Cewek ABG & Duda Keren

Cewek ABG & Duda Keren
S2 : Kabar


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


Sejak mendengar bahwa topik Gibran Agaskara saat ini cukup sensitif untuk Zira, ketiga sahabatnya tidak berhenti meminta maaf kepada gadis itu karena memang mereka tidak mengetahui apapun.


"Hei, jangan begitu. Kalian kan memang nggak tau jadi wajar aja" ucap Zira seraya tersenyum tipis.


Memang, baik Intan, Maudy, dan Yesika pun belum tau masalah ini. Setelah pihak sekolah memberitahukan bahwa Zira pingsan dan akan dipulangkan, ketiganya rela bolos demi menjaga Zira sehingga akhirnya Arra memberikan sedikit pengertian bahwa hubungan Zira dan Gibran sedang tidak baik-baik saja sehingga topik tentang Gibran cukup sensitif. Dan untung saja ketiga sahabat Zira sepertinya mengerti sehingga tidak ingin bertanya lebih lanjut lagi tentang hal itu.


"Aku sungguh minta maaf karena mulutku yang nggak bisa diam ini. Maafkan aku, Zir" lirih Intan dengan raut wajah yang sangat amat menyesal.


Semua orang pasti sangat paham dengan apa yang terjadi, terlebih ketika Arra yang bahkan turun tangan untuk menjelaskan bahwa hubungan Zira dan Gibran sedang tidak baik-baik saja. Ketiga sahabat Zira pun paham bahwa pastinya ada sesuatu yang serius tentang hal itu.


"Dari pada kalian meminta maaf terus, bagaimana kalau kita jalan-jalan aja sore ini?" usul Zira mengajak ketiga sahabatnya.


"Mau jalan-jalan kemana? Kau itu baru saja sembuh!"


"Hanya pergi ke mall atau cafe saja, aku perlu sedikit udara segar."


Akhirnya, keempat perempuan itu pergi jalan-jalan setelah meminta izin kepada Arra dan diantar oleh supir pribadi Zira.


*****


Seolah takdir benar-benar sedang bermain-main padanya, Zira kembali dipertemukan dengan Gibran di sebuah cafe. Untuk pertama kalinya setelah kejadian itu, Zira baru saja melihat Gibran lagi karena selama di sekolah, keduanya seolah sama-sama sedang saling menghindar.


"Zir? Kenapa berhenti?" tanya Maudy ketika melihat sahabatnya yang berhenti berjalan.


"Ah, maaf. Aku ingin ke toilet sebentar, bisakah aku meminta tolong untuk memesan minuman ku? Caramel macchiato seperti biasa."


Tanpa menunggu jawaban dari teman-temannya, Zira segera pergi menuju pintu belakang dengan tergesa-gesa, entah karena memang memerlukan toilet atau hanya untuk menghindar dari Gibran.

__ADS_1


"Ada Kak Gibran" bisik Yesika yang baru saja mengerti dengan keadaan setelah melihat Gibran yang duduk di meja pojok persis di dekat jendela, tempat favorit Zira ketika sedang bersantai di cafe mana pun.


Zira terdiam menatap dirinya di cermin, entah kenapa rasanya sungguh sakit ketika ia kembali dipertemukan dengan Gibran walaupun secara tidak sengaja. Air mata mulai menetes mengalir membasahi wajah cantiknya.


"Kenapa harus bertemu lagi..? Aku sudah cukup terbiasa dengan kehilangan yang sekarang.."


Zira berbohong. Semua yang dikatakannya hanya bohong. Sejak kapan ia terbiasa tanpa Gibran? Sejak kapan ia terbiasa melepaskan Gibran? Zira tidak pernah merasakan itu, ia hanya berpura-pura kuat. Zira hanya berpura-pura tanpa sadar jika dengan terus berpura-pura, mana bisa ia menyembuhkan luka hatinya.


