Cewek ABG & Duda Keren

Cewek ABG & Duda Keren
Kesal


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


Arra terdiam ketika melihat punggung yang sangat ia kenal sedang berciuman dengan wanita yang pernah hampir dijodohkan dengan suaminya.


Jika ada yang memikirkan bahwa Arra akan pergi menjauh, kalian salah. Lihatlah sekarang Arra yang berjalan dengan santai menghampiri keduanya.


Tangan mungil itu segera bergerak menarik rambut Gladis dengan kasar hingga membuat wanita itu merintih kesakitan, sedangkan Andra benar-benar terkejut melihat istri dan anaknya yang tiba-tiba ada dihadapannya.


"Kau gila?! Lepaskan aku wanita aneh!" teriak Gladis menjadi-jadi ketika tarikan di rambutnya semakin kasar.


Arra tersenyum tipis. "Jangan suka menggoda suami orang."


Setelah mengucapkan itu Arra langsung melepaskan tarikan dengan kasar membuat tubuh Gladis terhuyung ke belakang.


Tentu saja Gladis naik pitam hingga tangannya bergerak ingin memukul Arra namun sayang wanita itu bergerak lebih cepat untuk menahan tangannya.


"Ah, aku muak dengan wajahmu. Kau kira aku akan pergi dan menangis lalu meminta cerai dengan suamiku setelah melihatmu yang mencari kesempatan dan membuat masalah di hubungan kami? Kau salah besar, Nona."


Plak


Baik Andra maupun Zero benar-benar terkejut melihat perlakuan Arra yang kasar bahkan berani memukul Gladis di hadapan Zero.


"Itu hukuman karena berani mengganggu milik orang lain. Jangan membuat diri mu malu dengan merebut punya orang."


Karena merasa malu dengan tindakan Arra tersebut, Gladis segera pergi dari sana membuat Andra dan Zero segera mendekati Arra. Tiba-tiba


"Huaaaaa" Arra menangis kencang yang membuat Andra dan Zero panik.


"Sayang, kenapa?! Ada apa?!"


"Mami? Mami thenapa?"


"Mami memukulnya.." ucap Arra pelan.


Bukannya kasihan, Zero malah memberikan kedua jempolnya kepada Arra. "Itu upah kalena mau melebut Papi. Kata Untel Andle, kita halus membuat hama bonyok."


Hal itu malah membuat tangis Arra semakin kencang. Ia merasa sangat bersalah karena dengan berani bersikap kasar di hadapan Gladis. Namun entah kenapa ia merasa benar-benar kesal dengan wanita itu yang selalu mencari celah agar bisa masuk ke dalam hubungannya dengan Andra.

__ADS_1


"Mami, ayo kita mam ikim caja" ajak Zero yang membuat tangis Arra reda.


Andra yang melihatnya pun harus sekuat tenaga menahan tawa karena jika ia kelepasan tertawa, Arra pasti akan memarahinya.


Saat melihat istri dan anaknya yang sibuk memakan ice cream tanpa menyadari kehadirannya, Andra pun duduk disebelah Arra lalu mengelap bibir istrinya yang belepotan membuat Arra menatapnya tajam.


"Sayang.." panggil Andra pelan karena takut membuat wanita hamil itu semakin kesal dengannya.


Arra hanya menoleh sebentar lalu fokus memakan ice cream nya. Hal itu membuat Andra menghela nafas berat, namun Arra malah mengira Andra lelah dengan sifatnya.


Arra menjauhkan cup ice cream dari hadapannya lalu menunduk. "Maaf.." ucap Arra pelan.


"Hei, kenapa minta maaf?!" Andra semakin panik dibuat sang istri.


"Mas sudah lelah ya menghadapi Arra yang seperti anak kecil? Mas pasti malu karena Arra menarik rambut dan memukul Gladis didepan umum.. Mas juga pasti lelah karena Arra selalu merepotkan Mas Andra.. Mas pa—"


"Ssttt, jangan ngomong aneh-aneh. Kenapa Mami tiba-tiba overthinking sih hm?"


Andai aja ini bukan tempat umum, bisa dipastikan Andra akan langsung membungkam mulut itu dengan ciuman. Ah, Andra ingin sekali mencium bibir istrinya yang belepotan karena ice cream.


"Mas menghela nafas karena lelah dengan Arra.."


