
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH yaa😘!!!
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_ 😘
Author sayang Readers🥰!!!
Happy Reading!!!
*****
"Mas, kenapa lama sekali?"
"Sebentar, Sayang. Zero juga sudah nggak cerewet, kan?"
"Tapi badan Zero panas banget, Mas"
"Iya iya sebentar ya"
Andra berusaha untuk tidak panik melihat Arra yang sangat khawatir dengan Zero yang hanya diam di pelukan Arra
Andai ditanya, saat ini Andra juga sama khawatirnya dengan Arra karena saat bersamanya inilah pertama kalinya Zero demam dan Andra masih kalang kabut karena belum mengerti bagaimana cara menyelesaikannya terlebih Zero terlihat sangat cerewet
Tak berapa lama, mobil Andra pun masuk perumahan elite dan berhenti di sebuah rumah mewah yang jaraknya tak jauh dari perumahan lainnya
"Sini Zero sama Papi aja" pinta Andra yang ingin mengambil alih Zero namun bocah itu menangis tidak mau bahkan memeluk Arra dengan erat
"Biar sama aku aja, Mas. Mas udah telpon dokternya?"
"Kak Galuh sudah didalam, Sayang"
Andra pun mengajak Arra untuk masuk kerumahnya dimana sudah ada Galuh yang menunggu kedatangan mereka di ruang kelurga
"Ke kamar ku saja, Kak" ucap Andra lalu mengajak Arra ke lantai atas agar Galuh bisa memeriksa Zero
Sedangkan Galuh yang masih mematung di ruang keluarga hanya menatap kepergian mereka dengan heran karena melihat Andra bersama seorang gadis
"Kak Galuh" teriak Andra yang membuat Galuh tersadar lalu berlari ke lantai atas.
*****
Kamar Andra
"Pak, bagaimana keadaan Zero?" tanya Arra cepat saat Galuh sudah memeriksa Zero
Seakan mengerti tatapan heran dan diamnya Galuh membuat Andra bersuara
"Dia Mami Zero, Kak"
"APA??!!"
"Om jannan libut, Zelo mau bobo" gerutu Zero tiba-tiba yang membuat Andra tertawa
"Pak?" panggil Arra pelan yang membuat Galuh kembali menatapnya
"Zero baik-baik saja, hanya demam biasa. Ini obatnya diminum tiga kali sehari dan jangan mandikan dia jika badannya masih panas"
"Terima kasih, Pak"
"Andra, bisa keluar sebentar?"
"Sayang, Mas keluar sebentar ya. Zero bobo sama Mami ya" ucap Andra yang pamit kepada Arra dan Zero membuat Galuh melongo seketika
"Kak, katanya mau keluar" ketus Andra yang membuat Galuh tersadar lalu keluar bersama Andra menuju ruangan kerja Andra
"Andra, kamu kemasukan setan apa?"
"Mulut Kak Galuh mau di lem ya?" gerutu Andra kesal
"Hahaha...Kakak heran saja melihatmu yang seperti anak ABG yang dimabuk cinta"
__ADS_1
"Ceh" desis Andra terkekeh pelan
"Dan jelaskan sekarang bagaimana bisa kamu bertemu gadis itu?"
"Zero yang menemukannya--"
"Jelaskan dengan jelas, Andra"
"Kak Galuh, kenapa memotong ucapan ku?"
"Hahaha...Baiklah lanjutkan"
"Zero kabur dari rumah Tania dan bertemu dengan Arra di taman lalu Zero meminta Arra untuk mengantarnya ke kantorku"
"Dan kau menjalin hubungan dengannya sekarang?"
"Aku ditolak tiga kali, Kak"
"Apa? Bagaimana bisa seorang Andra Dirgantara ditolak?"
"Itu menandakan bahwa aku juga manusia biasa"
"Ceh" desis Galuh tertawa
"Tapi memang serius, Kak. Aku ditolak Arra tiga kali"
"Lalu kenapa sekarang kalian bisa menjalin hubungan?"
"Sebenarnya setelah aku ditolak tiga kali, aku tetap kekeh memintanya jadi istriku dan akhirnya dia hanya diam nggak jawab jadi ku simpulkan bahwa dia menerimaku"
"Kau gila, Andra?"
"Salahkan dia Kak membuat seorang Andra jatuh cinta"
"Jadi kau sudah bisa membuka hati?"
"Eum, entahlah tapi aku selalu penasaran tentangnya jadi ku ajak menikah saja dengan alasan menjadi Ibu sambung Zero tapi aku malah ditampar" ucap Andra yang membuat Galuh tertawa kencang
"Aku masih nggak ngerti sama perasaanku, Kak. Lagian kami belum lama bertemu dan aku harus menyelesaikan beberapa hal seperti persidangan hak asuh Zero"
"Ngomong-ngomong dia sudah bekerja?"
