Cewek ABG & Duda Keren

Cewek ABG & Duda Keren
S2 : Pak Tua


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...


Follow Juga IG Author : @d.octrain_


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


Baik Gibran maupun Zira sama-sama canggung karena kedapatan sedang berpelukan oleh Andra yang saat itu tiba-tiba keluar rumah.


"Lanjut aja pelukannya."


Setelah mengatakan itu, Andra pun kembali masuk hingga membuat kedua remaja ini benar-benar terkejut sekaligus bingung.


"Papi iseng banget sih" gerutu Zira yang membuat Gibran tertawa.


"Oh iya, Kak Gibran jelasin sekarang apa yang terjadi."


Gibran tersenyum tipis seraya mengelus pelan pucuk kepala sang kekasih. "Aku kabur, By. Entahlah rasanya benar-benar melelahkan tinggal di tempat yang nggak pantas untuk disebut rumah."


Zira merasakan itu, emosi tertahan yang selalu Gibran sembunyikan darinya. Gibran tidak ingin jika Zira melihat sisi lemahnya sekarang, namun ia benar-benar lelah.


"Sekarang Kak Gibran tinggal dimana?"


"Rahasia" jawab Gibran terkekeh pelan.


Lelaki itu selalu bisa mencairkan suasana sehingga membuat Zira yang saat itu sedih pun menjadi kesal karenanya.


"Oh, sama pacar sendiri udah berani main rahasia-rahasiaan ya? Oke cukup tau aja sih."


"By, becanda loh."


"Nggak, aku baperan malam ini."


Gibran tertawa mendengarnya. "Kalau aku cium, makin baperan nggak?"


Plak


"Ih, aku serius tau. Sekarang aku mode serius dan jangan bercanda apalagi menggoda ku!"


Gibran hanya tertawa ketika melihat tatapan tajam Zira dengan wajah memerah karena malu dan salah tingkah.


"Kost. Aku menyewa kost untuk beberapa bulan hingga kelulusan sekolah nanti."


"Dimana?"


"Ra—"


"Jangan bilang rahasia-rahasia lagi atau ku doakan Kak Gibran malam ini tidur ditemani dengan Om Poci."


"Iya-iya, maaf. Nggak jauh dari sekolah, di sebuah gang yang cukup kecil. Aku pergi tanpa membawa barang apapun yang diberikan Ibu seperti mobil, kartu atm, laptop, dan lainnya. Semuanya ini adalah barang dengan hasil kerja keras ku sendiri."


Zira memang mengetahui bahwa Gibran memang bekerja sebagai fotografer. Lelaki itu selalu mengambil job dadakan namun selalu saja hasilnya sangat memuaskan sehingga Gibran memiliki tabungan untuk hidup.


"Aku mau hidup mandiri, By. Aku nggak mau lagi hidup dengan uang yang aku sendiri nggak tau dapatnya dari mana. Aku mau mencari pekerjaan yang halal dan menghidupi diriku sendiri."

__ADS_1


Zira mengacungkan jempol tanda setuju. "Keren, pacar aku."


"Keren apanya, By? Kamu jadi punya pacar yang miskin."


"Hei, jangan berbicara seperti itu! Ucapan adalah doa!"


"Iya-iya, maaf. Marah-marah terus kalau ketemu aku" gumam Gibran mengerucutkan bibirnya yang membuat Zira gemas sendiri.


"Dasar bayi."


*****


Arra menatap tajam suaminya ketika Andra baru saja kembali dari teras depan. Mereka memang mengetahui kedatangan Gibran yang tiba-tiba karena satpam rumah sudah menghubungi Andra untuk mengatakan hal itu, terlebih ketika melihat Gibran membawa sebuah koper besar.


"Mas, bisa nggak sih jangan iseng?! Kasih privasi buat Zira dan Nak Gibran!"


"Iya-iya, Sayang. Kan Mas hanya bercanda aja, ternyata mereka malah sedang berpelukan."


"Tuh kan, pasti mereka malu bertemu Mas Andra."


"Iya, maaf. Kenapa sih istri Mas marah-marah terus?"


Andra berjalan mendekati Arra lalu mencium pipi istrinya yang sedang duduk menonton televisi. "Apa jangan-jangan ada adik disini?"


