
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Hari-hari Zira terasa sangat berbeda ketika sosok Gibran Agaskara tiba-tiba masuk dengan sengaja dalam hidupnya.
Lelaki pertama yang mendapatkan kesempatan untuk mendekatinya. Lelaki pertama dalam hidupnya yang tiba-tiba selalu memperhatikannya. Perhatian Gibran tidak seperti perhatian lelaki lain, lelaki itu benar-benar dingin dan cuek.
Ia tidak pernah mengatakan bahwa dirinya menyukai Zira, namun ia selalu siap siaga membawa ikat rambut cadangan dalam saku celananya. Ia tidak pernah menanyakan apakah gadis itu sudah makan atau belum, namun ia akan tiba di rumah keluarga Dirgantara dengan membawa makanan dan kue. Ia tidak pernah menyapa Zira saat bertemu di sekolah, namun ia selalu tau apa yang dilakukan oleh gadis itu.
Zira merasa senang karena ini pertama kalinya ia merasa benar-benar beruntung diperhatikan oleh seseorang. Gibran bukan tipe orang yang mudah basa-basi, namun lelaki itu akan tau apa yang harus ia lakukan. Seperti sekarang, dimana ia dan Zira kembali berpapasan di parkiran, Gibran memilih untuk pura-pura mengecek keadaan motornya padahal ia hanya ingin melihat Zira lebih dahulu sampai ke ruangan.
Gibran bukan lelaki bodoh yang akan menegur sapa Zira di sekolah. Ia juga bukan tidak mau memberitahukan pada dunia bahwa ia adalah calon kekasih gadis itu, namun terlalu banyak bahaya yang akan terjadi jika satu sekolah tau Zira adalah gadisnya.
Bukan karena Gibran tidak siap menjaga Zira, namun lelaki itu tidak bisa menjamin setiap saat bersama Zira. Bagaimana jika sesuatu terjadi pada Zira karena dikabarkan dekat dengannya disaat ia tidak ada di sisi gadis itu? Zira tidak bisa menangis dihadapannya.
"Zira, gimana hubungan mu dengan Kak Gibran?"
Memang, teman-teman Zira akan selalu mendukung gadis itu dengan Gibran.
"Hei, jangan seperti itu. Kak Gibran masih di parkiran, nanti dia dengar" ucap Zira sedikit panik.
"Loh gapapa tau, kan biar Kak Gibran cepat-cepat bertemu Om Andra dan Kak Zero."
Zira hanya tersenyum tipis menanggapinya.
Ting.
Ponselnya berdering menandakan sebuah notifikasi pesan masuk dari lelaki yang masih sibuk sendiri di parkiran.
Who? (nama kontak Gibran di ponsel Zira)
Perhatikan jalan.-Gibran.
Singkat namun mampu membuat gadis itu tersipu malu. Ah, Zira bisa gila berhadapan dengan Gibran.
*****
Pagi ini mata pelajaran bahasa Inggris yang menjadi mata pelajaran kesukaan gadis itu. Sepertinya, sifat Zero menurun pada sang adik yang dimana kedua anak Andra dan Arra sangat menyukai pelajaran bahasa.
"Zir, aku bingung deh kenapa kamu suka banget pelajaran bahasa sampai ikut les lagi di rumah?"
__ADS_1
Intan menatap sahabatnya dengan tatapan aneh. Menurutnya, Zira tidak perlu harus berusaha keras untuk belajar bahasa karena gadis itu sudah sangat pintar berbahasa asing. Namun, entah kenapa Zira malah menyukai pelajaran bahasa asing dan sekarang ia akan menambah list negara yang sudah ia kuasai bahasanya.
"Aku kan udah bilang kalau nanti mau punya suami orang luar negeri" ucap Zira terkekeh pelan.
"Jangan jauh-jauh, aku nggak punya uang buat beli tiket pesawat."
"Lagian, kenapa nggak sama Kak Gibran aja?"
"Maudy benar, walaupun yang luar menggoda namun pesona lokal nggak bisa ditolak."
Zira tertawa mendengar ucapan teman-temannya. Ia sudah sering mendengar Intan, Maudy, dan Yesika selalu menjodohkannya pada Gibran.
"Kalian kenapa sih selalu menjodohkan aku sama Kak Gibran? Padahal aku aja nggak pernah ngobrol langsung sama lelaki itu."
"Kak Gibran itu sepertinya menyukai mu."
"Aneh ya, kok bisa lelaki famous seperti itu menyukai singa."
