
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Siang itu, pasangan pengantin baru susah kembali ke rumah mereka setelah berpamitan pada yang lainnya.
"Mas, apa Arra bisa minta tolong?" tanya Arra pelan saat mereka sedang dalam perjalanan.
Andra yang saat itu sedang fokus menyetir pun menoleh sebentar menatap sang istrinya. "Ada apa, Sayang?" tanya Andra pelan.
"Bisakah berhenti di taman depan? Arra ingin membeli sate ayam" ucap Arra yang membuat Andra tertawa seketika.
"Yakin hanya membeli sate?" tanya Andra disela-sela gelak tawanya.
Andra tau bahwa Arra akan membeli hampir semua makanan yang dijual di taman karena gadisnya memang sangat suka makanan-makanan di pinggir jalan milik pedagang kaki lima seperti ini dari pada makanan mewah di restoran.
"Dalam perjalanan hanya ingin membeli sate, tapi sepertinya jika sampai sana akan membeli jajanan yang lain" ucap Arra tertawa.
"Cileng! Zelo mau cileng."
Ah, bocah kecil yang sedang sibuk menonton di kursi belakang ternyata ikut membuka suara. Andra tidak bisa menolak lagi jika istri dan anaknya yang meminta. Sebenarnya, Andra pernah menolak memberikan izin untuk keduanya saat ingin membeli jajanan pinggir jalan. Namun, bukan Arra namanya jika tidak bisa menaklukkan duda keren itu.
"Apa itu cileng?" tanya Andra heran.
Zero yang mendengarnya pun kembali membuka suara. "Cileng, Papi. Cileng."
"Sayang, cileng apa?" Andra sengaja pura-pura tidak mengerti apa yang diucapkan anaknya agar Zero mengamuk.
Dan, benar saja. Anaknya seketika mengamuk. "CILENG! BAGAIMANA BICA PAPI DA TAU CILENG?!" ketus Zero dengan kesalnya membuat baik Andra maupun Arra tertawa seketika.
"Mas, jangan suka jahil ah" tegur Arra yang membuat sang suami terkekeh pelan.
"Habisnya, dia suka bikin Mas naik darah, jadi kan Mas harus balas dendam."
"Astaga."
*****
Mobil Andra baru saja sampai di taman yang cukup ramai pengunjung walaupun masih siang karena ada banyak sekali jajanan hingga makanan berat yang dijual disekitar taman.
Zero yang saat itu sedang menonton, langsung tiba-tiba keluar dari mobil tanpa menunggu kedua orang tuanya membuat Arra panik seketika.
"Zero!" teriak arra ketika melihat Zero yang berlari semakin jauh menuju tempat favoritnya yaitu penjual cireng.
__ADS_1
Arra yang saat itu sedang panik segera menyusul tanpa menunggu Andra yang sedang mengambil tas anaknya di kursi belakang.
"Zero" panggil Arra pelan.
Zero hanya terkekeh pelan lalu kembali menyebutkan pesanannya. "Zelo mau cileng dua polci" ucapnya kepada si penjual.
"Zero, Mami sedang berbicara" ucap Arra yang membuat Zero seketika terdiam.
"Duduk dulu di hadapan Mami."
Arra pun mengajak Zero untuk duduk di kursi yang sudah disediakan untuk para pembeli.
"Sekarang Mami tanya, kenapa Zero harus berlari kesini? Apa dengan berjalan kaki membuat Om nya kabur? Bagaimana jika saat Zero berlari, Zero terjatuh? Atau bagaimana jika ketika Zero keluar dari mobil tanpa Mami dan Papi, Zero diculik orang?"
Zero menunduk takut. "I am colly, Mami" ucap Zero pelan.
"Lain kali jangan seperti itu. Mami khawatir ketika melihat Zero berlari menjauh karena Mami takut Zero kenapa-kenapa. Kenapa harus berlari? Om nya mempunyai banyak stok jadi Zero pasti akan kebagian."
"Minta maaf pada Mami."
Andra yang saat itu baru sampai pun ikut membuka suara ketika mendengar Arra sedang menegur anak mereka.
"Mami, maaf Zelo. Zelo calah" ucap Zero pelan.
