
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Zero mengepalkan tangannya ketika mendengar informasi tentang adik perempuannya tersebut. Tak butuh waktu lama untuknya segera kembali ke Indonesia tanpa memberitahukan apa-apa.
Sebenarnya, beberapa hari ini Zero benar-benar merasa tidak nyaman dan selalu memikirkan Zira. Setiap kali ia bertanya kepada semua orang, jawabannya pasti tetap sama dengan mengatakan Zira baik-baik saja. Namun, feeling seorang kakak benar-benar kuat sehingga tanpa sepengetahuan keluarga Dirgantara, Zero mengurus seseorang untuk mencari informasi tentang Zira.
Dan benar saja, informan itu mendapatkan bukti bahwa Gibran mengkhianati Zira hingga membuat Zero benar-benar emosi dan langsung kembali ke Indonesia tanpa sepengetahuan siapapun.
*****
Saat itu Gibran baru saja keluar dari ruang OSIS karena mereka baru saja menyelesaikan rapat akhir tahun. Diego, salah satu teman akrabnya pun memanggilnya.
"Gib, nongkrong dulu kuy!"
"Dimana?" tanya Gibran singkat.
"Cafe tempat Erfan bekerja."
Gibran pun mengangguk tanda setuju karena sudah lama juga rasanya ia tidak berkumpul bersama teman-temannya karena terlalu sibuk mengurus organisasi.
Tak butuh waktu lama untuk keduanya sampai di tempat yang sudah ditentukan, dimana ternyata yang lain sudah sampai dan hanya tersisa mereka berdua saja.
"Susah sekali mengajak Bapak Ketua ini" gerutu Erfan ketika melihat Gibran datang.
Gibran hanya terkekeh pelan.
"Sudah lama rasanya kita nggak berkumpul seperti ini" ucap Diego yang membuat semuanya mengangguk tanda setuju.
"Anyway, aku melihat base sekolah dan ada berita yang cukup heboh karena untuk pertama kalinya seorang putri tunggal Dirgantara masuk akun base sekolah, yang membuat heboh lagi karena digosipkan dengan Gibran. Karena kita sudah berkumpul dan untungnya Gibran ada, kita hanya ingin tau apa yang terjadi?"
Gibran menghela nafas pelan. Padahal, ia pergi ke cafe dan berkumpul dengan teman-temannya untuk melupakan sejenak tentang gadis yang setiap hari tidak pernah absen dalam pikirannya, tapi ternyata temannya malah mengungkit topik itu.
__ADS_1
"Oh itu, Zira bilang bahwa mereka nggak ada hubungan apa-apa, hanya mengobrol tentang beberapa pelajaran" jawab Diego sesaat sebelum ia menyantap kentang goreng dihadapannya.
Gibran menatap sahabatnya itu dengan tatapan heran. Apa maksud dari ucapan Diego tadi? Apakah Diego pernah membahas hal ini dengan Zira? Dan yang lebih pentingnya adalah, apakah Diego akrab dengan Zira?
"Mengobrol pelajaran atau mengobrol masalah hati?" guru salah satu temannya yang membuat Gibran hanya terkekeh pelan.
"Kalian seperti belum mengenalku saja, aku sangat malas membahas masalah base sekolah karena isinya kebanyakan hanya gosip dan berita hoax" jawab Gibran seadanya.
Mereka pun kembali berbincang-bincang seperti halnya teman yang sudah lama tidak bertemu hingga tiba-tiba pintu cafe terbuka membuat Erfan segera berdiri untuk melayani tamu tersebut.
Erfan yang pertama kali melihat tamu itu langsung terkejut karena ia mengenal orang itu terlebih ketika langkah kaki lelaki itu semakin dekat ke arah meja mereka.
"Gibran? Bisa bicara sebentar?"
Deg.
Gibran terdiam dan tubuhnya menegang ketika mendengar jelas suara Zero yang baru saja ia dengar.
"K-kak Zero?"