*****


Satu bulan sudah berlalu dan hubungan keduanya masih tetap sama. Entah sudah putus atau masih mempunyai hubungan, keduanya pun tidak tau akan hal itu. Yang mereka ketahui sekarang hanyalah ditinggalkan dan meninggalkan tanpa salam perpisahan.


Jujur saja, untuk umur mereka yang masih muda, sakit hati yang dirasakan sudah sangat cukup menyakitkan. Disaat teman sebaya masih merasakan cinta yang menggebu-gebu, keduanya sudah merasakan sakit hati dan belajar melepaskan satu sama lain dengan perpisahan yang tidak pernah direncanakan oleh keduanya.


Perlahan-lahan, Gibran mulai bisa terbiasa dengan semuanya. Lelaki itu kembali hidup sendiri tanpa siapapun, tanpa Gladis, tanpa keluarga lainnya, bahkan tanpa sang kekasih. Gibran harus tetap hidup dan memperlihatkan kepada semua orang bahwa dirinya baik-baik saja walaupun jauh di dalam lubuk hatinya, ia sungguh merindukan Zira.


"Memangnya masih bisa diperbaiki?" tanya Gibran seraya terkekeh pelan.


Saat ini, ia sedang mengobrol bersama Diego, salah satu sahabat yang ia percaya untuk menceritakan semuanya, kecuali masalah kesehatannya.


"Zira lebih sakit daripada aku. Trauma berat yang dirasakannya itu disebabkan oleh lelaki yang mempunyai hubungan darah denganku."


"Aku tau, tapi apakah ketika saudara kandung mu melakukan kejahatan maka kau yang harus dipenjara hanya karena hubungan darah?"


"Gib, jangan berpura-pura untuk sembuh. Kejar ketika masih ada kesempatan dan jangan biarkan dirimu hidup dalam rasa penyesalan."


*****


+62 821 4xxx xxxx


Maaf, apa aku masih bisa menghubungi mu? Ku rasa kita memang perlu berbicara tentang hal yang belum sempat dibicarakan berdua. Tolong kabari aku jika aku masih punya kesempatan.-Gibran.


Zira mengerutkan keningnya ketika membaca notifikasi pesan dari nomor baru yang sangat ia hafal.


"Setelah satu bulan lebih dan kau baru menghubungi ku?" lirih Zira pelan.

__ADS_1


Tanpa membalas pesan itu, Zira meletakkan ponselnya di atas meja dan kembali melanjutkan kegiatannya yaitu menonton drama.


Sebenarnya, Zira bukannya ingin bersikap cuek dan acuh kepada Gibran. Namun entah kenapa rasanya ia masih belum siap untuk bertemu dan membicarakan semuanya. Zira takut jika ketika ia berhadapan dengan Gibran maka ia semakin tidak bisa merelakan lelaki itu.


"Tolong tunggu aku, tunggu aku sampai aku siap untuk berhadapan lagi denganmu, Kak.."


*****


Dalam ruangan itu, terdengar suara tangisan dan rintihan hati yang begitu menyakitkan. Zira menangis, meraung-raung dan berteriak memanggil nama seseorang sesaat ketika ia mendapatkan kabar bahwa lelaki yang mengisi hari-harinya sudah pergi jauh meninggalkannya.


Apa yang terjadi? Mengapa semuanya begitu cepat berlalu? Zira baru saja mendapatkan pesan dari lelaki itu, namun mengapa ia dikabarkan bahwa lelaki itu pergi meninggalkannya untuk selamanya? Apa yang sedang semesta rencanakan sekarang? Mengapa seolah-olah ingin kembali melihat Zira menderita? Apa takdir sedang tertawa disana ketika melihat gadis itu terluka dan menderita?


"Zira.."


Mengapa semesta tidak pernah mengharapkan kebahagiaannya?


"Zira sayang.."


Apa akan menjadi kesalahan yang sangat besar ketika Zira merasakan bahagia sedikit saja?


"Sayang.."


Menga—


Deg.


Zira terbangun dari mimpi buruknya.


Ternyata hanya mimpi.-Zira


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2