
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
"Sayang, sudah selesai?" tanya Andra ketika melihat sang istri yang sudah selesai melakukan skincare malam.
Arra menatap heran suaminya yang menunggunya sejak tadi lewat cermin di meja rias. "Mas pasti mau sesuatu" tebak Arra tepat sasaran.
"Ayo sini, kita bercerita" ucap Andra seraya menepuk pelan sisi di sebelahnya.
Arra kembali mengerutkan keningnya heran. "Arra kan tidur bersama Zero. Mas lupa jika Mas Andra sedang dihukum?" tanya Arra yang membuat wajah Andra memelas seketika.
"Sayang, malam ini akan hujan, masa Mas harus tidur sendiri?" rengek Andra yang membuat Arra tergelak seketika.
"Hukuman tetaplah hukuman."
"Bagaimana jika kita menghukum Zero karena membuat dapur menjadi sangat kacau?" usul Andra yang membuat Arra segera menatap kearahnya.
"Ah, bagus juga. Arra akan tidur di kamar tamu."
"Hei, bukan begitu maksud Mas."
"Hahahaha."
*****
Arra baru saja hendak menidurkan dirinya di tempat tidur, tiba-tiba Andra langsung menarik tangannya hingga Arra terjatuh tepat dihadapannya.
"Mas?!" ucap Arra sedikit terkejut.
Andra terkekeh pelan. "Lama" ucap Andra seraya mengerucutkan bibirnya.
"Hei, kenapa tiba-tiba ada bayi disini?" tanya Arra seraya menahan tawa melihat wajah Andra.
Andra mendengus kesal. "Arra sih nggak mau menghabiskan waktu bersama suami. Kan Mas kangen berduaan" ucap Andra dengan wajah kesalnya.
Arra tak bisa menahan tawa sehingga gelak tawanya memenuhi ruangan. "Mas Andra kenapa? Kok aneh? Nggak sakit, kan?" tanya Arra seraya meraba kening sang suami.
Cup.
Cup.
Cup.
Cup.
Cup.
Bukan Andra namanya jika tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan. Disaat Arra sedang fokus memeriksa keningnya, Andra malah mencium sang istri.
"Mas?! Stop!"
"Kenapa?" tanya Andra dengan wajah polosnya.
"Mas Andra sudah kunci pintu? Nanti Zero masuk lagi" ucap Arra dengan suara pelan.
__ADS_1
Mendengar istrinya yang berbicara dengan pelan, Andra pun tertawa. "Memangnya kita mau melakukan apa?" tanya Andra sengaja menggoda sang istri.
"Mas, sebentar. Arra lupa mematikan kompor" ucap Arra yang hendak berdiri namun dihalangi oleh Andra.
"Kompor apa? Kan kita tadi makan di luar, Sayang."
Aduh.-Arra.
Andra benar-benar gemas dengan istrinya sekarang.
Cup.
"Mau kabur hm?"
"Astaga, benar-benar duda menyeramkan" gumam Arra pelan.
"Heh."
"Hahahaha."
*****
"Maaf ya" ucap Andra saat mereka sudah menyelesaikan ritual malam.
Arra hanya tersenyum tipis. Bukan tanpa alasan Andra meminta maaf, karena tadi Arra masih merasakan perih hingga mengeluarkan air mata membuat Andra harus berhenti sebentar.
Sebenarnya, Andra tidak tega bermain dengan istri kecilnya mengingat umur Arra yang masih sangat muda, apalagi mereka baru beberapa kali melakukannya hingga membuat istri kecilnya masih merasakan perih.
"Mau langsung tidur atau bercerita dulu?" usul Andra seraya mengelus pelan pucuk kepala sang istri.
Arra mendongak namun tangannya masih bergerak memainkan dada bidang suaminya. "Mas, apa sebaiknya Arra melanjutkan kuliah atau tetap mengurus rumah?" tanya Arra tiba-tiba.
"Arra ingin melakukan apa? Mas kan nggak pernah melarang kalau Arra ingin melanjutkan kuliah" ucap Andra tersenyum tipis.
"Ingin tetap menjadi ibu rumah tangga?"
Arra menggeleng pelan. "Nggak tau."
"Hei, kok seperti itu? Pikirkan dulu, Sayang. Mas nggak memaksa, semua tergantung pilihan Arra."
"Sebenarnya, Arra memang hanya ingin menjadi ibu rumah tangga saja, Mas. Tapi, pendidikan kan penting, bagaimana Arra mengajari anak-anak kita nantinya jika Arra saja minim pendidikan?"
Cup.
