Cewek ABG & Duda Keren

Cewek ABG & Duda Keren
Surat Zero


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


Setelah pulang bertemu sang kekasih, Andra mengucap syukur karena walaupun dirinya belum mendapat kesempatan untuk berbicara namun, ia bertemu gadis yang membuatnya gila selama tiga bulan terakhir.


Andra memikirkan hal apa yang akan ia lakukan untuk menghukum gadisnya yang tak pernah memberikannya kesempatan menjelaskan hal yang sebenarnya terjadi.


“Dia memang Arra yang nakal” gumam Andra terkekeh pelan seraya menatap wallpaper ponselnya yang tak pernah ia ganti.


Wallpaper itu menunjukkan foto kebersamaan antara dirinya dan Arra juga Zero saat malam dimana ia memberanikan diri untuk menyematkan cincin pada jari manis kekasihnya.


Karena terlalu fokus berpikir, Andra tak menyadari bahwa anaknya sedang berjalan kearahnya. “Papi?”


“Why, Son?” tanya Andra setelah menyimpan ponselnya dan mengangkat tubuh sang anak agar duduk di pangkuannya.


“Apa Papi lindu Mami?”


“Always.”


“Thenapa da telpon? Huh, Mami nakal cekali main pelgi-pelgi aja, kan Zelo jadi lindu”


Andra terkekeh pelan mendengar ocehan sang anak. “Rindu Mami?”


“Hu’um, tapi Mami nakal cekali jadi Zelo mau kacih hukuman bial Mami da pelgi”


“Hukuman apa?”


“Membolgol tangan Mami”


Tentu saja hal itu mengundang tawa Andra sehingga ruangan dipenuhi dengan gelak tawanya.


“Kakek tua bilang Mami tantik.”


Deg.


“A-apa?!”


“Hu’um, kata nna Mami cangat tantik kalena peyuk Zelo” ucap Zero yang membuat Andra mengerutkan keningnya.


“Dimana Kakek tua melihat Mami?”


“IPad nna Zelo”


Jadi, Ketua sudah melihat wajah Arra?-Andra.


“Kapan?”


“Itu loh caat Zelo agi belajal dennan Mistel Eldo telus Kakek tua datang bawa mimi cokat”


Andra semakin bingung karena ia tak tau bahwa Ketua mampir kerumahnya kemarin.


“Lalu Kakek tua melakukan apa disini?”


“Mengoblol belcama Mistel Eldo beltanya pelkembannan Zelo telus da cengaja iyat iPad nna Zelo ada foto Mami telus Zelo bilang itu Mami nna Zelo, kata Kakek tua, Mami tantik”

__ADS_1


Untung saja dia tidak melakukan apa-apa.-Andra.


“Papi tau? Mistel Eldo uga iyat-iyat telus Zelo bilang da boleh nakcil nanti Mistel Eldo nna bonnok kalena Papi malah”


Seketika, Andra tertawa. “Hei, siapa yang mengajarimu seperti itu dengan Mr.Eldo?”


“Untel Leo.”


****, Leo benar-benar mengotori pikiran Zero.-Andra.


“Oh ya? Uncle Leo berbicara seperti apa?”


“Kata nna Zelo halus jadi cupel helo yang kuat bial da ada yang nakcil Mami, kalau ada yang nakcil nanti bonnok kalena Zelo dan Papi malah”


“Astaga, anak ini.”


“Calahkan Bang Toyib itu.”


“Hah?”. Andra mengerutkan kening.


“Iya Bang Toyib, Untel kan da pulang-pulang.”


Oke, nama baru Leo.


*****


Hari ini, perkembangan Zero semakin meningkat terlebih ketika Andra melakukan home school padanya karena mengingat umur Zero yang masih belum cukup untuk bisa masuk taman kanak-kanak.


Saat sedang belajar bersama Mr.Eldo, Zero tiba-tiba membuka suara. “Mistel, apa bakat yang ada pada Zelo?” tanya nya ketika Mr.Eldo kembali memuji hasil gambaran Zero yang benar-benar rapi.


Mr.Eldo terkekeh sejenak lalu berpikir keras. “Sepertinya murid Mr.Eldo mempunyai bakat membuat karya dengan menggambar. Bagaimana jika mencoba untuk melukis di kanvas?” usul Mr.Eldo yang membuat mata Zero seketika berbinar.


“Cepelti pamelan yang ada di luangan nna Untel Andle?”


“Yup, apa Zero tertarik?”


“Hu’um, cemua nna bagus cekali.”


“Zero juga akan membuat yang lebih bagus” ucap Mr.Eldo seraya mengelus pucuk kepala Zero dengan gemas.


Sungguh, bocah ini sangat pintar sehingga ia tak perlu berkali-kali menjelaskan materi setiap ia mengajar karena Zero memang cukup cepat untuk mengerti dan akan berani bertanya jika ia tidak mengerti tentang sesuatu sehingga membuat Mr.Eldo bangga melihatnya.


“Noo, Zelo da bica menang melawan Untel Andle” ucap Zero dengan raut wajah yang kesal membuat guru nya seketika tertawa.


