
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Sore itu, Arra yang baru saja pulang berkunjung dari rumah Ketua pun dikejutkan dengan kedatangan anak lelakinya yang diketahui sedang melanjutkan pendidikan di luar negeri.
"Hei, ada apa?! tanya Arra sedikit panik karena ia sendiri tidak tau bahwa anak lelakinya akan kembali ke Indonesia.
Zero tersenyum tipis seraya merentangkan tangannya. "Mami nggak kangen Zero?"
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Arra sesaat setelah ia memeluk tubuh kekar sang anak.
Zero diam dengan mata tertutup seolah hendak menikmati pelukan hangat dari sang Mami yang tak selalu bisa ia dapatkan, terlebih ketika jarak yang menghalangi mereka.
"Sayang, ada apa? Tolong jangan buat Mami khawatir" ucap Arra pelan karena tidak mendapat jawaban atas pertanyaannya.
Zero terkekeh pelan. Ia selalu rindu semua tentang Mami nya, ia rindu ocehan Arra, ia rindu pelukan hangat Arra, ia rindu wajah panik Arra. Ah, Zero bersumpah tidak akan menikah jika tidak mendapatkan istri seperti Mami nya itu.
"Zero itu kangen Mami, Papi, dan Zira. Memangnya salah ya kalau Zero pulang ke rumah? Apa sekarang Zero sudah dikeluarkan dari kartu keluarga? Wah jahat sekali keluarga Dirgantara ini" ucap Zero yang membuat Arra semakin panik dibuatnya.
"Hei, bukan seperti itu. Anak Mami nggak akan pernah dikeluarkan dari kartu keluarga kecuali akan membuat kartu keluarga tersendiri. Sayang, jangan berpikir seperti itu."
Plak
Belum sempat Zero menjawab ucapan Arra, pukulan cukup keras mendarat di punggungnya.
"Abang, jangan membuat Mami panik seperti itu" gerutu Zira dengan wajah kesalnya.
"Hahaha Zero hanya bercanda. Ada beberapa urusan yang perlu Zero urus sekaligus berlibur beberapa hari sebelum menghadapi minggu-minggu yang sangat melelahkan."
"Lalu, kenapa nggak kasih kabar? Mami bisa menjemput Zero di bandara" ucap Arra seraya kembali menatap sang anak.
Zero menggeleng pelan. "Mami cantik cukup tunggu di rumah aja."
"Apa Papi juga nggak tau?"
__ADS_1
Zero kembali menggeleng pelan. "Zero benar-benar belum memberitahukan siapa-siapa."
Arra hanya mengangguk pelan walaupun jauh di dalam lubuk hatinya, ia menaruh sedikit curiga akan kepulangan Zero yang tiba-tiba.
*****
Plak
Semua orang benar-benar terkejut ketika melihat seorang Zira menampar wajah Gibran di hadapan semua orang yang sedang berada di kantin.
"Bodoh! Kenapa nggak bilang ke aku?! Kita bisa dari solusinya sama-sama, Kak!"
Seolah tau kemana arah ucapan Zira, Gibran pun segera berusaha untuk menghentikannya. "Zira, jangan disini. Kita berbicara di tempat lain" ucap Gibran seraya memegang tangan mungil yang tiba-tiba menepisnya secara kasar.
Detik berikutnya, Gibran merasakan tubuh mungil Zira menabrak tubuhnya dan memeluknya dengan sangat erat di depan umum.
Zira tidak peduli apa tanggapan orang-orang ketika melihat dirinya yang menampar wajah Gibran lalu memeluk lelaki tersebut di kantin sekolah. Zira pun tidak peduli jika setelah ini, ia kembali masuk ke base sekolah bersama dengan nama Gibran. Yang ia pedulikan sekarang adalah rasa marah yang ada dalam dirinya ketika mendengar kabar bahwa Gibran juga korban di hubungan mereka yang terpaksa selesai.
Flashback on
Erfan, Diego, dan Marvin benar-benar penasaran dengan hubungan Gibran dan Zira, terlebih ketika Zero yang mereka ketahui sebagai kakak kandung Zira pun sampai harus mendatangi Gibran untuk berbicara empat mata.
