
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
"Untel, thenapa da membuat adik?!"
Leo yang saat itu sedang meminum kopi panasnya pun terbatuk-batuk ketika mendengar pertanyaan yang polos keluar dari mulut kecil Zero.
Hei, Aunty saja belum punya bagaimana bisa membuat adik?-Leo.
Leo menatap Zero seraya mengerutkan keningnya heran. "Siapa yang mengajari Zero bertanya seperti itu?"
Zero menggeleng pelan. "Zelo mau adik dali Untel."
Astaga, anak ini benar-benar. Bagaimana bisa otaknya berpikir sejauh itu? Leo saja belum pernah memikirkan hal itu.
"Uncle nggak bisa memberi adik pada Zero. Bukannya adik sudah ada di perut Mami?"
"Hu'um, tapi Zelo mau banyak. Thenapa Untel da bica kacih adik? Kan Untel bica buat adik dali tepung, Untel Andle bilang adik itu di buat dali tepung. Tapi Zelo bingung, bagaimana cala adik kelual dali pelut Mami? Da dimuntahkan kan? Itu menjijikkan."
Leo hanya diam, ia tidak mau merusak otak Zero lagi. Biarkan Andre saja yang memberikan pengaruh buruk pada keponakannya tersebut.
"Untel?! Adik itu kelual dali mana?!"
Ah, Leo lupa bahwa anak ini benar-benar cerewet. Ia tidak akan berhenti bertanya jika pertanyaannya tidak dijawab. Leo ingat betul ketika ada pertanyaan Zero yang tidak terjawab, ia bahkan bertanya dengan siapapun, entah itu Mr.Eldo, Ibu Leli, Om penjual cireng, atau bahkan badut yang ada di pinggir jalan.
"Jika adik dimuntahkan, apa Zero mau menggendongnya?" tanya Leo yang membuat Zero menggeleng cepat.
"Itu jolok."
"Jadi artinya adik itu bukan keluar dari muntahan Mami."
"Lalu?"
Ting tong ting tong
Leo tersenyum aneh ketika mendengar bell rumah berbunyi.
"Tanyakan itu kepada Mr.Eldo."
Ternyata dia ingin melepas tanggung jawab. Kasihan sekali Mr.Eldo harus menguras otak menjawab pertanyaan Zero nantinya.
Dan benar saja, pantat Mr.Eldo bahkan belum panas ketika ia baru saja duduk di sofa dan Zero sudah memberikannya pertanyaan.
__ADS_1
"Good molning, Mistel Eldo. Can I ask comething?"
"Good morning, Zero. What's that?"
Leo sudah menduga bahwa pertanyaan Zero adalah pertanyaan yang diajukan padanya.
"Adik itu kelual dali mana?"
Terlihat raut wajah Mr.Eldo yang seolah tidak menyangka bahwa pertanyaan itu keluar dari mulu kecil Zero.
"Why did Zero ask that?" tanya Mr.Eldo yang membuat Zero menatapnya.
"Untel Andle pelnah bilang kalau adik itu dibuat dali tepung yang akan dimakan oleh Mami. Lalu Untel Leo bilang kalau adik itu tidak dimuntahkan untuk kelual kalena itu jolok dan menjijikkan. Lalu, adik kelual dali mana?"
Mr.Eldo menatap Leo seolah meminta bantuan untuk menjawab pertanyaan Zero tersebut sedangkan Leo sudah tersenyum senang melihat raut wajah Mr.Eldo yang terlihat panik.
"I don't have any idea to give a good answer" ucap Leo sedikit berbisik agar Zero tidak mendengarnya.
Mr.Eldo hanya menghela nafas panjang. Muridnya ini memang selalu memberikan pertanyaan diluar dugaan kepadanya namun kali ini, untuk menjawab pun ia tidak berani. Mr.Eldo tau jika Zero akan menguak lebih lanjut jika jawaban yang ia terima tidak memuaskannya.
Seolah takdir berpihak kepada mereka, terlihatlah Arra dan Andra yang baru saja keluar dari kamar utama membuat Zero seolah lupa bahwa dirinya sedang memberikan pertanyaan kepada Mr.Eldo.
Zero segera berlari dan memeluk kaki Arra dengan erat. "Mami, adik itu kelual dali mana cih? Thenapa Untel Leo dan Mistel Eldo da bica jawab?"
