Cewek ABG & Duda Keren

Cewek ABG & Duda Keren
S2 : Penjelasan Andra


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


Tok tok tok


Andra mengetuk pelan pintu kamar anak gadisnya yang sejak makan malam tidak keluar kamar seolah ingin mengurung dirinya sendiri.


Klek


Perlahan, terdengar suara pintu yang dibuka dari dalam.


"Apa Papi dan Mami boleh masuk?" tanya Andra seraya menatap anak perempuannya yang sedang menunduk.


"Sayang, Papi berbicara." Arra perlahan mengelus pucuk kepala Zira yang saa itu masuk menunduk.


"Bukankah harus mengobrol di ruang kerja Papi ketika ada masalah?" tanya Zira dengan suara yang sangat pelan namun tetap bisa didengar oleh kedua orang tuanya.


Andra tersenyum tipis. "Di kamar mu juga boleh jika anak Papi mengizinkannya."


Zira pun mempersilahkan kedua orang tuanya untuk masuk ke kamarnya yang sedikit berantakan.


"Maaf, Zira belum membersihkannya" ucap Zira jujur.


"Nggak masalah, Papi hanya ingin mengobrol santai."


Perlu diketahui bahwa setiap kamar yang ada di rumah Andra memiliki balkon yang cukup luas untuk sekedar bersantai. Seperti di kamar Zira sekarang, Andra mengajak istri dan anaknya untuk duduk santai di balkon kamar milik sang anak.


"Bagaimana dengan sekolah akhir-akhir ini?" tanya Andra memulai pembicaraan.


Zira menghela nafas berat. Ia tau apa yang akan menjadi topik pembicaraan malam ini. "Papi, Zira tau kalau Papi ingin membahas hubungan Zira dengan Kak Gibran."


"Maaf, Papi hanya ingin berbasa-basi dulu" ucap Andra tertawa canggung sedangkan Arra hanya tersenyum tipis.


"Gladis adalah seorang yang ternama yang pernah dijodohkan dengan Papi. Nenek mu selalu memaksa Papi untuk menikahi Gladis karena ingin reputasi DGroup dan keluarga Dirgantara semakin melambung. Sejak awal, Papi nggak pernah menaruh harapan lebih dengan Gladis walaupun beberapa kali ia terlihat sengaja menggoda Papi dengan bantuan Nenek mu. Setelah bertemu dengan Mami, Papi semakin menutup hati dari wanita mana pun sehingga walaupun beberapa kali diterpa masalah yang ada sangkut pautnya dengan Gladis, Papi nggak pernah tertarik dengannya. Setelah menikah, Papi nggak pernah mendengar kabar apapun dari Gladis bahkan Uncle Leo juga nggak pernah memberikan informasi apapun. Papi benar-benar nggak tau kalau Gibran itu anak Gladis karena seperti yang Zira juga tau bahwa Gibran anak yatim piatu."

__ADS_1


Andra menjelaskan panjang lebar tentang masa lalunya yang bersangkutan dengan Gladis membuat Zira hanya diam walaupun ia sendiri terkejut bahwa ternyata memang dari awal bukan Papi nya yang salah.


"Sayang, maafkan Papi karena masa lalu Papi malah membuatmu terluka" ucap Andra tulus seraya mengelus pelan tangan Zira yang ada di hadapannya.


Zira menggeleng pelan. "Bukan, ini bukan salah Papi. Kalau memang nggak ada rasa, buat apa dipaksa untuk tetap melanjutkan hubungan, kan? Tindakan Papi sudah benar, namun mungkin saja karena itu Ibu nya Kak Gibran menaruh dendam sejak dulu. Mungkin saja Ibu nya berpikir bahwa jika dia yang terkenal saja nggak bisa mendapatkan Papi, orang lain pun nggak akan bisa termasuk Mami. Zira nggak mau kalau Papi menyalahkan diri sendiri seperti ini. Zira gapapa, selagi Zira mempunyai Papi, Mami, dan Abang.."


Gadis itu benar-benar duplikat Arra. Dengan umur yang masih muda namun memiliki pemikiran yang sangat dewasa membuat Andra menatapnya kagum.


