Cewek ABG & Duda Keren

Cewek ABG & Duda Keren
S2 : Siapa?


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


Sore ini, Zira benar-benar menjemput Gibran dengan menggunakan motor balap miliknya. Sebelumnya, ia tak pernah lagi mengendarai motornya karena dipergoki sedang balap liar oleh Zero saat itu. Namun sekarang, Zira kembali diizinkan mengendarai motornya hanya pada beberapa waktu saja.


"Astaga, aku hampir lupa kalau pacarku dulunya pembalap liar" ucap Gibran ketika melihat Zira yang datang dengan motor kesayangannya.


Zira tertawa. "Hei, aku itu ratu balap tau! Masa Kak Gibran lupa padahal aku itu sangat terkenal karena hampir setiap malam masuk base" ucap gadis itu disela-sela gelak tawanya.


Gibran menanggapi ucapan Zira dengan tertawa karena ia sendiri pun sudah tau jika Zira dulunya memang sering balap liar sampai entah kenapa tiba-tiba ia berhenti begitu saja.


"Oh ya? Lalu gimana ceritanya si ratu balap bisa tobat?"


"Ih, jahat banget bahasanya" ucap Zira mengerucutkan bibirnya.


Gibran terkekeh pelan. "Maaf, Love."


Sepertinya ini pertama kali Gibran bertanya tentang kebiasannya yang dulu sehingga membuat Zira cukup excited untuk bercerita. Zira ini tipikal gadis yang jika diajak untuk berbicara maka dia akan menghabiskan semua ceritanya dengan orang itu.


"Aku selalu membuat orang rumah cemas. Pernah diam-diam pergi dan dijemput paksa oleh Abang disaat Mami masuk rumah sakit. Pernah juga dijemput paksa oleh Uncle Leo karena aku nggak pulang ke rumah. Bahkan, Papi aja udah lepas tangan dulunya." Zira terkekeh pelan mengingat kenakalan yang pernah ia lakukan.


"Aku dinasehati dengan cukup keras oleh Uncle Leo waktu itu, katanya aku nggak punya pemikiran padahal kan bisa balapan di tempat yang legal tapi aku malah pergi ke tempat yang sangat berbahaya. Dulu juga Uncle Tua itu mengancam akan memindah sekolah ku, aku kan nggak mau jauh dari Mami."


Gibran tertawa mendengar cerita Zira ditambah dengan gadis itu yang tak bisa menahan ekspresi ketika bercerita membuatnya benar-benar gemas saja.


"Terus gimana sampai akhirnya kamu benar-benar nggak pernah nyentuh area balap lagi?"


"Aku ribut besar dengan Uncle Leo, ya aku marah karena bilang aku nggak punya pemikiran jadi aku balas aja dengan bilang kalau Uncle Leo sangat jahat dan nggak punya perasaan, pantas aja nggak dapat jodoh sampai sekarang. Dan akhirnya Uncle Leo benar-benar memusuhi ku sampai akhirnya aku pergi ke apartemennya dan menangis karena nggak bisa dimusuhi" ucap Zira tertawa.


Zira benar-benar teetawa ktika mengingat kejadian dimana dirinya malam-malam meminta supir untuk mengantarkannya pergi ke apartemen Leo hanya untuk menangis dan meminta maaf. Entahlah, gadis itu tak habis pikir juga mengapa rasanya bermusuhan dengan Leo benar-benar membuatnya tidak enak.

__ADS_1


"Hati-hati loh, katanya kalau terlalu benci maka jadi cinta."


Plak.


"Hei, Kak Gibran mau aku berjodoh dengan Uncle Tua itu?! Lihat aja wajahnya yang nggak pernah senyum!"


Tanpa mereka ketahui bahwa di suatu tempat lain seorang pria yang baru saja ingin minum tiba-tiba tersedak.


"****, siapa yang membicarakan ku?!"