“Ah, baiklah cukup untuk hari ini, Mr.Eldo akan memberi tugas rumah kepada Zero”


“Apa itu?” tanya Zero dengan bersemangat.


Jika boleh jujur, kadang Mr.Eldo heran dan bertanya-tanya apa yang Zero makan selama ini karena dari semua murid yang ia ajarkan tidak ada yang bersemangat seperti Zero jika diberikan tugas rumah. Namun, anak ini sungguh berbeda bahkan ia akan protes jika tidak diberikan tugas rumah. Benar-benar genius.


“Tuliskan surat untuk orang yang Zero sayang dengan kalimat yang sederhana lalu berikan kepada orang tersebut. Bisa untuk Papi Zero, untuk Uncle Andre, untuk Kakek, dan siapapun yang Zero ingin berikan surat pertama. Bagaimana? Apa ada yang ingin ditanyakan?”


“Ini culat peltama Zelo ya?” tanya Zero yang membuat Mr.Eldo tersenyum seraya mengangguk pelan.


“Untuk Mami boleh?”


Mr.Eldo memang tidak pernah mengenal maupun melihat langsung siapa yang Zero sebut Mami sehingga ia tak berani menyebutkannya tadi. Tapi karena Zero yang terlebih dahulu bertanya, akhirnya Mr.Eldo mengiyakan.


“Boleh. Jangan lupa berikan kepada Mami Zero, ya? Jangan lupa juga tuliskan nama Zero agar Mami Zero bisa tau surat itu dari Zero.”

__ADS_1


“Hu’um, telima acih Mistel Eldo” ucap Zero tersenyum senang.


*****


Setelah diberitahukan bahwa ia mendapat tugas rumah dengan membuat surat untuk orang yang ia sayangi, disinilah Zero berada didalam kamar pribadinya dengan duduk di meja belajar untuk menulis surat yang akan ia tujukan kepada Arra.


Tentu saja, surat itu tidak mudah dibuat terlebih tidak ada yang mendampinginya membuat Zero berkali-kali kesal karena harus mengulang dari awal lagi. Karena terlalu fokus, ia tak sadar bahwa Andra masuk ke kamarnya.


“Hei, apa ada tugas dari Mr.Eldo?” tanya Andra seraya mengelus pucuk kepala sang anak.


Zero menghela nafas. “Mistel meminta Zelo membuat culat tapi Zelo dali tadi calah telus.”


“Surat untuk siapa?”


“Mami” jawab Zero bersemangat.


Andra terkekeh pelan. “Oh ya? Untuk Papi mana?”


“Ish cabal dong, untuk Mami uga belum celecai” gerutu Zero dengan cadelnya membuat Andra tertawa.


Akhirnya, malam itu Andra menemani Zero untuk membuat surat pertamanya untuk Arra.


Keesokan harinya, entah karena takdir atau bagaimana, Zero benar-benar bertemu langsung dengan Arra setelah sekian lama. Saat ini, ia bersama Leo sedang berada di supermarket karena ia ingin membeli susu cokelat dan saat itu juga ia melihat Arra.


“Mami?!” teriak Zero dengan keras lalu berlari memeluk Arra yang masih mematung tak percaya.


“Z-zero?”


“Mami ini nakal cekali, pelgi-pelgi dali lumah” gerutu Zero yang membuat Arra tersenyum tipis.


Ia merindukan anaknya.


Arra berjongkok dihadapan Zero untuk menyeimbangi tinggi mereka. “Rindu Mami?”


“Hu’um belcama Papi uga” ucap Zero seraya memeluk Arra.


“Cebental, Zelo punya cecuatu buat Mami”. Dengan segera Zero membuka tasnya lalu memberikan surat pertama yang ia tulis sendiri khusus untuk Arra.


“Apa ini?”


“Mistel Eldo membelikan tugas untuk Zelo menulis culat peltama jadi Zelo kacih ke Mami”


Air mata Arra jatuh seketika ketika mendengar penjelasan polos dari anaknya.


“Mami thenapa ngis?”


Arra tersenyum tipis lalu membuka surat yang diberikan Zero kepadanya.


Mami, ini Zero, Zero Dirgantara.


Zero hebat kan karena bisa menulis nama sendiri? Mami, Zero rindu Mami. Mami kemana? Kenapa pergi? Apa karena Zero nakal? Maaf, Mami. Zero janji tidak nakal lagi, jadi Mami harus pulang ya? Ayo Mami pulang kerumah kita. Papi juga rindu Mami. Rumah sepi karena Mami tidak ada. Mami, Zero sayang Mami lebih besar dari pada Papi karena Papi nakal suka usil tapi kalau Mami suka peluk Zero.


Zero disini baik-baik saja tapi lebih baik lagi jika Mami pulang menemui Zero. Mami, kemarin mimi Zero diambil lagi oleh Uncle Andre, nakal sekali huh. Uncle Leo juga sepertinya menjadi mayat hidup bahkan ular menggonggongnya karena kesal. Oh iya, Kakek tua mengatakan bahwa Mami sangat cantik. Memang cantik, kan Mami nya Zero.


Mami, pulang ya.. Zero sayang Mami.


Zero Dirgantara.


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2