Sekuat tenaga Andra menahan tawa melihat wajah pasrah Arra yang seolah takut dimarahi oleh Andra. "Nggak, Sayang. Ayo ke kantor saja nanti Mas jelaskan" ucap Andra karena tidak pas rasanya jika ia menjelaskan di tempat umum seperti ini.


"Hu'um Zelo uga Zelo uga" ucap Zero mengangkat tangannya hingga membuat Andra tertawa melihat istri dan anaknya.


*****


Saat ini ketiganya sedang berada di ruangan Presdir dengan Arra dan Zero yang masih sibuk memakan sisa ice cream mereka seolah memang tidak menghiraukan Andra yang sejak tadi menatap mereka.


"Sayang" panggil Andra pelan.


"Mas bicara aja, Arra masih mau makan ice cream nya masih banyak" ucap Arra yang membuat Arra terkekeh pelan.


"Mas pergi kesana harusnya untuk bertemu klien karena Leo sedang ada perjalanan, jadi Mas harus bertemu sendiri. Entah kenapa tiba-tiba disana juga ada Gladis yang membuat Mas langsung pergi namun Gladis lebih dulu menahan tangan Mas. Gladis meminta maaf atas semua kejadian yang terjadi dan mengucapkan selamat untuk pernikahan, tapi tiba-tiba dia malah mendekatkan wajahnya dan menyentuh leher Mas karena adanya ada sisa benang yang pasti kalau dilihat dari belakang akan seperti orang sedang berciuman. Setelah melihat kedatangan mu dan Zero, Mas baru sadar kalau itu hanya siasat Gladis untuk membuat masalah di hubungan kita." Andra menjelaskan semuanya tanpa ada yang ditutupi dari wanitanya.


"Kenapa ponsel Mas Andra nggak aktif? Mas lupa ada janji mau bertemu adik? Harusnya kalau ada pertemuan dengan klien nggak usah janji untuk mengantarkan Arra. Memangnya Mas bisa berada di dua tempat sekaligus?"


Jangan lupakan hal tadi, tentu saja dalam hatinya Arra masih kesal karena Andra mengingkari janji dan membuatnya seperti wanita hamil yang sangat menyedihkan.


"Maaf, Sayang. Mas bahkan nggak ingat naruh ponsel dimana, sepertinya ponsel Mas tertinggal di sini."


"Ponsel Mas mati, bagaimana klien itu mengabari Mas jika sudah ada ditempat?"

__ADS_1


"Mas sudah mengenalnya."


"Huh, terserah saja. Jangan membuat janji lagi kalau nggak bisa ditepati, Mas nggak tau kan gimana menyedihkannya Arra sendirian kesana disaat semua ibu hamil ditemani oleh suami mereka. Bahkan Arra sempat dibilang janda.."


Arra benar, ucapan seorang wanita hamil saat ia lewat tadi masih teringat jelas olehnya. Wanita itu mengobrol dengan suaminya dan mengatakan bahwa arra terlihat kasihan dengan perut yang membesar tanpa didampingi oleh suami bahkan wanita tersebut mengira Arra sudah janda.


"Maaf, Sayang.. Mas janji akan ikut bertemu adik lagi selanjutnya."


Plak


"Arra sudah bilang jangan berjanji kalau nggak bisa ditepati."


"Mami? Papi? Apa cudah libut nna?"


Celetukan Zero membuat pasangan suami istri itu tersadar bahwa sejak tadi anak mereka mendengar semua ucapan mereka.


"Eh—maaf, Sayang" ucap Arra tersenyum canggung.


Zero menatap Mami nya. "Mami da kacih tau adik cuka apa ke Papi?"


Arra bahkan lupa untuk mengabari jenis kelamin anak mereka karena terlalu kesal dengan sang suami.


"Loh?! Sudah bisa terlihat, Sayang?! Jadi, bagaimana?!"


"Mas mau adik jenis kelamin apa?" tanya Arra balik.


Andra tersenyum tipis seraya mengelus pucuk kepala Arra dengan lembut. "Mau itu perempuan dan laki-laki lagi seperti Zero, yang penting ibu dan anak sehat" ucap Andra yang membuat Arra tersenyum tipis.


Arra masih ingat bagaimana Andra menceritakan bahwa dirinya sangat menginginkan anak perempuan. Dan sepertinya takdir sudah menjawab doa Andra selama ini.


"Selamat ya, Mas."


Tentu saja hal itu membuat Andra mengerutkan keningnya heran. "Selamat? Untuk apa, Sayang?"


"Mas akhirnya bisa mengurus anak perempuan."


Mata Andra membulat seketika.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2