Andra mencium kening sang istri dengan cukup lama, ia benar-benar tidak habis pikir bagaimana bisa Arra berpikiran sangat dewasa bahkan lebih dewasa darinya.
"Izinkan Arra untuk berkuliah ya, Mas. Arra janji akan tetap memenuhi kebutuhan suami dan anak" ucap Arra yang membuat Andra mengangguk pelan.
Andra mengelus pucuk kepala sang istri. "Mas akan selalu mendukung keputusan Arra."
"Terima kasih, Mas."
Arra memeluk erat tubuh suaminya. Ia bersyukur karena Andra mendukung keputusan yang ia buat. Keputusan yang membutuhkan waktu lumayan lama untuknya karena ia benar-benar memikirkan dengan matang jalan apa yang akan ia tempuh.
"Um, Mas?" panggil Arra pelan.
Andra sedikit menunduk untuk bisa menatap wajah istrinya. "Kenapa, Sayang?"
"Apa Arra masih boleh bekerja di restoran Ko Delon?"
__ADS_1
"No!" ucap Andra tegas.
Mendengar hal itu, Arra menatapnya dengan heran. "Loh kenapa, Mas?"
"Sayang, yang harus mencari nafkah itu Mas dan Arra dirumah saja. Mas masih kuat untuk menafkahi mu dan anak-anak kita" ucap Andra seraya tangannya mengelus pelan pipi Arra.
"Mas, kalau gini terus yang ada Arra dikira hanya makan tidur dengan uang Mas Andra saja.. Arra masih bisa kok bagi waktu untuk keluarga, bekerja, dan berkuliah" ucap Arra memantapkan diri.
Cup.
"Siapa yang berani mengatakan itu?!"
"Siapa tau saja ada yang memikirkan seperti itu" ucap Arra pelan.
Andra tersenyum tipis. "Sayang, Arra sudah bekerja dengan sangat keras dari dulu dan sekarang Mas yang akan bertanggung jawab untuk semuanya. Ketika Mas berani meminta Arra untuk menjadi istri Mas, berarti Mas harus menafkahi Arra, mencukupi segala sesuatu, dan menjaga Arra sepenuhnya.."
Arra terdiam, ia tidak tau harus merespon bagaimana lagi. Ucapan Andra sungguh membuat hatinya tenang.
"Jika sudah menikah, nggak ada namanya makan uang suami. Suami memang wajib menafkahi dan mencukupi kebutuhan istri dan anak-anaknya. Bodoh saja jika ada yang berpikir seperti itu. Jangan berpikiran seperti itu lagi, ya? Mas melarang mu bekerja karena kau sudah sangat lelah dengan semuanya" ucap Andra yang membuat Arra mengangguk pelan.
*****
Dua bulan kemudian
Huekkk huekkk huekkkk
Andra sangat terkejut mendengar sang istri yang tiba-tiba muntah. Dengan segera, ia berlari ke kamar mandi untuk melihat keadaan Arra.
"Ada apa, Sayang?" tanya Andra dengan raut wajah khawatir.
Arra tersenyum tipis seolah mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Namun, Andra tidak percaya itu terlebih ketika melihat wajah istrinya yang sangat pucat.
"Masih sakit?" tanya Andra seraya memijat pelan tengkuk istrinya.
"Mas, Arra baik-baik saja. Mas sedang rapat, kan? Lanjutkan saja."
Arra merasa tidak enak karena saat itu Andra sedang mengadakan rapat via online dengan rekan-rekannya yang ada di luar negeri. Namun, Andra tetap kekeh untuk menemani sang istri dan tidak memperdulikan rapat pentingnya.
"Mas panggilkan Kak Galuh, ya?"
"Mas Andra, nanti kita bangkrut" ucap Arra tiba-tiba.
Mendengar ucapan Arra, Andra seketika tertawa. Bisa-bisanya ia malah memikirkan bangkrut daripada kesehatannya sekarang. Astaga, Arra..
Andra segera menggendong tubuh istrinya dan membaringkannya di tempat tidur walaupun Arra sempat memberontak karena Andra melakukannya dengan tiba-tiba.
Tak butuh waktu lama, Andra langsung menelepon Galuh yang bisa dipastikan saat ini sedang berada di rumah sakit.
"Ada apa, Andra?"
"Kak, kemarilah. Istriku sakit" ucap Andra langsung.
Arra yang mendengarnya pun menarik-narik pelan ujung kemeja sang suami. "Mas, kan Arra hanya mual" ucapnya tidak setuju dengan pernyataan Andra tadi.
"Oh, Arra pasti hamil."
"Apa?!"
*
__ADS_1
*
*