Cewek ABG & Duda Keren

Cewek ABG & Duda Keren
Deep Talk


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH yađŸ„°đŸ˜...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading GuysđŸ„°đŸ˜˜!!!!


*****


"Zero kuat makan pedas?”


“Da, yang mam dalah nya kan Untel. Mami ajal Zelo ya mam dalah”


“Zero mau coba makan pedas?”


“Iya, Mami ajal ya”


“Nggak takut?”


“Da, kata Untel kalo Zelo mam dalah bica belenang belcama ikan ndut”


“Ah jadi anak Mami ingin berenang?”


“Hu’um belcama Papi”


“Kenapa nggak mau bersama Uncle Andre?”


“Katanya Untel da bica telkena ail kalena bica belubah menjadi putela duyung”


“Hahaha..”


Gelak tawa memenuhi ruangan saat ocehan keluar dari mulut kecil Zero


“Andre, jangan mengajarinya hal aneh” tegur Arra pelan


“Loh? Aku mengatakan yang sebenarnya, Ra”


“Lalu jika ingin mandi nggak kena air, begitu?”


“Da, Untel mandi bola, Mi” jawab Zero tepat dan lagi-lagi membuat Andre tertawa seketika


“Astaga”


*****


Saat sedang menikmati tawa Zero yang bermain bersama Andre, ponsel Arra berdering menandakan sebuah pesan masuk


Kak Leo


Ra, seperti yang kita harapkan.-Leo


Jika Andra terlihat sedikit berbeda, jangan diambil hati ya karena sepertinya dia sedang lelah.-Leo


Arra menatap heran pesan kedua dari Leo karena selama yang ia ketahui, selelah apapun Andra tidak akan pernah menunjukkan itu terhadapnya


“Ada apa, Ra?” tanya Andre yang ternyata sudah berhenti bermain bersama Zero karena bocah itu sudah tertidur nyenyak


“Zero tidur?”


“Iya, sudah nyenyak. Ada apa?”


“Hak asuh ada ditangan Mas Andra”


“Puji Tuhan”


“Iya bersyukur sekali karena Zero bisa bersama kembali dengan Ayah kandungnya”


“Ra, berhati-hatilah”


“Apa maksudmu?”

__ADS_1


“Aku mengenal Tania, dia akan mencari tau lebih tentang kenapa Kak Andra baru sekarang mengajukan banding setelah 2 tahun berpisah. Aku nggak mau lihat kamu terluka karena Tania”


“Andre..” ucap Arra ragu


“Katakan”


“Eum.. Apa aku salah? Apa aku.. salah menerima Mas Andra dengan perbedaan kami yang begitu jauh?”


“Kau menyukainya?”. Hening


“Oke, aku tau jawabannya. Perasaan nggak bisa disalahkan, Ra. Apa hubungan harus dilihat dari status? Umur? Sifat? Bukannya perbedaan lebih indah?”


Lagi-lagi Arra hanya terdiam karena semua pertanyaan Andre benar-benar membuatnya telak


“Kau bahkan tidak berani untuk menentang perkataan ku. Ini takdir, Ra”


“Lalu Ibu kandung Zero ba--“


“Kak Andra tau apa yang harus dilakukannya. Percayalah, dia sudah dewasa dan akan menjagamu”


“Bukan tentang ku. Tapi tentang bagaimana Zero yang memanggil ku Mami, aku takut..”


“Disaat seperti ini yang kau pikirkan hanya Zero? Benar-benar baik sekali”


“Kalau tidak memikirkan Zero, lalu aku memikirkan siapa lagi?”


“Kak An--“


“Mas lah”


Tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan masuklah Andra juga Leo yang membuat Arra dan Andre sangat terkejut


“Kenapa? Memangnya salah?” tanya Andra heran saat melihat wajah Arra yang masih terkejut


“Eh nggak bukan gitu, Mas”


“Andre pulanglah bersama Leo”


“Mau berkencan bersama calon istri lah, memangnya kamu” ketus Andra kesal


“Sombong amat”


“Heh dasar bocah tengik”


“Ayo Kak Leo kita pergi saja, sepertinya pesawat menuju mars berangkat 10 menit lagi”


“Hah?”


“Kak Leo kenapa lemot sekali? Maksud ku kita pergi dari sini karena sepertinya bumi sudah menjadi milik kak Andra dan Arra”


“Oh begitu” ucap Leo seadanya membuat Andre kesal sedangkan Andra tertawa kencang


“Sudahlah, Kak Leo memang susah diajak bercanda. Aku pulang”


“Ke rumah?”


