Cewek ABG & Duda Keren

Cewek ABG & Duda Keren
Konferensi Pers


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


Andra tak henti-hentinya mengucap syukur ketika mendengar kabar baik dari istrinya. Ia bahkan sudah beberapa kali mencium perut buncit Arra yang membuat Zero akhirnya bertindak.


"Papi! Don't like that!"


Arra terkekeh pelan ketika melihat anaknya yang sudah kembali menjadi mode cemburu.


"Apa? Papi kan mau cium adik" ucap Andra membela diri.


Zero menggeleng cepat. "Adik da cuka dicium kalena Papi bau."


"Heh."


Gelak tawa Zero memenuhi ruangan Presdir ketika Andra menggelitik sang anak karena menyebut dirinya bau. Bau darimana? Tidak tau saja harga parfum Andra bisa memborong ice cream.


Klek


Pintu ruangan terbuka yang bisa dipastikan bahwa Leo yang masuk karena tidak ada orang lain lagi yang bisa masuk ke dalam ruangan Presdir dengan tidak sopan seperti itu kecuali Leo dan Andre.


Leo masuk ke dalam ruangan bersama dengan Gladis yang membuat Andra maupun Arra terkejut. Leo mendorong Gladis hingga tersungkur dihadapan Andra dan Arra yang membuat Arra refleks mundur dan bersembunyi dibelakang suaminya. Arra sadar bahwa ada yang tidak beres terlebih ketika melihat wajah Leo yang bahkan tidak tersenyum sedikit pun.


Andda menatap Leo dengan heran seolah meminta penjelasan dengan apa yang terjadi.


"Zero, bisa masuk ke kamar? Papi dan Mami ada urusan."


Bocah itu mengerti bahwa hal tersebut tidak bisa dilihat olehnya sehingga ia segera berlari untuk masuk ke dalam kamar rahasia yang ada di balik rak buku di ruangan Andra.


"Jelaskan apa yang terjadi dengan mulut busuk anda, Nona."


Arra melihat jelas bahwa Gladis benar-benar ketakutan sekarang hingga membuatnya hampir kambuh namun ia berusaha sekuat mungkin untuk menahan diri dengan memeras kuat bajunya.


"T-tidak ada yang harus aku bicarakan" ucap Gladis pelan.


Leo terkekeh pelan mendengarnya. "Apa Nona tau definisi dari tidak ada? Yakin tidak ada yang ingin dibahas? Lalu, untuk apa saya menyeret anda kemari jika tidak ada kesalahan yang anda buat?"


Jangankan Gladis, Arra saja benar-benar ketakutan melihat Leo sekarang.

__ADS_1


"Jangan bertele-tele." Ucapan Andra membuat Arra langsung refleks memegang lengan sang suami.


"Nona Gladis menyebarkan hoax dengan mengatakan bahwa Arra hamil di luar nikah yang membuat beberapa klien kita menjadi bimbang. Terlebih saat Nona Gladis menyebarkan hoax dengan bukti yang sangat jelas bahwa itu diedit."


"Apa lagi yang kau rencanakan?" tanya Andra dengan tatapan tajam.


"Tentu saja ingin membuat perusahaan dan pernikahan kalian hancur."


Arra dan Andra benar-benar tidak habis pikir dengan Gladis. Bagaimana bisa ia masih mengharapkan Andra disaat lelaki itu akan mempunyai dua anak.


"Kau membawa buktinya, O?" tanya Andra dengan sang asisten.


Leo segera memberikan foto-foto yang diedit oleh Gladis, foto yang benar-benar seperti aslinya dimana ada wajah Arra dengan seorang pria di sebuah bar, lalu ada cuplikan rekaman cctv yang memperlihatkan seorang pria dan wanita sedang berjalan di koridor hotel menuju kamar hotel, lalu ada foto Arra dan seorang pria yang hendak masuk ke dalam kamar hotel, dan lain sebagainya.


Plak


Dengan penuh emosi, Andra menampar wajah Gladis yang saat itu sedang menunduk membuat semuanya terkejut.


"Mas Andra!"


Seolah tidak menanggapi teriakan Arra, Andra kembali menatap Gladis dengan tatapan mengerikan.


"Aku sudah katakan jika ada yang berani bermain dan mengusik milikku, hidupnya tidak akan tenang."


Plak


Itu bukan tamparan dari Andra, melainkan dari asistennya. "Bagaimana bisa Pak Andra melirik anda jika perbuatan anda saja sangat buruk? Bersembunyi dibalik kata cinta yang tulus padahal itu semua hanya obsesi anda untuk bisa mendapatkan pria kaya yang bisa memberikan semuanya untuk anda. Jangan seperti orang bodoh dengan berkoar-koar mengatakan sesuatu yang tidak benar karena apapun yang anda lakukan tidak membuat Pak Andra menjadi milik anda. Sadarlah."


