
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Pagi ini suasana di rumah keluarga Dirgantara sedikit berbeda dari biasanya. Bagaimana tidak? Sejak sarapan pagi dimulai, tidak ada satu pun dari mereka yang mendengar perdebatan kecil antara Zero dan Zira. Keduanya benar-benar sarapan dengan tenang.
Setelah malam itu, Zero belajar untuk mengikhlaskan sesuatu yang sudah pergi. Ia tidak mau jika kesedihannya malah mempengaruhi kehidupannya sekarang. Jadilah, ia berusaha untuk mengikhlaskan dan merelakan kepergian Bunda nya.
"Ada kegiatan pagi ini?". Suara berat Andra terdengar memecahkan keheningan membuat Zira menoleh kearahnya.
"Nggak ada. Teman-teman Zira mau ke rumah" jawabnya singkat.
"Pantas aja sudah mandi pagi-pagi, biasanya jangankan mandi, jam segini aja belum bangun."
"Uncle Leo?! Daripada pagi-pagi udah ngeroasting orang, mending Uncle cari Aunty aja buat Zira."
Zira mendengus kesal mendengar ucapan Leo yang baru saja tiba. Ya, walaupun memang benar adanya namun tetap saja Zira kesal.
"Sudah dapat" jawab Leo singkat.
Leo kira jawabannya membuat Zira heboh, namun ternyata ia salah. Bukan hanya Zira yang heboh, namun semua orang yang ada di meja makan sama hebohnya dengan Zira.
Mati aku.-Leo.
"Jangan cuman omong doang. Kapan-kapan bawa kemari" ucap Andra yang membuat Leo menghela nafas berat.
Hei, aku hanya bercanda.-Leo.
"Jangan lama-lama, Kak."
Leo hanya bisa pasrah, niat hati hanya ingin menggoda keponakan perempuannya, namun siapa sangka ucapannya malah berujung petaka. Bahkan Arra pun ikut menggodanya sekarang.
"Uncle?! This is serious?! Siapa wanita menyedihkan itu?! Siapa dia yang mau aja menerima cinta dari Uncle yang sudah tua?!"
Zira berteriak heboh ketika mendengar bahwa akhirnya Uncle nya satu-satunya yang sudah bujang lapuk mempunyai kekasih. Siapa yang tidak heboh? Ini pertama kalinya dalam hidup Zira, ia mendengar bahwa Leo memiliki kekasih.
Apakah ini saatnya bagi Leo untuk melepaskan status jomblo?
*****
__ADS_1
Tak lama kemudian terdengar suara bell rumah yang berbunyi menandakan bahwa akan ada tamu yang berkunjung ke rumah keluarga Dirgantara.
Zira berlari turun dari tangga menyambut kedatangan teman-temannya karena memang sebelumnya mereka sudah berjanji akan menghabiskan waktu akhir pekan di rumah gadis itu.
"Zira, sekarang kamu harus mempersiapkan semua jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan yang akan kami ajukan" ucap Intan saat mereka baru saja masuk ke dalam rumah mewah tersebut.
Plak
"Kamu ini nggak sabar ya? Kita aja baru masuk" gerutu Maudy yang membuat semuanya tertawa.
Zira hanya tersenyum tipis karena sampai sekarang, ketiga sahabatnya belum mengetahui tentang hubungannya dengan Gibran. Sejak kejadian tidak sengaja di ruang OSIS, Zira selalu menghindar ketika ditanya oleh ketiga sahabatnya.
"Sabar, tahan dulu semua pertanyaannya. Mau langsung ke kamar atau menyapa Mami di taman belakang?" tawar Zira yang membuat ketiga sahabatnya setuju untuk menyapa Arra yang sedang bersantai di taman belakang.
*****
"Mami ku sayang" ucap Zira lalu memeluk Arra dari belakang.
Arra yang saat itu sedang bersantai membaca buku pun sedikit terkejut. "Hei, kau ini mengejutkan Mami saja" ucap Arra yang membuat anak gadisnya tertawa.
"Teman-teman mu sudah datang?"
"Selamat pagi, Aunty Arra" ucap ketiganya bersamaan, tak lupa dengan mencium punggung tangan ibu dari sahabat mereka tersebut.
