
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Dokter Maureen menggendong bayi perempuan itu dan menidurkannya diatas dada Arra sehingga anaknya bisa merasakan sentuhan kulit ibu.
Andra dan Arra benar-benar takjub melihat bayi mereka. Bagaimana tidak? Bayi mereka sangat putih sekali dengan rambut yang sangat lebat ditambah dengan hidung mancung dan lesung pipi di wajah gembulnya.
"Selamat Tuan dan Nona, bayi perempuan dengan berat 3,02 kg dan tinggi 49 cm lahir dengan selamat."
Cup.
"Terima kasih, Sayang" ucap Andra untuk kesekian kalinya.
"Mas, mau dinamakan siapa?" tanya Arra dengan senyum yang tidak pernah lepas dari wajahnya.
"Bagaimana dengan Zira? Zira Leorra Dirgantara."
"Zira dan Zero" ucap Arra mengangguk setuju.
Beberapa saat kemudian, Arra dan bayi nya pun dipindahkan ke kamar rawat inap karena harus tinggal di rumah sakit untuk beberapa hari kedepan.
Melihat tim medis mendorong ranjang Arra, semua orang yang berada di luar ruangan langsung berdiri karena tidak sabaran melihat wajah bayi perempuan tersebut.
"Adik Zelo tantik cekali cepelti Mami" ucap Zero senang ketika berhasil melihat wajah sang adik.
*****
Ruang VIP
Semua orang sudah berkumpul di dalam kamar Arra untuk bersama-sama melihat wajah bayi perempuan itu. Satu per satu senyum diperlihatkan saat mereka melihat bayi kecil yang sedang tertidur dengan nyenyak. Wajah baby Zira sangat cantik sekali dan terlihat seperti barbie.
"Dia mirip barbie. Cantik sekali" ucap Andre tersenyum saat melihat keponakannya tersebut.
"Namanya siapa?" tanya Ketua.
"Zira. Namanya Zira" ucap Andra tersenyum.
"Zila dan Zelo?! Holeeee adik Zila dan Abang Zelo" ucap Zero lalu meloncat kegirangan membuat semua orang gemas terhadapnya.
"Besan, akhirnya kita memiliki cucu lagi" ucap Nyonya Besar seraya menggenggam tangan Ibu Dian dan Ibu Rina.
Mereka pun berjalan mendekati ranjang Arra dan menatap wajah wanita itu. Wanita yang baru saja melahirkan bayi perempuan yang sangat cantik.
"Nak, terima kasih sudah berjuang dan melahirkan cucu Ibu yang sangat cantik."
"Kau sudah resmi menjadi seorang Ibu semenjak memutuskan untuk menikahi Nak Andra. Dan sekarang, Tuhan mempercayakan seorang anak lagi untuk kalian."
__ADS_1
"Arra, Ibu akan dengan senang hati membantu mu untuk mengurusnya" ucap Nyonya Besar juga.
Arra tersenyum. Air mata mulai mengalir membasahi wajah cantiknya. Ia tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah 180 derajat yang dimana dulunya ia dipandang sebelah mata karena menjadi anak yatim piatu. Namun, lihatlah sekarang ada begitu banyak orang yang menyayanginya. Arra benar-benar bersyukur akan hal itu.
*****
Jam sudah menunjukkan pukul 02:18 WIB namun Arra seolah enggan untuk tidur. Tatapannya masih tertuju pada sosok kecil yang sedang tertidur di box yang tak jauh dari tempatnya. Sampai sekarang Arra belum percaya bahwa bayi kecil itu keluar dari rahimnya.
"Anak Mami cantik sekali" gumam Arra tersenyum tipis.
Tatapan Arra tertuju pada lelaki yang tidur disebelahnya. Andra tidur dengan posisi duduk di kursi dengan tangan yang menggenggam erat tangan Arra.
"Mas" panggil Arra pelan.
"Mas Andra?"
Hingga panggil ketiga, Andra enggan untuk membuka mata membuat Arra hanya bisa menghela nafas karena lelaki itu memang sudah untuk dibangunkan.
