
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Beberapa tahun kemudian
Zira tumbuh menjadi gadis yang sangat pintar dan cantik. Namun, entah menurun dari siapa gadis itu sangat menyukai dunia malam. Walaupun sudah berkali-kali ditegur oleh kedua orang tuanya, namun tidak membuat Zira takut sama sekali.
Seperti malam ini, ia baru saja menyelesaikan balap motor dan langsung dibawa pulang oleh Zero. Digendong seolah-olah seperti karung beras membuat Zira memberontak berkali-kali.
"Aku bukan karung beras! Hentikan!" teriak Zira untuk kesekian kalinya.
Zero mendengus kesal lalu melemparkan sang adik ke jok belakang, tidak lupa mengunci mobil agar Zira tidak bisa keluar.
"Mami sedang sakit dan bisa-bisanya kamu balap motor sekarang?! Dimana otakmu, Zira Leorra Dirgantara?!"
Senakal-nakalnya Zira, ia akan tetap takut jika nama lengkapnya sudah disebut oleh Andra, Zero, bahkan Leo. Dibalik semua sifat pembangkang, emosional, dan keras kepalanya, Zira masih tetap gadis kecil yang selalu manja dengan Arra. Ia akan selalu berlindung di pelukan Arra bagaimana pun keadaannya.
"Mami dimana..?" tanya Zira pelan.
Seolah tidak ingin menjawab ucapan sang adik, Zero segera melajukan mobilnya diatas kecepatan rata-rata hingga membuat Zira menggenggam erat seatbelt miliknya.
Mengerikan sekali.. Tuhan, aku belum menikah..-Zira.
*****
Andra dengan telaten menyuapi sang istri saat Arra baru saja selesai diperiksa oleh Dokter Galuh.
"Mas, Zero dan Zira kemana?" tanya Arra saat melihat kedua anaknya tidak ada di ruangan.
Andra menghela nafas berat. "Mas bingung dengan anak itu. Entah menurun dari mana tiba-tiba anak gadis malah menyukai dunia malam" gumam Andra pelan.
Berkali-kali Andra menasehati Zira agar tidak terpengaruh dengan dunia luar. Gadis itu memang selalu diam dan menurut ketika diberi nasihat namun, diam-diam ia akan selalu balap motor tanpa sepengetahuan siapapun.
Sudah berbagai cara Andra lakukan agar membuat anak gadisnya jera, pernah menghukum Zira dengan berangkat ke sekolah hanya berjalan kaki, menyita ATM dan sepeda motor anaknya, bahkan mengurung Zira di kamar selama satu minggu. Tetap saja, gadis itu benar-benar kebal dan berani balap motor tanpa sepengetahuan keluarganya.
Zero menarik tangan Zira dengan kasar dan membawanya ke ruangan Arra dimana kedua orang tua mereka sedang mengobrol bersama.
"Ada apa?" tanya Andra heran karena melihat anak pertama mereka sedang menahan emosi.
__ADS_1
"Jelaskan sekarang!"
Suara berat Zero membuat tangan Zira bergetar hebat. Ia memang langsung ciut hanya dengan dibentak.
"M—maaf, Mami.. Papi.. I'm secretly doing wild racing again." (Aku diam-diam melakukan balap liar lagi.)
Zira menunduk dengan wajah memelas seolah pasrah jika dirinya akan dimarahi habis-habisan sekarang.
"Minta maaf dengan benar, Zira Leorra Dirgantara!"
"Mami.. Papi.. maaf.. maaf.. Zira salah.."
Andra menghela nafas berat. Ia sudah tidak tau harus melakukan apa agar anaknya bisa mendengar nasihat darinya.
"Papi udah nggak tau mau mengajari kamu dengan cara apa lagi."
Zira terdiam. Ia sadar bahwa dirinya sudah mengecewakan Andra dan Arra. Tidak bisa dipungkiri bahwa Zira memang selalu membuat hati kedua orang tuanya sakit.
"Zira.." panggil Arra yang membuat Zira segera mendekati ranjang rumah sakit.
"Maaf, Mami.."
