Cewek ABG & Duda Keren

Cewek ABG & Duda Keren
S2 : Pura-Pura Kuat


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


Pemakaman baru saja dilangsungkan dengan lancar. Zero tak henti-hentinya menatap makam yang baru saja ditutup dengan tanah. Sedetik kemudian ia sadar bahwa perpisahan yang ia rasakan sungguh sakit karena ia tidak pernah bisa melihat sosok itu lagi.


Arra mengelus pucuk kepala sang anak yang sedang menunduk. "Ayo, kita pulang dulu. Kapan-kapan lagi Zero bisa kesini mengunjungi Bunda.."


Jika ada yang mengira bahwa Arra membenci Tania, itu salah besar. Tak ada sedikit pun rasa benci bahkan dendam dalam diri Arra walaupun Tania pernah mengusik rumah tangganya.


Semenjak sudah menjadi ibu dari kedua anaknya, Arra semakin paham apa yang dirasakan oleh Tania. Ia hanya merindukan anak kandungnya namun gengsi nya terlalu besar sehingga bukannya bertanya kabar, Tania malah selalu mengganggu Zero.


Dari Tania, Arra pun bisa belajar bahwa jangan pernah ragu untuk menyatakan perasaan yang kita rasakan, karena kita tidak tau kapan semesta akan bermain dengan perpisahan.


Kita tidak pernah bisa menebak apa yang akan terjadi dalam hidup kita kedepannya. Namun, kita sudah pasti bisa menebak bahwa setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Entah dipisahkan lalu dipertemukan kembali, atau memang dipisahkan selamanya.


*****


Malam ini, Arra mengetuk pintu kamar sang anak dengan membawa nampan makanan di tangannya. Memang, semenjak pulang dari pemakaman, Zero selalu mengurung diri di kamar sehingga Arra harus turun tangan.


Hanya sekali ketukan saja, pintu sudah terbuka dan menampilkan wajah Zero yang cerah seperti baru saja selesai mandi.


Arra tersenyum tipis. "Mau makan ditemani Mami?" tawar Arra yang membuat Zero mengangguk.


Sebenarnya, mungkin jika anak lain akan merasa sangat canggung harus berduaan dengan ibunya apalagi Zero sekarang sudah dewasa bahkan sudah hampir menyelesaikan pendidikan S1 nya. Namun, untuk Arra, anak-anaknya masih terlihat sangat kecil.

__ADS_1


Namanya juga Arra, ia akan selalu membuat siapapun yang bersamanya nyaman. Ia akan berusaha menjadi sosok teman dan sahabat untuk kedua anaknya sehingga tidak ada kecanggungan dalam hubungan orang tua dan anak tersebut.


Zero makan dengan lahap dihadapan Arra. Keduanya sama-sama diam dengan pikiran masing-masing. Zero dengan pikiran bahwa ia tidak boleh bersedih dan terpuruk lagi sedangkan Arra dengan pikiran bahwa anaknya sedang berpura-pura tegar didepan semua orang.


"Sayang..?" panggil Arra yang membuat Zero menoleh.


"Jangan berpura-pura jika bisa berusaha untuk benar-benar kuat.."


Damn. Zero membeku seketika. Ucapan Arra benar-benar memukul keras hatinya. Dan benar, kan? Arra benar-benar bisa menebak isi hati anaknya.


Zero bahkan tidak menyadari bahwa ia hanya berpura-pura kuat dihadapan orang lain. Ia hanya ingin terlihat baik-baik saja sehingga tidak membuat orang-orang mengkhawatirkan dirinya lagi.


"Maksud Mami?" tanya Zero mengerutkan keningnya.


Arra terkekeh pelan. "Apa ada orang yang meminta anak Mami untuk selalu kuat dan baik-baik saja dihadapan semua orang? Atau, apa Zero sendiri yang berpikir bahwa harus kuat dan memendam semuanya sendiri?"


Zero terdiam. Ucapan Arra memang benar adanya, apa yang harus ia protes lagi?


