Cewek ABG & Duda Keren

Cewek ABG & Duda Keren
S2 : Fakta


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


Setelah suasana cukup tenang dan Zira pun sudah dibawa ke kamar oleh Arra. Disinilah para lelaki berada, di ruang kerja Andra karena Andra memang meminta Leo untuk menjelaskan apa yang terjadi dan mengapa Leo bisa mengenal Gerren.


Sebenarnya, Leo benar-benar tidak ingin menjelaskan semuanya karena ia rasa dirinya tidak pantas. Namun, jika menunggu Zira yang berbicara maka akan semakin lama ditambah dengan kedatangan Gerren yang mungkin saja bisa mengancam gadis itu.


"Sebelumnya aku ingin meminta maaf kepada kalian semua karena harus menutupi hal ini sejak lama. Beberapa tahun yang lalu, tepat di pesta hari kelulusan SMP, Zira hampir dilecehkan oleh seseorang—"


"Apa?!"


"****!"


"Zira di kurung di gudang sekolah yang jaraknya cukup jauh dari aula sehingga satu orang pun tidak menyadari bahwa Zira hilang. Zira dibawa lalu dipaksa untuk meminum minuman yang dicampur dengan obat kuat sehingga reaksi itu membuat Zira tanpa sadar membuka pakaiannya sendiri, namun hanya sampai kancing bajunya saja. Lelaki itu bukan hanya ingin melecehkan tetapi bertindak kasar kepada Zira, karena ini termasuk dalam pemerkosaan jadi Zira melawan sekuat tenaganya."


"Lalu, bagaimana bisa kau mengetahui semua ini padahal Zira saja tidak pernah menceritakannya pada kami?!"


"Saat itu iPad kantor benar-benar berisik dengan notifikasi e-mail yang ternyata salah satu teman Zira mengirimkan pesan bahwa Zira hilang di tengah pesta. Aku tidak berpikir panjang lalu menyusul dan mencarinya sampai aku melihat ada beberapa orang yang menjaga gudang, jadi aku langsung yakin bahwa ada yang tidak beres di gudang itu. Ketika aku sampai, Zira sudah benar-benar hampir dinodai, telat sedikit saja mungkin aku benar-benar tidak bisa menjadi Uncle yang baik.."


Leo benar-benar menyesal ketika ia tidak bisa menjaga Zira dengan baik bahkan membuat gadis itu memiliki trauma yang sangat mendalam.


"Dan ya, si brengsek Gerren yang melakukan semuanya dengan alasan karena Zira tidak membalas perasaannya. Saat itu Gerren sudah menjadi mantan kakak tingkatnya namun Zira tidak pernah berpikir bahwa ia masih tetap diganggu oleh si brengsek itu. Setelah kejadian itu, aku tidak pernah berhenti untuk mencari informasi tentang Gerren yang ternyata benar-benar tertutup sehingga aku sendiri tidak tau bahwa dia adalah anak Gladis."


"****! Aku benar-benar nggak akan memaafkan lelaki itu! Dia bahkan nggak pantas disebut lelaki!"


Bukan hanya Zero saja yang terpancing emosi, Andra pun sama terlebih pria itu berstatus sebagai ayah kandung bagi Zira namun trauma besar sang anak saja tidak ia ketahui.

__ADS_1


"Aku benar-benar tidak becus menjadi seorang ayah.. aku bahkan tidak tau apa-apa tentang anakku sendiri.."


Leo menggeleng seolah melarang Andra untuk menyalahkan dirinya sendiri. "Zira yang memaksa ku untuk merahasiakan semuanya dari keluarganya dengan alasan bahwa takut kalian akan jijik padanya karena dia hampir menjadi korban pelecehan. Aku menghargai keputusannya dan maaf karena aku juga menutupi semuanya."


"Akan ku pastikan bajingan itu mati di tanganku" ucap Zero yang benar-benar tersulut emosi mendengar cerita Leo.