"Kak Leo, berhentilah.."


Seolah tidak mau mendengarkan ucapan Arra, Leo kembali mendekati Gladis dan hendak memukulnya lagi namun ucapan Arra menghentikan langkahnya.


"KAK LEO! DIA JUGA PEREMPUAN!"


Andra dan Leo terkejut mendengar teriakan Arra yang bahkan wanita Andra tersebut sudah menatap asisten suaminya dengan tatapan tajam.


"Sayang.." ucap Andra pelan seraya mengelus perut buncit Arra.


"Gladis juga perempuan, jangan seenaknya. Aku tau kalau Mas Andra dan Kak Leo sedang emosi sekarang tapi apakah dengan main tangan bisa menyelesaikan semua masalah itu? Apa setelah kalian memukul Gladis, masalah yang sudah terjadi bisa hilang begitu saja?"


Arra membuka suara dengan nafas yang menggebu-gebu karena benar-benar kesal dengan dua pria dihadapannya.


"Ra, dia sudah merusak nama baik mu" ucap Leo kembali mengingatkan.

__ADS_1


"Kak, bagaimana jika yang dihadapan Kak Leo itu adik kandung Kak Leo sendiri? Atau bagaimana jika Gladis itu adalah keluarga Kak Leo?"


Leo terdiam tanpa ingin menjawab lagi karena tau bahwa dirinya pasti akan kalah berdebat melawan Arra, terlebih wanita itu sedang hamil besar.


"O, hukum dia. Jangan berikan akses untuk masuk bahkan mendekati keluarga ku."


"Mas! Ja—"


"Dia pantas mendapatkan hukumannya, Sayang."


Sekuat tenaga Andra menjelaskan kepada istri kecilnya namun bukan membuat Arra mengerti malah membuat istrinya semakin kesal dengannya.


"Terserah Mas Andra aja."


Setelah mengatakan itu, Arra segera mengambil tasnya dan menemui Zero yang sedang menunggu di kamar rahasia milik Andra. Tak lama kemudian keduanya pun pergi tanpa menghiraukan Andra, Leo, dan Gladis yang hanya diam menatap kepergian Arra.


"Lakukan perintahku dan jauhkan wanita ini."


Tak butuh waktu lama untuk Leo menarik paksa Gladis agar segera pergi dari hadapan Andra. Sedangkan Andra hanya bisa kembali ke meja kerjanya seraya menghela nafas berat karena tau istrinya pasti sangat marah.


*****


Ruang Rapat


Semua orang sudah berkumpul termasuk beberapa wartawan yang diminta untuk datang ke Dirgantara Group karena Andra ingin melakukan konferensi pers dadakan agar masalah yang terjadi tidak menyebar begitu luas lagi.


"Baiklah, selamat siang kepada semuanya yang sudah hadir pada siang ini. Sebelumnya saya memohon maaf jika mengadakan konferensi pers dadakan pada hari ini. Saya, Andra Dirgantara selaku Presdir Dirgantara Group ingin menjelaskan apa yang terjadi pada saat ini. Beberapa hari yang lalu beredar foto-foto yang memperlihatkan istri saya sedang berselingkuh dengan seorang pria yang membuat saham perusahaan seketika menurun drastis dan beberapa klien saya membatalkan kerja sama. Setelah diperiksa lebih lanjut, ternyata foto tersebut hanyalah editan dari seseorang yang memang sejak dulu membenci pernikahan saya. Maka dari itu saya mengadakan konferensi pers dadakan ini agar berita tersebut tidak menyebar lebih luas lagi. Saya akan menindaklanjuti lebih lanjut jika ada hal-hal atau berita-berita yang diluar fakta entah itu tentang keluarga saya maupun tentang perusahaan ini. Terima kasih."


Seorang wartawan mengangkat tangan. "Pak, apakah Pak Andra sangat mempercayai istri Bapak?"


Andra mengangguk mantap. "Saya mempercayai istri saya."


"Bagaimana jika berita itu memang benar adanya dan bukan hasil dari editan?"


Pertanyaan dari seorang wartawan yang cukup berani membuat Andra mengerutkan keningnya heran. "Setelah ini perusahaan akan mengeluarkan bukti-bukti bahwa foto yang beredar tersebut hanyalah editan yang merusak nama baik istri saya."


Tanpa Andra ketahui, bahwa diluar sana ada seorang wanita yang sedang menontonnya.


"Mas Andra romantis juga" gumam Arra pelan.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2