"Lulus sekolah saja belum" gumam Andra pelan yang membuat Galuh benar-benar terkejut
"****!! Kau gila? Anak ABG mau kamu ajak nikah? Astaga aku benar-benar nggak ngerti sama kamu. Dia lebih cocok menjadi kekasih Andre"
"Takdir menuntunnya bertemu denganku bukan dengan Andre. Aku juga akan memperjelas hubungan saat dia lulus sekolah nanti jadi tenanglah Kak, aku nggak menikahi seorang gadis dibawah umur"
"Kalian berbeda jauh, Andra. Status dan umur kalian saja sangat berbeda, apa dia benar-benar bisa menjadi istri dan Ibu yang baik untukmu dan Zero?"
"Kak Galuh nggak pernah lihat kan Zero seakrab itu dengan orang asing bahkan nggak sampai seminggu mereka bertemu"
"Iya sih, kakak juga bingung melihat Zero yang sangat anteng di pelukannya tadi"
"Bahkan Zero nggak mau lepas darinya, Kak. Setiap hari saja Zero selalu mencarinya seakan sudah terikat dengan Arra"
"Hem ya sudah jika itu yang terbaik untukmu dan Zero, kakak mendukung saja. Zero juga membutuhkan sosok seorang Ibu dan kakak lihat Arra sangat menyayangi Zero"
"Jangan katakan pada keluarga ku dulu Kak sebelum aku menyelesaikan persidangan"
"Baiklah. Oh ya, bagaimana dengan Gladis?"
"Cih, mengapa kau menanyakan wanita kasar itu?"
"Wanita kasar? Ada apa dengannya?"
"Kak Galuh pasti terkejut mendengarnya. Dia menyiram kepala Zero dengan susu cokelat karena Zero berlari menabraknya dan nggak sengaja membuat dress nya basah lalu Arra membela Zero dan Kak Galuh tau apa yang dilakukan Gladis? Dia menampar Arra bahkan sampai sekarang wajah Arra masih memerah karena tamparannya"
"Astaga, kamu serius? Gladis yang melakukan itu? Model yang selalu di puja media?" tanya Galuh terkejut yang membuat Andra mengangguk pelan
__ADS_1
"Menjauh lah darinya karena dia nggak pantas menjadi Ibu sambung Zero"
"Sangat mudah bagiku jika Ibu nggak ikut campur dengan urusanku dan Gladis. Kak Galuh tau kan Ibu sangat menyayanginya"
"Tante nggak mau merestui kalian kalau dia tau apa yang dilakukan Gladis terhadap Zero"
"Ya, semoga saja"
"Kakak pergi sekarang. Rumah sakit membutuhkan kakak"
"Cih, jangan terlalu gila kerja atau Kak Galuh nggak akan dapat wanita"
"Kurang ajar"
*****
Kamar Andra
Andra masuk ke dalam kamarnya dan melihat Arra yang sedang duduk di lantai dengan membaringkan kepalanya didekat lengan Zero dan tak lupa untuk menggenggam erat tangan mungil itu
"Sayang?" panggil Andra pelan namun tak ada jawaban
"Arra Sayang?"
Andra memberanikan diri untuk menepuk pelan bahu Arra hingga membuat gadis itu terbangun seketika
"Eh--kenapa Mas? Duh, maaf ya Mas aku ketiduran"
"Kenapa nggak naik di atas tempat tidur?"
"Nggak sopan, Mas"
"Ceh kamu ini, kamar ini juga akan menjadi milikmu setelah kita menikah nanti"
"Iya jika aku menerimanya, Mas" ucap Arra yang membuat Andra menatapnya dengan wajah memelas
"Mas, kenapa sih? Seperti Zero saja suka ngambek"
"Kamu sih mulutnya nggak pernah dikontrol. Sudah sana tidur di atas"
"Ta-tapi Mas nanti tidur dimana?"
"Mas bisa tidur di sofa. Kan kita belum sah jadi Mas nggak boleh ikut kamu tidur di atas" ucap Andra yang membuat Arra menatapnya tajam
"Dasar mesum" ketus Arra dengan wajah kesalnya
"Kamu menginap, Sayang?"
"Liat keadaan Zero juga, Mas. Aku nggak enak juga nginap, nanti dikira tetangga macem-macem"
"Ya bagus dong biar kita cepat nikahnya"
"Astaga, Mas Andra nih ngomongnya nggak di rem"
"Hahaha...Bercanda cantik. Menginap saja, Mas nggak bakalan macem-macem kok, disini juga banyak pelayan"
"Tapi kan aku nggak bawa baju ganti, Mas"
"Tenang itu mah, kamu bangun nanti tau-tau di kamar udah ada toko pakaian"
"Itu namanya mimpi, Mas"
"Kenapa nggak percaya sama Mas, sih?"
"Aku tidur ya, Mas" ucap Arra lalu berlari kecil ke arah kiri tempat tidur dan mulai membaringkan tubuhnya membuat Andra gemas melihat tingkahnya
"Selamat tidur, Sayang" ucap Andra terkekeh pelan melihat wajah merah Arra yang malu-malu.
*
__ADS_1
*
*