Diego pun sama terkejutnya dengan Zero bahkan ia lebih terkejut ketika mendengar sahabatnya itu sudah menyukai Zira sejak dulu. Siapa yang akan mengira hal itu bisa terjadi? Gibran tak pernah sekalipun menunjukkan rasa kagumnya pada Zira selama ini.
Karena merasa permasalahan ini bisa terus berlanjut dan mungkin saja akan menimbulkan kesalahpahaman yang lebih besar, akhirnya Diego memberanikan diri untuk ikut campur dalam masalah Gibran dengan mengirimkan rekaman tersebut kepada Zira.
Zira Dirgantara
Diego mengirimkan video.
Zira, maaf tapi aku rasa kau harus tau ini karena aku takut kesalahpahaman diantara kalian semakin berlanjut. Maaf juga jika aku terlalu ikut campur. Terima kasih.-Diego.
Untung saja Diego cukup akrab dengan kedua sahabat Zira yaitu Yesika dan Maudy yang juga adalah anggota OSIS sehingga tak butuh waktu lama untuk Diego bisa mendapatkan nomor ponsel Zira.
Flashback off.
"Kak Gibran benar-benar bodoh.. kenapa harus terluka sendiri seperti ini..? Kak Gibran bisa berbagi denganku.."
Zira menangis, ia benar-benar sakit ketika mengetahui bahwa selama ini Gibran juga sama terlukanya. Dan bodohnya, Zira benar-benar baru mengetahui hal itu.
__ADS_1
Gibran tidak tau harus merespon apa, namun tangannya refleks terangkat untuk mengelus pelan punggung Zira seraya membalas pelukan gadis itu.
"K-kenapa Kak Gibran menutupi semuanya dariku..? Apa Kak Gibran benar-benar mau pergi? Meninggalkanku sendirian? Kak Gibran nggak cinta ya sama aku? Kenapa? Karena aku jelek? Karena aku kecil? Karena aku pendek? Karena aku manja? Karena aku selalu menyusahkan Kak Gibran? Kar—"
"By, aku jawabnya gimana kalau dikasih pertanyaan terus?" tanya Gibran seraya terkekeh pelan.
Zira terdiam ketika Gibran kembali memanggilnya dengan panggilan kesayangannya. "Kak Gibran jelek! Jelek banget bikin aku nangis!"
Gibran hanya tertawa kecil kemudian kembali mengeratkan pelukannya ketika merasakan bahwa Zira semakin menabrak dasar bidangnya seolah ingin menghilang karena malu.
*****
"Udah nangisnya?" tanya Gibran seraya tangannya bergerak untuk mengikat rambut Zira sedangkan gadis itu hanya diam dengan sisa air mata yang masih ada di wajahnya.
"By, aku ngomong loh masa nggak dijawab?"
"Ya Kak Gibran lihat aja sendiri!" gerutu Zira dengan wajah kesalnya.
Gibran tertawa. "Marah-marah terus si Cantik."
Zira tidak menjawab namun melayangkan tatapan mautnya kepada lelaki yang sedang tertawa itu.
"Pertanyaannya mau dijawab sekarang?" tanya Gibran seraya menatap gadisnya.
Zira hanya mengangguk dengan sangat pelan seolah ragu jika Gibran bersedia untuk menjawab semua pertanyaan yang ia lontarkan tadi.
Gibran tersenyum tipis seraya mengelus pucuk kepala Zira. "Aku bisa mengatasi semuanya sendiri, By. Maka dari itu, aku nggak mau cerita apa-apa ke kamu, biar aja kamu makin benci aku karena mungkin dengan membenci bisa bikin kamu secepat itu lupain aku."
"Tap—"
"Aku belum selesai, By."
Zira menunduk karena takut Gibran memarahinya karena memotong ucapannya. Melihat sang gadis yang menunduk, Gibran pun mengangkat dagu Zira.
"Lihat aku, sedikitpun nggak pernah berkurang rasa ku ke kamu, By. Aku takut ketika aku berhasil mengetuk hatimu, dan kau juga masuk ke kehidupan ku yang kelam. Aku takut kau belum siap menghadapi semuanya. By, aku lebih buruk dari yang kau kira.."
*
*
__ADS_1
*