"Mas Andra?" Sekali lagi Arra mencoba untuk membangunkan Andra dengan tangan yang mengelus pelan surai rambut dan wajah tampan pria itu.
"Sayang? Ada apa? Mau sesuatu?" tanya Andra dengan suara khas bangun tidur.
Arra menggeleng pelan. "Mas Andra nggak sakit tidur seperti itu? Kenapa nggak tidur di sofa?"
Arra membangunkan Andra karena merasa khawatir lelaki itu akan sakit pinggang jika tidur lama dengan posisi duduk.
Andra tersenyum tipis lalu tangannya mengelus pipi sang istri. "Mas kan mau tidur sama Arra."
"Bilang aja kalau nggak bisa tidur kalau nggak dipeluk Mas" goda Andra lalu berbaring disebelah istrinya.
Arra tertawa pelan. "Nggak dong, kan Arra sudah punya putri kecil nanti Mas nya bobo sendiri."
"Sayang! Mas nggak mau!"
"Loh? Kenapa bayi besar ini?"
"Mau tidur dengan Mami" ucap Andra seraya memeluk tubuh mungil istrinya.
Arra tertawa. "Ayo tidur lagi. Selamat tidur, Mas."
Cup.
"Selamat tidur, istriku."
*****
"Good molning evelyone" teriak Zero dengan hebohnya saat ia membuka kamar rawat Arra.
Teriakan Zero tentu saja membuat baby Zira terkejut hingga menangis dengan kencang. Hal itu membuat Zero segera berlari kearah box bayi untuk melihat keadaan adiknya.
"Mami, thenapa adik ngis?!" tanya Zero dengan paniknya.
__ADS_1
"Itu karena suara Zero menyeramkan." Andre yang sedang sarapan di sofa pun membuka suara.
Plak
"Jangan membuatnya menangis juga."
Andra segera beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mendekati box bayi lalu mengambil baby Zira agar bisa menenangkan bayi itu.
"Sudah berani menggendong cucu Ayah?" tanya Ketua saat ia melihat Andra menggendong baby Ziva dengan sangat hati-hati.
"Apa Mas Andra dulunya takut menggendong Zero, Ayah?" tanya Arra dengan penasaran.
Ketua terkekeh seraya mengangguk pelan. "Jangankan menggendong, saat Zero lahir saja dia pingsan."
"Ayah! Jangan ceritakan itu!" Andra merasa sangat malu jika mengingat kembali kejadian beberapa tahun yang lalu.
Arra yang saat itu sedang sarapan pagi pun tertawa mendengar cerita Ketua. "Mas Andra kan panik kalau melihat darah."
"Loh? Memangnya Nak Andra takut darah?" Ibu Rina pun membuka suara karena tertarik dengan topik pagi ini.
Andra terkekeh canggung. "Bukan takut, hanya saja menjijikkan."
"Untung saja Kak Andra kemarin nggak pingsan lagi" celetuk Andre yang mengundang gelak tawa semua orang.
"Kalau pingsan, jangan membuat anak lagi. Begitu saja masa pingsan" ejek Ketua yang membuat Andra mendengus kesal.
*****
Hari ini Andra tidak pergi ke kantor karena ia masih mau menemani istri dan anaknya yang juga belum keluar dari rumah sakit.
Alhasil, Leo lah yang harus meng-handle semuanya. Dari memeriksa berkas, menemui klien, sampai pergi ke luar kota untuk urusan bisnis. Ah, pria itu seharusnya cepat menikah saja agar tidak dibebankan semua tugas Presdir.
"Halo selamat pagi, Pak. Saya baru saja sampai di bandara" ucap Leo mengabari kepada Andra melalui panggilan suara.
"Selamat bekerja, O."
"Apa Arra mau menitipkan sesuatu?"
Ah, apakah Leo lupa bahwa alasan Arra mengidam sudah keluar dan tidur nyenyak di box bayi?
"Sebentar. Sayang, mau titip sesuatu dengan Leo? Leo sedang berada di kota A."
Pertanyaan Andra membuat Arra mengerutkan keningnya heran. "Mas, Arra kan sudah nggak mengidam.."
"Oh iya! Dasar Leo bodoh."
*
*
*
__ADS_1