Tanpa menjawab ucapan Gibran, Zero pun segera pergi terlebih dahulu hingga membuat lelaki itu pun hanya bisa mengikutinya dari belakang.
*****
"Ada ap—"
Bugh
Bugh
Bugh
Belum sempat Gibran menyelesaikan ucapannya, pukulan Zero sudah mendarat bebas pada wajah mulusnya yang baru saja sembuh dari memar akibat tamparan Leo.
"Aku sudah memperingatkan mu berkali-kali, Gib!" ucap Zero dengan suara yang tertahan emosi.
Gibran hanya diam seraya perlahan mengusap bibirnya yang mengeluarkan darah segar. Melihat itu, Zero menatap lelaki dihadapannya dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Sejak awal aku memang salah menduga dengan sosok mu."
"Maaf." Gibran hanya bisa mengucapkan kata maaf.
Entah kenapa, ia berani berucap walaupun hanya satu kata d hadapan Zero. Padahal saat Leo mendatanginya, Gibran tidak mengeluarkan satu kata pun bahkan ia hanya bisa menahan diri untuk tidak mengusap darah yang keluar dari bibirnya akibat pukulan keras dari Leo.
"Apa bisa memulihkan hati Zira yang terluka?" tanya Zero menatap Gibran.
Gibran menggeleng pelan. Ia pun sadar, hanya dengan kata maaf tidak akan pernah bisa mengembalikan senyum Zira yang sudah hilang.
"Kau bisa membalasnya pada ku, mengapa kau tega menyakiti adikku?" lirih Zero lemah.
Jika menyangkut orang yang ia sayang, Zero benar-benar tidak akan tinggal diam dan sebisa mungkin ia harus menyelesaikannya termasuk jika harus melakukan hal seperti ini.
Zira adalah adik yang ia tunggu-tunggu sejak dulu bahkan hampir setiap hari ia memintanya kepada Andra dan Arra. Ia sadar, ketika adik kecilnya lahir di dunia maka ia harus menjaga Zira bagaimanapun caranya karena ia yang meminta sang adik untuk lahir.
Selama ini, Zero akan selalu mengutamakan kebahagiaan Zira daripada kebahagiaannya sendiri, bahkan ketika sang adik berbuat salah pun ia akan selalu mendukung Zira.
Zero benar-benar menyayangi adiknya.
"Aku menyayanginya lebih dari yang kau tau. Karena aku yang memintanya untuk lahir, jadi aku yang harus bertanggung jawab untuk menjaganya. Akan sangat membuatku sakit ketika melihat kau yang orang baru saja sudah berani menyakiti adikku seperti itu."
Gibran mengangguk pelan. Ia sendiri pun sadar akan apa yang ia lakukan kepada Zira dan Gibran sangat tau bahwa itu semua menyakiti hati gadis kecilnya.
Namun, satu hal yang tak pernah diketahui oleh semua orang adalah perasaan Gibran yang ikut hancur karenanya.
Gibran benar-benar mencintai Zira ada atau tanpa rencana balas dendam tersebut. Ia mencintai Zira sebelum ia tau bahwa dirinya digunakan sebagai alat untuk balas dendam.
Ketika semua orang menyalahkannya, Gibran hanya bisa pasrah karena ia sendiri tau bahwa ia tak pernah bisa membela diri. Jika dipikir-pikir kembali, Gibran juga disini sebagai korban yang harus merelakan perasaannya dan menyakiti dirinya. Namun, seolah semuanya menutup mata akan hal itu hingga membuat lelaki ini semakin menderita.
Andai saja mereka tau bahwa Gibran juga harus menderita karena keputusan yang ia buat, keputusan yang tak bisa ia hindari lagi dan memang hanya itu satu-satunya cara agar Gladis tidak masuk ke dalam hidup Zira lalu menyakiti gadisnya lagi.
"A—aku mencintai Zira, Kak.."
*
*
__ADS_1
*