“Iya, rumah Kak Andra” ucap Andre lalu pergi


“Saya juga pamit pergi, Pak Andra”


“Jangan lupa beli tiket ke mars ya, Kak Leo” ucap Arra terkekeh pelan


“Jangan jatuh cinta kepada calon istriku, O”


Astaga.-Leo


“Tidak, Pak”


“Awas saja kau”

__ADS_1


“Mas” tegur Arra yang membuat Andra tersenyum tipis.


*****


Setelah semuanya pergi, Andra mendudukkan dirinya di sofa yang ada di ruangan tersebut disusul oleh Arra yang juga duduk tepat disebelahnya dengan mata yang tak lepas dari Zero yang tertidur di ranjang rumah sakit


“Mas ingin tidur”


Tiba-tiba Andra membaringkan kepalanya di pangkuan Arra membuat gadis tersebut sedikit tersentak


“Mas?” panggil Arra pelan


“Hm?”


“Gimana hari ini? Apa ada hal yang bikin Mas kesal?” tanya Arra seraya mulai mengelus rambut Andra membuat sang pemilik rambut tersenyum tipis namun tetap dengan menutup matanya


“Mas ingin cerita?”


“Huh Mas malas bicara”


“Yasudah Mas istirahat aja ya, Arra tau Mas pasti kelelahan”


“Sayang, kamu nggak masalah kalau Mas tidak bercerita?” tanya Andra heran karena Arra tidak memaksanya untuk bercerita terlebih lagi ini hari yang cukup menegangkan


“Mas, nggak semua hal harus Mas ceritakan ke Arra, ada hal yang memang harus cukup dipendam dengan sendirinya. Meskipun begitu, jangan mengira bahwa Mas tidak punya teman cerita karena Arra disini ada untuk Mas kapan pun Mas membutuhkan Arra” ucap Arra tersenyum tipis


“Mas beruntung bertemu denganmu, kalau nggak pasti Andre yang lebih dulu” gumam Andra yang membuat Arra mencubit pelan lengannya


“Tapi Mas benar, kan? Nggak kebayang bagaimana hidup Mas tanpa kamu apalagi jika kamu menjadi adik ipar Mas. Huh, sepertinya Mas harus berterima kasih kepada Zero” ucap Andra yang membuat Arra tertawa


“Hei, jangan tertawa”


“Kenapa?” tanya Arra mengerutkan kening


“Mas nggak yakin bisa tahan untuk beberapa bulan ke depan”


“Maksud, Mas?”


“Setiap melihat senyum mu, Mas nggak sabar untuk tinggal satu rumah”


“Astaga, Tuan mesum” ketus Arra yang membuat Andra tertawa seketika


“Hei, apa yang dipikirkan oleh calon istriku ini? Mas hanya mengatakan bahwa ingin tinggal satu rumah” ucap Andra yang membuat Arra gelagapan


“Mas, diam ya” ketus Arra kesal


“Hahaha, baiklah. Sayang, Mas jadi ingin bercerita banyak”


“Ayo bercerita” ucap Arra bersemangat


“Sebelumnya Mas ingin bertanya, apa Mas terlihat seperti orang yang gila kerja?” tanya Andra yang membuat Arra menatapnya heran


“Mas ingin jawaban yang jujur atau bohong?” goda Arra menahan senyum


“Hei mana ada pertanyaan seperti itu” ketus Andra memanyunkan bibirnya


“Hahaha, Arra hanya bercanda Mas. Jika boleh jujur sebenarnya Mas memang seperti orang yang gila kerja padahal sudah sangat kaya bahkan mungkin bisa mencukupi anak cucu Mas”


“Benarkah? Mas bahkan nggak sadar” tanya Andra terkejut


“Arra mengerti kenapa Mas seperti itu, mungkin karena Mas merasa hidupnya kesepian karena sebelum Zero ada pasti Mas selalu sendiri, terlebih saat Arra melihat Mas yang sangat susah mengekspresikan perasaan Mas sendiri jadi singkatnya Mas selalu meluapkan semua emosi dengan bekerja” ucap Arra pelan membuat Andra terdiam


“Mas, semua orang nggak pernah menunjukkan perasaannya dengan cara yang sama begitu juga dengan Mas Andra yang terlihat susah tapi Arra yakin Mas Andra juga manusia seperti yang lainnya yang punya rasa sedih dan senang hanya saja Mas terlalu sering memendam jadi perasaan itu hanya terkubur dalam diri Mas Andra. Nggak masalah, banyak kok orang yang seperti itu, Mas. Jika boleh tau memangnya kenapa Mas tiba-tiba bertanya begitu?” tanya Arra lembut


“Mas hanya masih memikirkan ucapan Tania tadi” ucap Andra pelan.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2