Kali ini, Zero tidak menyalahkan takdir dan semesta. Kali ini Zero berteriak paling depan untuk mengucap syukur dengan takdir yang mempertemukannya dengan Arra. Tanpa disadari, Arra lah yang mempunyai pengaruh dan peran besar dalam tumbuh kembang Zero hingga ia menjadi sosok yang sekarang.


Hampir saja Zero lupa bahwa dirinya mempunyai seorang ibu sambung yang sangat luar biasa. Hampir 19 tahun ia hidup bersama Arra dan wanita itu tidak pernah memarahi bahkan bermain tangan padanya senakal apapun ia. Entah sebanyak apa stok kesabaran Arra, namun wanita itu benar-benar membuat Zero menjadi sosok yang sangat baik.


"Mami.." lirih Zero pelan dengan air mata yang sukses keluar membasahi wajahnya.


Arra tersenyum tipis lalu merentangkan tangannya seolah menawarkan pelukan dan disambut cepat oleh lelaki muda tersebut. Walaupun Zero mungkin lebih tinggi dari Arra dan tubuhnya lebih berotot dari Andra, pelukan hangat Arra tetap sukses membuat lelaki itu menangis terharu.


Zero tidak mau lagi terlambat mengucapkan ucapan terima kasih. Ia tidak mau lagi terlambat mengatakan bahwa ia bersyukur bertemu dengan Arra. Dan ia tidak mau lagi terlambat untuk menyatakan perasaannya.


"Mami terima kasih.. terima kasih karena sudah mau hidup dengan Papi.. terima kasih sudah mau mengurus Zero dari kecil.. terima kasih karena sudah sabar mendidik dan merawat Zero.. terima kasih untuk semuanya, Mami.."

__ADS_1


Arra tersenyum tipis. Ia tidak menjawab ucapan Zero dan hanya mengeratkan pelukannya.


Arra memang bukan tipe orang yang selalu mengatakan ucapan "aku mencintaimu" kepada suami bahkan anak-anaknya. Namun, tanpa ucapan pun semua orang sudah mengetahui bahwa Arra sangat menyayangi keluarganya.


Ah, sekali lagi aku percaya bahwa sosok manusia setengah bidadari masih ada di dunia nyata dan Arra lah salah satunya.


*****


"Kak Gibran.." panggil Zira pelan.


Saat ini keduanya sedang duduk di ruang keluarga dengan Gibran yang menemani Zira yang sedang melamun. Sejak kejadian malam itu, Gibran memang tidak mengetahui lebih tentang siapa Tania dan mengapa Zero menangis sejadi-jadinya.


Gibran pun hanyalah seorang manusia yang juga pasti akan mempunyai rasa penasaran yang tinggi. Namun, ia sadar bahwa itu privasi keluarga Dirgantara sehingga ia tidak berani untuk sekedar bertanya.


"Kebiasaan deh, pasti lupa naruh ikat rambut" ucap Gibran ketika melihat Zira yang sedikit panik mencari ikat rambutnya.


Gibran memberikan ikat rambut yang memang selalu ia sediakan di saku celana atau jaketnya saat ia hendak bertemu Zira. "Kenapa? Tadi mau ngomong apa?"


Zira mengerutkan keningnya heran. "Kenapa Kak Gibran nggak nanya apapun? Kak Gibran nggak penasaran?"


Gibran terkekeh pelan. "Kalau aku nanya itu berarti namanya nggak sopan. Itu kan privasi keluarga jadi rasanya nggak baik kalau aku nanya walaupun juga sedikit penasaran."


"Bunda itu ibu kandungnya Abang.. Papi dan Bunda bercerai saat Abang masih berusia 2 tahun-an.. dan bertahun-tahun, Mami yang mengurus Abang, jadi bisa dibilang kalau peran Mami lebih besar dari peran Bunda.."


Deg.


Gibran baru saja mengetahui fakta itu.


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2