Pertanyaan Zero tentu saja membuat pasang suami istri itu sedikit terkejut. Ada apa dengan anak mereka yang tiba-tiba menanyakan hal itu?
"Kenapa Zero tiba-tiba bertanya itu?" tanya Andra seraya menatap sang anak.
Andra menggeleng pelan, bagaimana bisa otak anaknya bekerja begitu keras sekarang. Ah, ia sedikit khawatir dengan otak Zero.
"Adik itu keluar saat dokter membelah perut Mami."
"What?! Membelah?! No!" teriak Zero lalu menangis dengan kencangnya.
Andra mengerutkan kening melihat sang anak sedangkan Arra sudah ingin memakan suaminya hidup-hidup.
Harusnya aku tidak perlu membuka suara tadi..-Andra.
*****
Setelah beberapa saat, akhirnya tangis Zero kembali reda saat Arra menjelaskan padanya. Arra mengatakan bahwa memang itu suatu kewajiban seorang perempuan untuk melahirkan anak dan membuat Zero akhirnya mengerti.
"Tapi thenapa halus dibelah?" tanya Zero disela-sela isak tangisnya.
Arra tersenyum tipis seraya mengelus pucuk kepala Zero. "Sayang, seorang Ibu rela bertaruh nyawa agar anaknya bisa keluar melihat dunia. Begitu pun dengan Mami yang nantinya akan bertaruh nyawa melahirkan adik."
"Mami.. Zelo da mau Mami pelgi-pelgi agi.."
__ADS_1
Ah, hampir saja Arra lupa bahwa sedang ditonton oleh Andra, Leo, dan Mr.Eldo, ia hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Zero.
"Sekarang Zero kembali belajar bersama Mr.Eldo ya, kasihan sudah ditunggu dari tadi" ucap Arra yang membuat Zero mengangguk.
"Sepertinya Pak Andra memang tidak dianggap" bisik Leo pelan.
Andra menatapnya tajam. "Jangan membuatku emosi pagi-pagi."
"Dari pada saya menunggu pagi-pagi selama dua jam."
"Makanya menikah."
"Tunggu Arra menerima suami dua."
Mr.Eldo hanya bisa tersenyum tipis melihat keduanya. Ia sudah terlalu sering mendengar perdebatan-perdebatan antara Andra dan Leo. Apalagi juga ditambah ada Andre, wah sepertinya Andra akan naik darah karena mereka selalu membuatnya emosi.
*****
Saat ini Andra sedang berada di perjalanan bersama dengan Leo karena mereka memang sudah berjanji ingin berkunjung di sebuah proyek yang berasa cukup jauh dari tengah kota.
Perjalanan yang memakan waktu sekitar satu jam lebih membuat Andra memanfaatkan waktu tersebut untuk memeriksa beberapa berkas selama di perjalanan.
Leo menatap majikannya lewat spion dalam. "Pak, apa Pak Andra tadi memakan Arra?" tanya Leo santai yang membuat pria itu sedikit malu karenanya.
Bagaimana tidak? Pertanyaan Leo benar-benar tepat sasaran. Satu ronde yang ternyata membuat Arra hampir tidak bisa berjalan karenanya. Ah, sepertinya Andra berubah menjadi singa liar lagi.
"Memangnya boleh memakan Arra disaat sedang hamil?" Lagi-lagi hanya Leo yang bersuara.
"Dokter Maureen menganjurkannya" jawab Andra singkat.
"Menganjurkan bukan berarti harus setiap hari, kan?"
Siapapun tau bahwa Leo memang sedikit ah tidak Leo memang menyindir pria tua ini.
"Hei, kau akan merasakannya saat menikah nanti" gerutu Andra kesal.
Leo hanya terkekeh pelan. Perkara menikah? Siapa yang peduli. Ia bahkan tidak berniat untuk mencari, karena menurutnya menjadi tangan kanan Presdir Dirgantara Group saja sudah menguras banyak waktu dan tenaga, ia tidak sempat untuk mencari pasangan. Sepertinya bukan tidak sempat, Leo memang tidak mau.
"Kau itu sudah berumur, apa mau menjadi perjaka tua?"
"Menikah itu bukan soal umur, tapi soal kesiapan hati."
"Cih, sudah banyak ilmu tentang menikah tapi tidak berniat mencari."
"Wanita sangat menyusahkan" jawab Leo santai.
*
__ADS_1
*
*