Leo hanya diam ketika melihat raut wajah Andra dan Zero yang benar-benar sudah emosi mendengar ceritanya. Sebenarnya, Leo sangat merasa bersalah karena sudah menyembunyikan semua ini, namun ia tak punya pilihan lain selain menghargai keputusan Zira.


*****


Arra mengelus pucuk kepala sang anak ketika melihat Zira yang sudah tertidur nyenyak. Perlahan, ia berjalan sedikit menjauh dan menutupi pintu kamar anaknya dengan pelan.


"Mas? Sudah selesai?" tanya Arra ketika ia berpapasan dengan sang suami.


Andra mengangguk pelan tanpa ingin membuka usaha sehingga membuat Arra yakin bahwa memang pembicaraan mereka sangat serius, terlebih melihat raut wajah Andra yang masih tersulut emosi.


Kamar Utama


"Mas" panggil Arra pelan ketika ia sudah duduk disebelah sang suami.


Andra diam namun tatapannya benar-benar rapuh membuat Arra segera merentangkan tangannya. Benar saja, Andra langsung memeluk tubuh istrinya dan terdengar isak tangis yang sejak tadi ia tahan.


Arra perlahan mengelus punggung sang suami yang sejak tadi bergetar akibat tangisan yang tak bisa ia tahan lagi. Andra memang sangat sensitif jika menyangkut tentang penyakit terlebih ketika ia tau bahwa anaknya juga memiliki penyakit yang sama terhadap sang istri.


Cukup lama Andra mengeluarkan semua perasaan yang sejak tadi ia tahan sehingga akhirnya ia mulai lega dan menceritakan semuanya kepada sang istri. Andra tidak mau menutupinya dari Arra karena istrinya wajib tau hal yang menyangkut sang anak.


"Mas.." Arra tidak sanggup mengatakan apa-apa. Ia benar-benar menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada Zira. Bagaimana bisa ia tidak tau apapun tentang trauma sang anak?


"Sayang.. jangan menyalahkan diri.. Mas juga sejak tadi benar-benar menyalahkan diri Mas karena nggak becus mengurus gadis kecil kita. Namun, Leo sudah beberapa kali mengingatkan bahwa semuanya memang karena kemauan Zira yang nggak mau membebankan kita.."


"Tapi, Mas, harusnya Arra yang selalu di rumah bisa mengetahuinya, tapi Arra benar-benar nggak tau apapun.."

__ADS_1


Andra hanya bisa memeluk sang istri dan saling berusaha menguatkan ketika Arra juga kembali menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi.


"Besok kita bicarakan baik-baik dengan gadis kecil kita, ya? Mas yakin bahwa Zira banyak memikirkan segala hal termasuk hubungannya dengan Gibran."


*****


Ngomong-ngomong soal Gibran, setelah Zira merasa sedikit tenang dan dengan sangat sadar mengusirnya untuk pulang, lelaki itu pergi ke rumah Gladis yang ia yakini bahwa Gerren juga ada disana.


Brak


Lelaki itu benar-benar sudah tersulut emosi dan dengan tidak sopan membuka pintu rumah membuat Gladis dan Gerren yang sedang duduk santai pun terkejut.


"Gibran! Apa yang kau lakukan?! Benar-benar anak tidak sopan!" teriak Gladis ketika melihat anak lelakinya menatapnya dengan tajam.


"Jelaskan! Jelaskan apa yang terjadi dan mengapa Zira sangat takut melihat Kak Gerren!"


Gerren yang mendengar namanya disebut pun berdiri seraya tertawa kecil. "Hei, duduk dulu" ucapnya lalu mengajak Gibran untuk duduk.


"Aku nggak punya waktu untuk main-main, Kak!"


"Zira Leorra Dirgantara, tak ku sangka bahwa gadis yang pernah menolak cinta ku malah menjadi kekasih adikku sendiri" ucap Gerren tertawa.


"Aku ini Gerren Alesandro! Bagaimana bisa gadis kurang ajar itu berani menolak ku? Kekasih mu ku berikan sedikit pelajaran agar tidak berani macam-macam denganku."


Bugh


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2