"No!"


Baik Arra maupun Andra, benar-benar terkejut mendengar teriakan Zero dari dapur.


"Nggak ada adik ya, Papi. Tolong aja, di umur Zero yang sekarang harusnya merawat anak bukan merawat adik."


Andra pun setuju dengan pemikiran kedua anaknya. Ia tidak mau membuat istrinya menderita lagi dan ia juga tidak mau membuka luka lama Zero. Lelaki itu cukup sensitif jika berbicara tentang adik karena dulu ia melihat Arra yang begitu menderita saat hamil Zira membuat Zero benar-benar tidak bisa melupakan hal itu begitu saja.


"Papi hanya bercanda."


"Awas aja. Zero mungkin bisa menerima kalau memang itu takdir Tuhan, tapi semoga aja nggak" ucap lelaki itu seraya mendudukkan dirinya disebelah Arra.


"Malam ini jatah Papi. Kau sudah bersmaa Mami hampir seharian."


Andra menatap sang anak dengan kesal ketika ia duduk disebelah Arra dan menyenderkan kepalanya di bahu sang Mami.


"Ya terserah, Zero kan sayang Mami."


Cup.


Kecupan singkat mendarat tepat di pipi Arra membuat wanita itu tersenyum tipis lalu mengelus pucuk kepala sang anak.


Nggak akan ku biarkan dia merebut Arra. Sejak dulu, bocah ini nggak bisa berbagi.-Andra.


"Sayang.. Mas pusing" ucap Andra dengan suara yang dibuat selemah mungkin agar Arra percaya.


Arra menatap suaminya dengan tatapan penuh curiga. "Kok bisa tiba-tiba pusing?"


"Ya nggak tau lah, makanya pijitin Mas dulu."


"Papi hanya modus, Mi" bisik Zero yang masih didengar oleh Andra.

__ADS_1


"Kau ini, menikah sana agar bisa bermanja dengan istri mu!" gerutu Andra dengan raut wajah kesalnya.


"Belum ketemu yang seperti Mami."


"Nggak ada yang seperti Mami! Mami itu hanya satu di dunia."


"Ya sudah, Zero nggak menikah."


"Heh!"


"Sayang.."


Cup.


"Zero hanya bercanda, Mi."


Andra benar-benar emosi ketika melihat Zero yang semakin hari semakin lengket pada istrinya. Hari ini, dirinya bahkan belum mendapatkan ciuman tapi Zero sudah dielus saja rambutnya.


Karena kesal, Andra pun ikut menempel kepada Arra hingga membuat wanita itu merasa cukup sesak. "Mas, geser sedikit!"


"Nggak mau" ucap Andra yang masih kekeh memeluk sang istri.


"Dih cemburu kok sama anak sendiri, nggak malu apa dilihat Nenek Leli?!"


"Harusnya Papi yang bertanya pada mu, apa nggak malu sudah tua kok masih manja dengan Mami?"


"Kalau Zero tua, maka Papi lebih tua!"


Oke Andra, lebih baik mengalah saja.


*****


Perdebatan keduanya benar-benar tidak bisa diselesaikan dan bahkan mengganggu Arra yang sedang menonton televisi.


"Mas, nggak boleh seperti itu dengan anak sendiri" tegur Arra ketika Andra yang masih tidak mau mengalah.


"Mas aja yang terus disalahkan, bocah itu sangat manja."


"Zero hanya melepas rindu, Mas. Bukankah sekarang ia sudah tinggal di tempat yang jauh dari kita?" Arra lagi-lagi memberi pengertian kepada suaminya.


"Nggak, sebelum berkuliah di luar aja dia juga manja" ucap Andra tidak mau mengalah.


"Itu karena Zero nggak mau kehilangan Mami" jawab Zero seraya menjulurkan lidahnya ke arah Andra.


"Ya, Papi juga begitu."


"Begitu apa? Sejak tadi Papi mengikuti ucapan Zero. Apa nggak ada kalimat lain? Nggak kreatif sekali Pak Tua ini."


Andra hanya hisa mengelus dadanya seraya mengucapkan kata sabar berkali-kali. Ingin sekali membalas ucapan Zero, namun yang dikatakan sang anak memang benar adanya bahwa dirinya sudah tua.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2