"Bukankah sudah Mami katakan berkali-kali, kalau anak Mami ada masalah, Zira boleh bercerita dengan Mami dan Papi..? Ada apa lagi kali ini? Kenapa anak Mami berbohong?"
Arra akan selalu menjadi penengah saat kedua sosok emosional dan dingin sudah menahan amarah. Bagaimana Zira tidak sangat menyayangi Mami nya? Arra tidak pernah memarahi Zira selama ini.
Sejak kecil, baik Zero maupun Zira akan selalu diajarkan untuk berkata jujur. Mau bagaimana pun dilarang keras untuk berbohong karena kejujuran adalah kunci utama hidup bahagia.
"Mami nggak marah karena Mami tau Zira bisa memilih apa yang baik dan apa yang buruk. Dari semua pilihan pasti ada resiko yang akan dihadapi, apapun yang akan dipilih oleh Zira nantinya pasti mau nggak mau Zira harus menerima resikonya. Seperti kalau Zira tetap mau balap motor lalu membohongi Mami, Papi, dan Abang, berarti Zira siap jika nantinya akan dimarahi dan dihukum lagi."
Zira memeluk Arra dengan sangat erat. Ia tidak tau mengapa dirinya dengan bodoh menyakiti hati wanita ini. Ia tidak tau mengapa dirinya bisa mengecewakan sosok bidadari dihadapannya.
"Mami, maaf.."
Arra tersenyum tipis seraya mengelus pucuk kepala Zira. "Jangan melakukan hal yang bisa merugikan diri sendiri" ucap Arra yang membuat Zira mengangguk.
*****
Arra tersenyum tipis melihat keluarga kecilnya yang sedang berkumpul bersama untuk menemaninya di ruangan. Padahal, Arra sudah meminta Zira untuk kembali ke rumah karena besok pagi akan berangkat ke sekolah, namun gadis itu menolak dengan alasan dirinya akan menebus kesalahannya dan akan merawat Arra hingga sembuh.
"Papi, Abang itu punya kekasih tau."
Sepertinya akan dimulai perang untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
Zero menatap Zira dengan tatapan mematikan sedangkan gadis itu segera bersembunyi dibelakang punggung Andra.
"Nama kekasihnya adalah.."
Zira berbisik dengan Andra agar Zero dan Arra tidak mendengar ucapannya.
"What?! Serius?!"
"Siapa?" tanya Arra penasaran.
"Mami jangan kepo, ini rahasia Zira dan Papi aja."
"Loh? Berani ya main rahasia dengan Mami."
"Mami, Zero aja nggak tau siapa" celetuk Zero dengan wajah penasarannya.
"Jelaskan dengan benar, apa kamu benar-benar berpacaran dengannya?" tanya Andra yang membuat Zero mendengus kesal.
"Dia siapa, Papi?"
"Ya, dia. Oh atau kamu punya banyak pacar ya?"
"Dih? Zero tau kalau wajah Zero ini memang tampan tapi ya buat apa Zero jadi playboy?! Nggak ada untungnya."
"Astaga, dia benar-benar anak Mas Andra" gumam Arra pelan.
*****
Arra menatap kagum dengan keluarga kecilnya yang sedang bercanda bersama. Pikirannya kembali pada beberapa tahun yang lalu saat dimana ia tidak akan pernah menyangka bahwa hidupnya berubah 180 derajat.
Siapa yang pernah menyangka bahwa ia akan menjadi seorang istri dari Presdir perusahaan besar yang dikenal angkuh dan dingin? Arra bahkan tidak pernah menyangka jodohnya adalah duda beranak satu.
Seperti kata orang bahwa kita tidak bisa memutuskan akan menaruh rasa dengan siapa. Tidak akan ada yang bisa tau bahwa dirinya akan mencintai siapa karena cinta tidak mempunyai alasan untuk itu semua.
Seperti malam itu disaat Andra baru saja hendak tidur tiba-tiba ia mendengar notifikasi pesan dari Leo.
Leo.
Pak, sepertinya saya benar-benar akan menjadi menantu Pak Andra.-Leo.
Benar, kan? Kita tidak bisa memprediksi bahwa perasaan kita akan jatuh dengan siapa.
*
__ADS_1
*
*