"Hai, selamat pagi anak-anak yang cantik. Rencananya mau ngapain saja hari ini?"
"Kalian atur saja ya, kalau mau keluar rumah berhati-hati. Zira, siang ini Mami akan pergi ke rumah Nenek dan sepertinya akan pulang malam. Kau bisa menghabiskan waktu di rumah bersama teman-teman mu."
"Abang nggak pulang?" tanya Zira mengerutkan keningnya heran.
Arra tersenyum tipis. Walaupun anak-anaknya jarang akur, namun mereka saling menyayangi satu sama lain. "Hari ini satu bulannya Bunda, setelah pulang dari rumah Nenek nanti, Mami izin memberikan waktu untuk Abang, ya?"
Arra memang selalu seperti itu, ia akan perlahan mengajari anaknya untuk segala hal. Contoh kecil seperti ini saja ia bahkan meminta izin kepada Zira, padahal bisa saja ia melakukannya tanpa meminta izin.
Zira mengangguk mantap. "Zira akan tidur dengan Abang malam ini."
*****
Ponsel Andra berdering menandakan sebuah panggilan masuk dari sang istri.
"Ada apa, Sayang?" tanya Andra ketika panggilan sedang berlangsung.
"Mas, Arra siang ini mau ke rumah Ibu sebentar."
__ADS_1
"Kenapa? Ada apa?"
"Hanya berkunjung" ucap Arra tersenyum tipis.
Terdengar helaan nafas di seberang sana yang menandakan bahwa Andra merasa lega mendengar ucapan istrinya.
"Arra juga akan menghabiskan waktu bersama Zero.. dia butuh Arra."
Bagaimana Andra tidak selalu bersyukur? Lihat saja sekarang, istrinya benar-benar peduli terhadap anaknya. Andra yang notabenenya sebagai ayah kandung dari Zero saja tidak terpikirkan bahwa Zero masih membutuhkan waktu bersedih karena memang masih belum mengikhlaskan kepergian Bunda nya.
"Terima kasih, Sayang. Mas aja nggak kepikiran hal itu" ucap Andra sedikit menyesal.
Arra tersenyum tipis seraya mengangguk pelan walaupun tidak terlihat oleh sang suami. "Jika Mas Andra ada waktu luang malam ini, ikut saja dengan Arra. Mungkin Zero juga membutuhkan sosok yang bisa menasehatinya dengan pemikiran pria."
"Boleh?" tanya Andra ragu.
Pertanyaan suaminya membuat Arra tertawa seketika. "Boleh dong, siapa yang melarang?"
"Baiklah, Mas akan pulang sore ini" ucap Andra tersenyum tipis.
Panggilan pun terputus.
Bersamaan dengan berakhirnya panggilan dengan sang istri, Leo masuk ke dalam ruangan Andra dengan membawa beberapa berkas di tangannya.
"Ah, si Uncle yang akan menikah. Ada apa lagi?" tanya Andra dengan senyuman yang membuat Leo menatapnya tajam.
Memang, sejak kejadian dimana Leo mengatakan bahwa dirinya sudah memiliki calon istri, tak jarang semua orang menggodanya seperti sekarang.
"Bisakah Bapak berhenti berbicara seperti itu?"
Andra tertawa. "O, kau berbohong ya?"
"Kalau pun saya berkata jujur, memangnya Pak Andra percaya?" Pertanyaan Leo sukses membuat Andra mengangguk seketika.
Benar juga, Andra tidak pernah percaya jika Leo dikabarkan mempunyai kekasih sebelum ia melihat sendiri dengan mata kepalanya. Bukan karena Andra meragukan asistennya tersebut, namun Leo sudah bekerja puluhan tahun padanya jadi Andra tau betul bahwa Leo sangat anti dengan wanita.
"Harusnya aku menepati ucapan ku saat itu hingga kau akhirnya bisa mempunyai wanita."
Ucapan Andra membuat Leo mengerutkan keningnya heran. "Ucapan? Jangan bilang—"
"Benar. Kau dan Zira."
*
__ADS_1
*
*