelaskan Diego secara singkat, kedua orang tuanya pun sedikit mengetahui bahwa Gibran memang mempunyai hubungan yang tidak baik dengan keluarganya.
"Go, bagaimana dengan Zira?" tanya Erfan saat melihat Diego baru saja memutuskan panggilan.
Diego menggeleng pelan. "Zira memblokir kontak ku dan semua akun sosial media ku. Ku rasa memang benar bahwa ada sesuatu yang terjadi pada Zira dan Gibran."
"Aku akan pergi ke rumahnya."
"Jangan, aku aja. Tolong temani Gibran disini sampai Ayah ku datang. Aku harus berhadapan langsung dengan Zira."
Setelah berpamitan, Diego pun segera melajukan motornya ke kediaman keluarga Andra.
*****
"Rasanya sangat tenang" ucap Zira pelan seraya menatap langit yang cerah.
Ting.
Ponselnya berdering menandakan sebuah notifikasi pesan dari Intan.
Zir, tolong jawab pesanku kalau kamu baik-baik aja.-Intan.
Perlahan, Zira terkekeh pelan membaca pesan dari sahabatnya itu karena memang hari ini Zira memutuskan untuk tidak pergi ke sekolah.
Sebenarnya, Zira bisa saja bersekolah seperti biasa tanpa harus menghindar. Namun, ketika ia berhadapan dengan Gibran atau apapun yang bisa mengingatkannya dengan lelaki itu, Zira akan kembali merasakan sakit.
Jika ada yang bertanya bagaimana perasaan Zira sekarang, gadis itu benar-benar masih mencintai Gibran sama seperti pertama kali mereka berkencan. Tidak ada yang berubah dari perasaan Zira, hanya saja status hubungan mereka yang sudah berubah.
Terkadang, Zira selalu merindukan kebersamaan mereka namun gadis itu masih belum siap untuk berhadapan langsung karena ia takut maju di saat luka hatinya belum sembuh.
"Kak.. tunggu aku sembuh karena waktu.."
*****
Diego segera memarkirkan motornya dan berjalan ke arah pos satpam yang ada di depan halaman rumah keluarga Andra.
__ADS_1
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya sang satpam ketika melihat Diego yang berjalan mendekat.
"Pak, saya mau bertemu dengan Zira. Apa Zira ada di rumah?"
"Non Zira nggak ada di rumah. Apa sudah membuat janji terlebih dahulu?"
Diego menggeleng pelan. "Kira-kira, dimana saya bisa bertemu dengan Zira? Saya membawa kabar yang sangat penting dan harus memberitahukannya sekarang, Pak."
"Waduh, saya juga nggak tau Non Zira kemana, tapi saya coba tanyakan kepada Nyonya Arra sebentar."
Tak lama kemudian satpam pun masuk ke dalam pos lalu menghubungi nomor telepon rumah yang terhubung langsung ke ruang keluarga.
Seolah semesta sedang berpihak padanya, Arra yang saat itu sedang menonton televisi pun sedikit terkejut mendengar dering telepon.
"Halo, Mang?"
"Halo, Nyonya. Maaf mengganggu, ini ada tamu seumuran Non Zira katanya mau bertemu Non Zira langsung karena ada berita penting."
Arra mengerutkan keningnya heran seraya berpikir siapa teman Zira yang bertamu siang bolong seperti ini? Jika ketiga sahabatnya itu tidak mungkin satpam tidak mengenalnya, apalagi jika itu adalah Gibran.
"Minta tolong tanyakan namanya, Mang."
"Nama nya siapa, Mas?" tanya satpam tersebut kepada Diego.
"Diego, saya teman Gibran mau memberi kabar penting tentang Gibran."
"Namanya Diego, Nyonya. Temannya Nak Gibran."
"Persilahkan masuk saja, Mang."
*****
Zira baru saja masuk ke dalam mobilnya saat ada panggilan masuk dari Arra.
"Halo, kenapa Mi? Zira baru mau pulang. Mami mau titip apa?"
"Nak.. tolong tunggu disana, sopir akan menjemput mu.."
Dahi Zira mengkerut. "Loh? Zira kan bawa mobil, Mi."
"Sayang.. Nak Gibran sudah pergi.."
Deg.
*
*
__ADS_1
*