Cewek ABG & Duda Keren

Cewek ABG & Duda Keren
S2 : Kedatangan Gladis


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


Hari demi hari Zira lewati tanpa berinteraksi lagi dengan sosok lelaki yang berhasil menggoyahkan hatinya. Begitu sakit rasanya ketika tidak sengaja berpapasan dengan Gibran yang memilih untuk menghindarinya atau seolah tidak menganggap keberadaannya.


Jika kalian mengira Zira itu lebay, kalian belum merasakan apa yang dirasakan oleh gadis ini. Pertama kali merasakan dekat dengan lawan jenis dan diperlakukan dengan sangat baik lalu tiba-tiba diputuskan secara sepihak. Benar-benar sakit.


Ketiga sahabat Zira pun mengetahui bahwa ada sesuatu antara dirinya dan Gibran, namun ketika mereka bertanya, Zira memilih untuk enggan menjawab.


"Hei putri tunggal Dirgantara" teriak seseorang yang membuat langkah kaki Zira dan ketiga sahabatnya terhenti.


Zira yang saat itu hendak berjalan keluar kantin pun segera membalikkan tubuhnya ketika mendengar ada orang yang memanggilnya.


"Ada apa, Kak?" tanya Zira sopan karena ia cukup mengenal lelaki yang berdiri dihadapannya ini.


"Zira, ya? Boleh berbicara berdua?" tanya lelaki itu sesaat setelah melihat name tag Zira.


"Disini aja, Kak."


Ketika melihat bahwa lelaki dihadapannya ini seolah ragu berbicara karena ada ketiga sahabatnya, Zira kembali membuka suara.


"Aman kok sama mereka" ucapnya tersenyum tipis.


Terdengar helaan nafas lega sebelum lelaki itu kembali membuka suara. "Kau mungkin pernah beberapa kali melihatku ketika ada event sekolah, sebelumnya perkenalkan aku wakil OSIS, Diego."


Zira menerima uluran tangan lelaki itu. "Zira, Kak."


"Um, sebenarnya ini sedikit konyol tapi aku rasa kau ada hubungannya dengan Gibran. Apa kalian sedang bermasalah?"


Zira sedikit terkejut ketika mendengar nama Gibran, terlebih saat pertanyaan itu keluar dari mulut Diego. Zira sendiri tidak menyangka bahwa ada orang lain yang mengetahui tentang hubungannya dengan Gibran.


"Maksudnya bagaimana ya, Kak? Nggak ada hubungan apa-apa antara aku dan Kak Gibran" ucap Zira yang berusaha setenang mungkin.


Terlihat bahwa Diego sedikit menggeleng tidak percaya ketika mendengar Zira membuka suara. "Lock screen ponsel Gibran itu foto mu dan nama kontak mu ada emoji love. Aku tau kalau kalian memiliki hubungan."


Deg.


Zira benar-benar tidak tau jika Gibran seceroboh ini, bagaimana bisa lelaki itu memperlihatkan hubungan mereka didepan teman-temannya?

__ADS_1


"Gibran sedang nggak baik-baik aja, dia semakin gila belajar dan menyibukkan diri seolah-olah ingin lari dari masalah. Kalau memang itu karena hubungan kalian, aku minta tolong pada mu untuk menyelesaikannya. Aku nggak ngerti kenapa Gibran seperti itu, karena ulahnya berimbas pada anak OSIS lain."


Sebenarnya, sebelum Diego mengatakan hal itu pun Zira sudah mengetahui hal itu dari Yesika dan Maudy karena mereka juga termasuk anak OSIS.


Pernah satu ketika mereka bercerita bahwa Gibran benar-benar seperti orang yang menakutkan karena selalu marah-marah setiap ada rapat yang berakhir dengan telatnya anak OSIS pulang.


"Kak Diego, sebelumnya aku minta maaf kalau mungkin aku penyebab berubahnya sifat Kak Gibran, tapi aku dan Kak Gibran sudah menyelesaikan semuanya dan menurutku sudah nggak ada lagi yang perlu dibahas. Maaf dan permisi, Kak."


*****


"****!"


Leo benar-benar terkejut ketika ia baru mengetahui fakta bahwa Gibran adalah anak kandung dari Gladis. Siapa yang pernah menyangka bahwa hal tersebut akan terjadi?


