Cewek ABG & Duda Keren

Cewek ABG & Duda Keren
Leo dan Andre


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


Leo yang saat itu sedang sibuk menyiapkan beberapa berkas yang akan ia bawa untuk dibahas bersama Andra terkejut ketika melihat notifikasi pesan dari ponselnya.


Duda Tua


Andra mengirimkan lokasi.


Tanpa ingin membalas, Leo pun segera membuka lokasi yang dikirimkan oleh Andra.


Tak butuh waktu lama untuknya segera melajukan mobil mengikuti arah lokasi yang dikirimkan padanya.


Beberapa menit kemudian, mobil pun sudah sampai di lokasi yang membuat Leo mengerutkan keningnya heran menatap taman yang cukup ramai di tengah hari seperti ini.


"Apa yang ia lakukan disini?" gumam Leo pelan.


Dengan segera, Leo keluar dari mobil tak lupa dengan memakai kacamata hitamnya karena cuaca cukup terik saat itu.


Beberapa kali ia menatap sekeliling mencari sosok Andra namun tak kunjung terlihat sehingga ia merasakan tangannya tiba-tiba disentuh oleh seseorang.


"Untel!"


Ah, ternyata itu adalah Zero.


"Hei, dimana Papi Zero?" tanya Leo lalu menggendong Zero hingga membuat bocah itu tertawa.


"Untel, jannan pakai kacamata cepelti itu, telihat cangat kelen" gerutu Zero dengan wajah kesalnya membuat Leo tertawa seketika.


"Baiklah, akan Uncle lepas" ucap Leo seraya melepaskan kacamatanya lalu memasangkannya pada Zero dan membuat bocah itu tertawa karena kacamata Leo sangat besar di wajahnya.


"Leggoo beltemu Papi. Zelo mau mam cileng lagi" ucap Zero seraya menunjukkan dimana posisi kedua orang tuanya.


Leo yang akhirnya menemukan Andra pun segera mengajak Zero untuk mendekati keduanya.


"Kau terlihat seperti sudah sangat siap untuk menikah" celetuk Andra tiba-tiba ketika melihat Leo mendekat.


"Saya tidak tertarik, Pak" jawab Leo singkat.


"Hei, bagaimana kau hidup?" tanya Andra mengerutkan keningnya heran.

__ADS_1


Leo mendengus kesal. "Dengan bernafas pun saya masih bisa hidup" ucap Leo yang membuat Andra hanya bisa menghela nafas berat.


"Hu'um, belnafas untuk hidup da menikah untuk hidup" celetuk Zero yang tiba-tiba ikut menanggapi membuat semua orang tertawa kecuali Andra.


"Pintar" ucap Leo terkekeh pelan.


"Baiklah, ini berkas yang harus Pak Andra periksa" ucap Leo seraya mengeluarkan beberapa berkas dari dalam tasnya.


Tangan Leo terhenti ketika Zero tiba-tiba menutup berkas yang hendak ia buka dengan cukup kasar.


"Zero" tegur Arra pelan.


Arra ingin menyadarkan Zero bahwa yang dilakukannya itu sangat tidak sopan.


"Ada apa, Sayang?" tanya Andra mengerutkan keningnya heran.


Zero mendengus kesal. "Papi, kita itu cedang mam. Kata Mami, kalau mam itu halus habis, Uncle uga belum beli mam. Thenapa pelikca belkas-belkas dulu?" ucap Zero dengan cadelnya hingga membuat semua orang gemas terhadapnya.


"Baiklah, biarkan Uncle Leo memesan makanannya" ucap Andra seraya terkekeh pelan.


Zero dengan bersemangat mengangkat tangannya. "Om, Zelo mau pecan cate ayam catu untuk Untel Leo, yang pedas ya" ucap Zero yang membuat si penjual sate tertawa.


"Baiklah, tunggu sebentar ya Zero."


"Katanya nggak mau jajan disana lagi" ucap Arra yang membuat Zero menoleh.


"Hu'um ikim nna enak tapi Om nna jelek" ucap Zero seraya menampilkan giginya yang rapi.


Arra hanya terkekeh pelan mendengarnya.


"Ah, baru kali ini kita membahas pekerjaan di tempat seperti ini" ucap Leo yang membuat Andra tertawa.


"Jangankan untuk membahas pekerjaan disini, memakan jajanan seperti ini saja aku tidak pernah" ucap Andra disela-sela gelak tawanya.


"Berarti masa kecil Pak Andra sangat menyedihkan."


"Heh."


*****


Malam ini saat Arra sedang membuatkan makan malam untuk keluarga kecilnya, ia dikejutkan oleh Andre yang tiba-tiba sudah ada di meja makan.


"Hei, apa yang kau lakukan?!" tanya Arra terkejut.


Andre tertawa. "Ingin memakan masakan ipar ku" jawab Andre santai.

__ADS_1


Sebenarnya, hubungan Andre dan ibu kandungnya sudah cukup membaik. Meskipun begitu, tak jarang ia selalu menginap di rumah Andra.


Saat ini Andre sedang menempuh pendidikan di salah satu universitas yang ada di kota tersebut dengan mengambil jurusan seni dan desain. Sebenarnya, sebelum mengambil itu, ia hampir tidak jadi berkuliah karena Nyonya Besar memintanya untuk mengambil jurusan bisnis agar bisa menjadi seperti Andra yang memegang perusahaan besar.


Andre bukannya tidak tertarik dengan bisnis namun ia tidak mau jika masa depannya harus dipersiapkan oleh orang lain seperti kakaknya.


Jika kalian ingin tau, sebenarnya Andra sejak kecil bahkan saat masih bayi sudah dipersiapkan masa depannya oleh Ketua sehingga ia tidak bisa mengutarakan keinginannya dan hanya memendamnya sampai sekarang.


"Kau tidak berkuliah?" tanya Arra seraya kembali memasak.


"Besok tidak ada kelas. Aku harus berleha-leha" ucap Andre santai.


"Ah iya, siapa sahabatmu yang seperti Hulk itu?" tanya Andre mengerutkan keningnya heran.


"Kelly? Ada apa dengannya?"


"Dia benar-benar monster."


"Apa yang terjadi?" tanya Arra seraya memindahkan masakannya ke atas meja.


"Saat di pesta kemarin, aku tidak sengaja melihatnya sedang menelepon seseorang lalu marah-marah dan kau tau apa kelanjutannya? Dia langsung melempar ponselnya ke lantai. Mengerikan."


Arra hanya tertawa karena ia sudah hafal sifat Kelly yang akan sangat ganas ketika marah.


"Jangan seperti itu, bagaimana jika kalian jodoh?"


Uhuk uhuk


Andre yang saat itu sedang meminum air putih pun tersedak mendengar ucapan Arra.


"Kau gila?! Amit-amit aku berjodoh dengan Hulk seperti itu."


Arra tertawa. "Hei, kau tidak sadar bahwa kau dan Kak Leo selalu sendiri?" tanya Arra yang membuat Andre seolah berpikir keras.


"Ra, hidup itu tidak selalu tentang pasangan. Dengan bernafas pun aku masih bisa hidup."


Arra mengerutkan keningnya. "Siapa yang mengajari mu?"


"Kak Leo."


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2