*****


Malam itu seperti biasa keluarga Dirgantara sedang makan bersama karena memang ini rutinitas yang harus selalu mereka lakukan jika bersama. Baik Zero maupun Zira pun sejak kecil sudah diajarkan untuk menghargai kebersamaan, jadi sebisa mungkin untuk kembali ke rumah sebelum jam makan malam.


Suasana malam ini tidak ada yang spesial, topik pembicaraan pun biasa-biasa saja seperti Andra dan Leo yang sesekali membicarakan tentang bisnis, atau pertanyaan yang dilontarkan kepada Zero yang sedang menikmati pendidikan di luar negeri, dan mungkin beberapa pertanyaan untuk Gibran yang sebentar lagi akan lulus sekolah.


Brak


Semua orang benar-benar terkejut mendengar pintu utama yang seolah dibuka dengan cukup keras oleh seseorang.


"Ibu?!"


"Hei, sepertinya aku tidak terlambat. Bagaimana kabar semuanya?" tanya Gladis dengan senyumnya yang seolah-olah tidak sadar bahwa dirinya benar-benar tidak sopan.


Leo bergerak maju. "Apa yang anda lakukan?!"


"Santai saja Leo, aku hanya ingin menyapa semua orang apalagi sebentar lagi sepertinya kita akan menjadi keluarga" ucap Gladis tersenyum tipis seraya menatap kearah Gibran dan Zira.


"Bu, jangan seperti ini.."


"Hei, kau tidak mau Ibu mu menyapa keluarga kekasihmu? Ah iya, aku membawa hadiah spesial untuk Zira."


Ucapan Gladis membuat semua orang menatapnya dengan tatapan heran, bahkan Zira sekalipun bingung dengan maksud ucapan Ibu dari kekasihnya tersebut.


Klek

__ADS_1


Pintu utama terbuka dan masuklah seorang lelaki yang umurnya tak jauh berbeda dari Gibran.


"Hi Zira, long time no see" ucap lelaki tersebut tersenyum tipis seraya melambaikan tangannya kepada Zira. (Hai Zira, lama tidak bertemu.)


Deg.


Setelah melihat siapa lelaki itu, Zira refleks mundur menjauh dan menunduk seraya meremas dress nya.


"Loh, Kak Gerren kenal Zira?"


Deg.


Kak?!-Zira.


Lagi-lagi Zira terkejut, terlebih ketika Gibran memanggil lelaki itu dengan sebutan Kak.


"Semuanya, perkenalkan ini anak tertua ku Gerren yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri" ucap Gladis memperkenalkan lelaki itu.


Zira benar-benar tidak tau harus berbuat apa, terlebih ketika ia melihat sosok itu kembali lagi bahkan parahnya satu fakta yang baru saja ia ketahui adalah bahwa lelaki itu merupakan kakak kandung dari kekasihnya.


"Zira, kau tidak ingin menyapa ku?"


Zira tersentak ketika Gerren mengajaknya berbicara. Tiba-tiba penyakitnya kambuh dan dengan segera ia menutup telinganya dengan tangan lalu berteriak dengan sangat keras.


Zira memang memiliki penyakit gangguan kecemasan seperti Arra sehingga ketika trauma nya kembali, maka Zira akan memberontak untuk menyakiti dirinya sendiri.


Semua orang yang melihatnya pun segera berlari menghampiri Zira terutama Gibran yang tak jauh dari gadis itu. Gibran segera membantu menenangkan Zira ditemani oleh Arra dan lainnya, sedangkan Leo segera maju menghadapi Gladis.


"Kau! Bagaimana bisa kau dengan tidak tau malunya muncul di hadapan Zira lagi?!"


Semua orang benar-benar terkejut mendengar ucapan Leo. "Apa yang terjadi?" tanya Andra yang masih penasaran dengan kejadian di rumahnya malam ini.


Leo menatap Gerren dengan penuh emosi. "Sebelum kau berani menampakkan diri mu, harusnya kau meminta maaf dengan tulus! Apa kau bisa disebut lelaki jika perbuatan mu benar-benar menjijikkan?! Pergi dan jangan pernah memunculkan wajah mu di hadapan Zira lagi!"


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2