Andra hanya bisa memijat pelipisnya setelah menceritakan semuanya kepada sang asisten.


"Gladis memang wanita licik dan gila. Bagaimana bisa ia memanfaatkan Gibran untuk membalas dendam?!"


"Aku benar-benar tidak habis pikir dengan wanita itu, sampai sekarang masih saja menjadi pengganggu."


"Bagaimana keadaan Zira?" tanya Leo seraya menatap Andra dengan raut wajah serius.


Andra hanya bisa menghela nafas berat. Ia sendiri pun menyadari bahwa setelah kejadian itu, Zira menjadi lebih tertutup dan enggan untuk berbicara.


Tok tok tok


Tiba-tiba pintu ruangan Andra diketuk dari luar oleh seseorang.


"Masuk."


Masuklah seorang lelaki yang beberapa bulan ini sudah bekerja dengan Dirgantara Group sebagai wakil sekretaris untuk membantu pekerjaan Leo.


"Ada apa?" tanya Andra to the point.


"Maaf, Pak. Ada tamu yang memaksa masuk dan ingin bertemu Pak Andra."


"Siapa?"


"Gladis, mantan model terkenal."


Deg.


Baik Andra maupun Leo pun terkejut mendengar ucapan Daffa barusan.

__ADS_1


"Bawa masuk" ucap Leo sebelum Andra membuka suara.


"Baik, Pak." Setelah mendengar perintah itu, Daffa pun permisi keluar.


"Mengapa kau memintanya untuk masuk?" tanya Andra seraya mengerutkan keningnya heran.


"Dia pasti ingin mengatakan sesuatu berkaitan dengan hubungan Gibran dan Zira. Kalau tidak, tidak mungkin wanita menjijikkan itu berani melangkahkan kakinya ke kantor."


Klek


Pintu terbuka dan masuklah Gladis dengan gaya nya yang masih tidak berubah bahkan terlihat tidak sopan karena tidak mengetuk pintu terlebih dahulu.


Dengan langkah berani, ia berjalan dan duduk di sofa yang ada dalam ruangan Andra, membuat kedua lelaki itu menatapnya dengan tajam seolah ingin memakan wanita dihadapan mereka hidup-hidup.


"Ku kira sudah tidak punya malu untuk memperlihatkan wajah mu didepan ku" ejek Andra yang membuat Gladis terkekeh pelan.


"Zira dan Gibran.. kau memang tidak bisa mengajar anak mu dengan baik? Mudah sekali jatuh dalam perangkap ku" ucap Gladis tertawa.


"Jangan membawa keluarga ku terutama anak ku. Sejak awal, kita memang tidak ada hubungan apapun dan aku tidak pernah menjanjikan apapun denganmu. Lalu, apa yang kau sebut dengan balas dendam itu?"


"Aku sudah berkali-kali katakan bahwa jika aku saja tidak bisa mendapatkan mu, maka orang lain pun tidak bisa termasuk Arra!" teriak Gladis penuh emosi.


Plak


Leo maju untuk menampar wajah angkuh tersebut membuat Gladis menatapnya dengan tatapan tajam.


"Jangan ikut campur, sekretaris gila!"


Ucapan Gladis bukannya membuat Leo takut, malah membuat lelaki itu tersenyum mengejek. "Sebenarnya, saya itu malas sekali harus mengotori tangan saya untuk memukul anda. Tapi, dilihat-lihat bahwa sejak dulu anda itu tidak pernah berubah dan semakin tidak tau malu ya, Nona Gladis?"


"Perlu saya jelaskan beberapa kali sampai anda bisa mengerti bahwa di dunia ini, tidak selalu apa yang anda inginkan bisa anda dapatkan. Itulah gunanya memiliki otak agar bisa mengerti."


Andra yang mendengar Leo menceramahi Gladis pun hanya tersenyum menahan tawa. Sudah lama rasanya ia tidak mendengar Leo berbicara panjang lebar seperti ini.


"Lagi pula, Zira itu tidak bodoh seperti yang anda bayangkan. Coba anda pikir, kalau memang Zira benar-benar menyukai anak anda, mengapa ia tidak mencarinya bahkan mengemis-ngemis seperti anda dulu yang mengemis-ngemis cinta dari Pak Andra?!"


Gladis benar-benar kalah telak sehingga ia segera berlalu meninggalkan Andra dan Leo yang tertawa melihat kepergiannya.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2