Plak.
"Tuh kan, Intan baru aja ngomong."
"Hei, apa aku terlihat sangat galak?" tanya Zira yang membuat kedua sahabatnya mengangguk cepat.
"Sial."
*****
Zira mengerutkan keningnya heran. "Kamu baru berteman denganku?"
"Nggak, bukan gitu. Soalnya kata Joice tadi, di gerbang depan ada lelaki yang mencari mu."
"Hah? Siapa? Uncle Leo?"
"Joice nggak mungkin nggak kenal dengan Om Leo. Sepertinya orang baru."
Zira kembali mengerutkan keningnya heran. Ia tidak tau akan dijemput oleh orang lain. Andra dan Leo tidak ada mengabarinya.
"Intan, aku takut.." gumam Zira pelan.
Intan tersenyum tipis. Ia sudah cukup lama mengenal Zira jadi ia hafal jika sahabatnya akan khawatir dan panik duluan saat keadaan seperti ini.
"Ayo aku temani, Yesika dan Maudy sepertinya masih rapat. Katanya hari ini Kak Gibran sedikit galak jadi rapatnya masih lama."
Intan menggandeng tangan Zira agar gadis itu sedikit berani melangkah menuju gerbang sekolah.
__ADS_1
"Yang mana?" tanya Zira mengerutkan kening.
Intan menggeleng. "Aku nggak tau, apa kamu nggak kenal orang disini? Atau mungkin orang itu?"
Intan menunjuk seorang lelaki yang juga ternyata menatap mereka.
Deg.
Zira refleks mundur ketika matanya dan mata lelaki tersebut bertemu.
Sebelum lelaki itu mengejarnya, Zira lebih dulu berlari masuk bahkan meninggalkan Intan yang menatapnya heran.
Zira berlari dengan harap-harap cemas. Ia tak pernah menyangka bahwa lelaki itu bisa menemukannya setelah sekian lama. Hatinya tiba-tiba perih dan tangannya bergetar hebat. Air matanya mengalir deras membasahi wajahnya.
Zira tidak peduli tatapan aneh dari orang-orang yang melihatnya. Ia hanya ingin berlari menjauh agar lelaki itu tidak mengejarnya. Zira ingin bersembunyi dan memeluk Arra. Ia sungguh takut sekarang.
Brak
Tanpa sengaja, Zira mendorong keras ruang OSIS yang dimana siswa lain sedang rapat. Zira sendiri tidak mengerti mengapa langkah kakinya membawanya ke ruang OSIS yang sangat ramai.
Ketika melihat orang-orang menatapnya dengan tatapan aneh, Zira semakin takut hingga ia refleks mundur beberapa langkah.
"Zira?"
Gibran terkejut ketika melihat gadisnya masuk ke ruangan OSIS dengan keadaan kacau. Terlebih ketika melihat Zira yang berusaha meremas kuat rok sekolahnya membuat Gibran sadar bahwa gadis tersebut sedang tidak baik-baik saja.
Gibran berlari menghampiri Zira dan merengkuh tubuh yang sudah bergetar hebat tersebut. Persetan dengan pandangan anak OSIS lainnya dan berita yang akan heboh nantinya, ia hanya ingin memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja.
"Hei, kenapa? Cantiknya Gibran kenapa nangis hm?"
Pelukan hangat dan elusan lembut di pucuk kepala membuat Zira sedikit lebih tenang. Nafasnya mulai kembali normal namun ia terlalu malu jika Gibran melihat wajahnya sekarang.
"Kak.. tutup mata dulu, aku mau lepas pelukannya" ucap Zira yang membuat Gibran mengerutkan kening.
"Um, aku malu Kak Gibran liat muka aku yang jelek kalau lagi nangis.."
Mendengar ucapan gadis polos itu, Gibran tertawa seketika. Tawa yang membuat anak-anak OSIS benar-benar terkejut. Kapan terakhir kali mereka melihat Gibran tertawa seperti itu? Hampir tidak pernah.
"Rapat hari ini selesai. Terima kasih atas kerjasamanya dan silahkan pulang."
Walaupun dengan rasa penasaran yang tinggi, semua anak OSIS hanya bisa berjalan pergi meninggalkan Gibran yang enggan melepaskan genggaman tangannya pada gadis itu dan Zira yang masih menunduk.
"Zir, kamu hutang penjelasan sama kita" bisik Maudy pelan.
*
__ADS_1
*
*