"Untuk masalah Zira dan Kak Gibran, Zira harap Papi dan Mami jangan terlalu memikirkan itu. Memang rasanya pasti sakit karena Zira yang nggak tau apa-apa malah dijauhkan secara sepihak, tapi kita nggak tau kan mungkin saja Kak Gibran sama sakitnya dengan Zira."


Arra mengelus pucuk kepala sang anak seraya tersenyum. "Anak Mami hebat sekali karena membuat Mami, Papi, dan Abang Zero bangga."


"Terima kasih ya, Sayang" ucap Andra yang juga mengelus pucuk kepala anaknya.


Zira menatap Papi nya dengan tatapan heran. "Terima kasih untuk apa, Pi?"


"Terima kasih karena putri kecil Papi berpikir seperti itu."


*****


Pagi ini adalah hari yang sangat ingin dihindari oleh Zira karena ia akan berangkat ke sekolah seperti biasa. Walaupun gedung sekolahnya sangat besar dan memiliki lapangan yang sangat luas, tetap saja Zira sedikit khawatir jika akan bertemu dengan Gibran karena ia tidak tau harus bersikap seperti apa.


Zira segera berjalan menuju kelasnya dan benar saja, ia bertemu Gibran yang juga baru sampai di parkiran.


Sekuat tenaga Zira menghindar dari lelaki yang sudah lama masuk ke dalam hidupnya itu. Zira melangkahkan kakinya dengan cepat agar Gibran tidak menyadari kehadirannya.


"Zira."


Bukan, itu bukan suara Gibran, melainkan suara Kaizer, teman sekelasnya.


"Y-ya? Ada apa?" tanya Zira sopan.


Kaizer tersenyum tipis lalu kembali membuka suara. "Kau melamun? Tali sepatu mu terlepas."


Lelaki itu segera menunduk untuk memasang kembali tapi sepatu Zira membuat gadis itu terdiam seketika melihat perlakuan sosok lawan jenis dihadapannya.


"Ayo ke kelas bersama" ajak lelaki itu yang membuat Zira tersadar dari lamunannya.


"Ketua OSIS itu memperhatikanmu sejak tadi" bisik Kaizer pelan hingga membuat Zira segera mengikuti langkahnya.

__ADS_1


*****


"Loh? Tumben sekali dua jomblo ini tiba-tiba berangkat bersama?"


Tentu saja kelas Zira heboh ketika melihat dirinya dan Kaizer, lelaki idaman yang tiba-tiba berangkat bersama.


"Hei, ada apa dengan kalian? Bagaimana dengan Kak Gibran?"


Intan yang tidak sabar dengan itu segera memberikan pertanyaan kepada Zira yang baru saja duduk di kursinya.


Zira menggeleng pelan. "Nggak ada apa-apa, memangnya kenapa?" tanya nya heran.


"Bagaimana orang nggak terkejut melihat Kaizer si kutub utara idaman semua perempuan yang nggak pernah dekat bahkan berbicara dengan perempuan mana pun tiba-tiba berangkat bersama putri tunggal Dirgantara?"


Zira tertawa pelan karena pikirnya sahabatnya ini terlalu berlebihan.


"Aku nggak sengaja berpapasan dengannya lalu ke kelas bersama, memangnya salah?"


"Salah besar! Bagaimana jika Kak Gibran melihatnya? Lalu bagaimana jika ia cemburu? Apa nama mu akan masuk dalam base sekolah hari ini?"


Maudy yang sejak tadi diam pun ikut berbicara karena ia sangat penasaran.


"Hei, jangan berlebihan seperti ini" ucap Zira tertawa canggung.


Ketiga sahabatnya diam menatap Zira dengan penuh tanda tanya. Mereka bukan orang yang mengenal Zira hanya satu atau dua hari, namun sudah bertahun-tahun. Jadi mereka menyadari bahwa gadis itu sedang menutupi sesuatu.


Zira yang melihat ketiga sahabatnya yang sedang diam pun berusaha untuk menghindar karena takut ditanyakan lebih lanjut.


"Hei, jujur pada kami, apa yang terjadi antara kau dan Kak Gibran?" Intan memulai pembicaraan kembali.


"Jangan bilang kalau kalian sudah putus?!"


"Putus? Siapa yang putus?"


Mampus.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2