Arra tersenyum tipis seraya mengelus pucuk kepala bocah yang sedang menunduk. "Mami nggak marah jika Zero nggak mengulangi nya lagi."
"Hu'um, Zelo janji. Maaf, Mami."
"Ini pesanan Zero" ucap penjual cireng yang sudah mengenal bocah itu.
Zero tersenyum senang. "Maacih, Om" ucapnya dengan gemas.
"Sudah? Sekarang, ingin jajan apa lagi?" tanya Andra kepada istri dan anaknya setelah ia membayar pesanan Zero.
"Zelo mau ikim" ucap Zero meloncat kegirangan.
"Ice cream? Bagaimana jika Zero mencoba es goyang?" usul Arra yang mengingat bahwa ada yang menjual es goyang di sekitar taman.
"What it is? Apa ikim nna belgoyang?" tanya Zero mengerutkan keningnya heran.
"No, bukan ice cream nya tapi cara pembuatannya. Ayo ikut Mami."
Setelah pamit kepada penjual cireng, Arra mengajak Zero dan Andra untuk mencari stand es goyang jadul.
Tak lama kemudian, mereka pun menemukannya lalu Arra dengan segera memesan untuk suami dan anaknya.
"Mas mau rasa apa?" tanya Arra kepada sang suami.
__ADS_1
Andra mengerutkan keningnya heran terlebih ketika melihat proses pembuatan es goyang yang cukup unik menurutnya. "Samakan saja, Sayang" ucap Andra pelan.
"Om, thenapa da ikut goyang uga?" tanya Zero kepada si penjual yang membuat semua orang tertawa seketika.
"Adiknya lucu, Kak" ucap salah satu penjual yang menjaga stand membuat Zero menatapnya dengan kesal.
"No! This is my Mom" ketus Zero kesal.
Ada raut wajah terkejut dari pada penjual ketika mendengar bahwa Arra yang masih muda ternyata Mami Zero. "Saya minta maaf, Kak" ucap salah satu dari mereka yang membuat Arra hanya tersenyum tipis.
Tak lama kemudian, pesanan pun sudah selesai dengan Arra yang membayar karena tau suaminya tidak membawa uang tunai yang cukup.
"Ish Zelo da mau lagi jajan di cana. Om nna cuka cama Mami" gerutu Zero sepanjang jalan yang membuat Andra tersenyum tipis.
Dalam hatinya, Andra sedikit bersyukur dengan sifat posesif anaknya bisa membuat semua orang yang mengagumi Arra akan langsung balik kanan untuk mundur.
"Hei, kenapa anak Mami marah-marah?" tanya Arra terkekeh pelan.
"Om nna pasti cuma cama Mami. Huh, da tau ya kalau Mami cudah ada Papi" ketus Zero dengan kesalnya.
"Nggak, Sayang. Om nya nggak suka Mami, Om nya tadi salah mengira kalau Zero itu adik Mami" ucap Arra memberikan pengertian.
Zero menatap Mami nya dengan kesal. "Om nna iyat-iyat Mami telus."
Sekali lagi, Andra bersyukur diberikan anak yang pintar dan teliti karena memang benar apa yang dikatakan Zero bahwa sejak saat mereka sampai di taman saja sudah cukup banyak mata yang menatap mereka. Ah bukan, maksudnya menatap Arra.
Ponsel Andra berdering menandakan sebuah panggilan masuk.
"Ada apa, O?"
Ternyata dari Leo.
"Pak, apa Pak Andra punya waktu luang? Ada berkas yang harus diperiksa sekarang" ucap Leo diseberang sana.
"Penting?"
"Sangat. Hanya memakan waktu sekitar sepuluh hingga lima belas menit saja. Apa setelah menikah, Pak Andra tidak bisa berjauhan sedikit dari Arra?"
"Kemari lah. Aku akan mengirimkan lokasinya padamu."
"Loh? Pak Andra ada dimana?"
Panggilan pun terputus.
Bukan Andra namanya jika tidak memutuskan panggilan secara sepihak walaupun Leo belum selesai berbicara. Dan bukan Leo namanya jika tidak bisa bertahan dengan majikan yang kurang ajar itu.
*
__ADS_1
*
*