Cewek ABG & Duda Keren

Cewek ABG & Duda Keren
S2 : Rest In Peace


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


Zero menyusuri lorong rumah sakit dengan perasaan harap-harap cemas. Entah kenapa perasaannya tidak enak semenjak ia dikabari jika Tania sedang sakit.


Baru saja ia membuka pintu ruangan, tiba-tiba para dokter dan perawat sudah berkumpul mengelilingi ranjang rumah sakit yang membuat Zero mengerutkan kening.


"Ada apa, Dok?"


"Anda wali Nyonya Tania?" tanya dokter tersebut yang membuat Zero refleks mengangguk pelan.


"Maaf, Nyonya Tania sudah menghembuskan nafas terakhirnya.."


Deg.


Seolah diterpa badai, Zero benar-benar lemas mendengarnya. Ia tidak percaya akan pendengarannya karena baru saja ia dikabarkan jika Tania sakit dan entah kenapa dokter mengatakan hal yang membuatnya heran.


"Dok, jangan bercanda!"


"Maaf, Tuan.. Bisa ikut saya sebentar?"


Zero seolah dihipnotis dengan mengikuti langkah kaki dokter yang membawanya menuju ruangan dokter.


Dokter tersebut memberikannya rekam medis milik Tania selama ini. Satu lagi yang sangat Zero kecewakan dengan dirinya sendiri adalah selama ini ia tidak pernah tau jika Tania menderita penyakit kanker yang mematikan.


Air mata Zero perlahan mengalir membasahi wajahnya bersamaan dengan isak tangis yang perlahan terdengar. Apa ia bisa disebut anak yang berbakti padahal ia sendiri tidak pernah tau jika Bunda nya sakit.


"Bunda.." lirih Zero pelan.


"Nyonya Tania sudah menderita kanker selama lima tahun dan berjuang sendirian. Disaat saya bertanya dimana walinya, ia tidak pernah menjawab dan hanya mengatakan bahwa anaknya sudah besar dan bahagia. Ah, Nyonya Tania selalu menitipkan surat pada saya jika suatu saat ada walinya yang akan berkunjung."


"Ini." Dokter tersebut membawa satu kotak hitam yang lumayan besar. Isinya ada berbagai macam surat dengan amplop yang berbeda warna yang bisa dipastikan bahwa Tania menulis surat setiap harinya.


Tatapan Zero tertuju pada sebuah jaket rajut yang sangat indah. "Nyonya Tania setiap malam merajut jaket ini dengan penuh cinta."

__ADS_1


Air mata Zero mengalir seketika. Ia sudah tidak bisa menahannya lagi. Hatinya sungguh sakit sekarang. Akhirnya, ia sadar bahwa Tania memang benar-benar menyayanginya. Namun, ia terlambat..


*****


Semua orang yang ada disana benar-benar terkejut mendengar kabar bahwa Tania sudah meninggal dunia. Bagaimana tidak? Tidak ada satupun dari mereka yang tau bahwa wanita itu sedang sakit hingga membuatnya meninggal.


"Mas, apa penyebab kematiannya?" tanya Arra masih dengan wajah paniknya.


"Tania mempunyai penyakit kanker.." ucap Andra pelan.


"Ayo ke rumah sakit sekarang. Zero pasti membutuhkan kita."


Seperti yang diucapkan oleh Arra, semua orang pun refleks bangkit dari tempat duduk dan bersiap menuju ke rumah sakit. Bahkan Zira saja tanpa sadar menarik tangan Gibran agar ikut walaupun lelaki itu masih dengan raut wajah bingung karena tidak tau Tania itu siapa.


*****


Rumah Sakit


Arra menatap jelas punggung kekar yang terlihat sangat rapuh tersebut hingga tanpa sadar dirinya berlari kecil hanya untuk merengkuh tubuh itu.


Saat merasakan pelukan dari belakang, Zero sedikit terkejut namun detik kemudian air matanya keluar tanpa sebab. Ia berbalik dan memeluk Arra dengan sangat erat seolah mencari kehangatan didalam pelukan itu.


Arra dengan sabar mengelus punggung anaknya yang sudah dewasa. Berkali-kali mengucapkan kalimat agar bisa menenangkan sosok dihadapannya. Namun semakin lama terdengar rintihan yang menyayat hati siapapun. Zero menangis, meraung keras, seolah tidak terima dengan takdirnya.


Ia belum menjadi anak yang baik untuk Bunda nya. Ia belum membahagiakan Tania dengan baik bahkan dirinya belum mengucapkan ucapan terima kasih pada sosok yang melahirkannya. Zero menyesal, andai saja ia tidak egois, andai saja ia tidak takut untuk sekedar bertanya kabar, andai saja, ah ia hanya bisa berandai-andai.


Arra pun sama mengerti dengan perasaan Zero sekarang. Pasti ada begitu besar rasa bersalah yang ada didalam hatinya karena selama ini memang ia dan Tania tidak mempunyai kenangan yang indah.


"Sayang.. Bunda pasti bangga punya anak yang sangat hebat seperti Zero.. sekarang, izinkan Bunda untuk beristirahat ya, Sayang.. Bunda sudah selesai dengan tugasnya yang ada di dunia.."


"Bunda.."


"Anak Mami kuat banget.. Mami bangga loh karena Zero masih mau bertemu Bunda.. Sayang, Bunda itu sangat banget sama Zero karena Zero itu pangerannya Bunda.. tapi sekarang Tuhan lebih sayang dengan Bunda.."


"Kalau Zero pangerannya Bunda, kenapa Bunda pergi dari Zero..? Apa surga itu lebih indah dari pada Zero..?"


Ah, hati Arra benar-benar sakit mendengarnya. Ini pertama kalinya ia melihat Zero begitu menderita dan ia sangat merasa bersalah, namun ia tidak tau harus melakukan apa.


Semua orang wajar sedih dan terpuruk terutama Zero yang baru saja ditinggalkan tanpa salam perpisahan.

__ADS_1


Andra berjalan mendekat untuk menepuk pelan bahu sang anak. "Papi akan mengurus semuanya. Kembalilah bersama Mami ke rumah."


"Gibran bisa membawa mobil?" tanya Andra yang membuat Gibran mengangguk pelan.


"Tolong kemudikan mobil Om, bawa Arra, Zero, dan Zira."


Tak perlu diminta dua kali, Gibran segera mengambil alih kemudi agar bisa mengemudikan mobil Andra dan membawa istri juga anak-anak Andra kembali ke rumah.


Andra pun segera meminta bantuan Leo untuk mengurus semuanya. Tentu saja dengan tidak tercium sampai media karena akan mengundang tanda tanya besar jika media tau Andra masih berhubungan dengan mantan istrinya.


*****


Saat perjalanan menuju rumah, ponsel Arra berdering menandakan sebuah panggilan masuk dari sang suami.


"Kenapa, Mas?"


"Sayang, kalau kamu nggak keberatan langsung ke rumah Tania aja. Mas sudah menyusul dan sebentar lagi akan sampai."


"Baiklah."


Panggilan pun terputus.


"Nak Gibran, bisa putar balik? Kita langsung ke rumah Tania."


"Bisa, Tante. Bisa Gibran tau alamatnya dimana?"


"Jalan Mawar Putih, nomor 3."


Tak butuh waktu lama untuk Gibran segera menuju lokasi yang disebutkan.


*


*


*


Selamat jalan Tania. Terima kasih sudah melahirkan anak sehebat dan sebaik Zero. Dan terima kasih sudah mau menjadi bagian dari novel ini.


*

__ADS_1


*


__ADS_2