
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Arra masih tidak menyangka bahwa akan dilamar oleh Andra secepat ini terlebih saat hubungan mereka renggang, tiba-tiba Andra yang sudah lama tidak kelihatan menemuinya dan mengajaknya pergi membuat Arra masih menatap Andra sejak tadi
“Ada apa, Cantik?”. Andra menoleh menatap calon istrinya yang terdengar beberapa kali menghela nafas
Perlahan Arra kembali menghela nafas dan berbicara. “Mas, apa bisa kita berbicara berdua?” tanyanya ragu
“Ayo”
Seketika Andra berdiri dan mengulurkan tangannya kearah Arra
Mereka pun berjalan sedikit agak menjauh dari kumpulan orang-orang. Setelah sampai di bangku kosong yang ada di taman, mereka pun duduk
“Ada apa, Sayang?” tanya Andra langsung.
Sebenarnya Andra khawatir karena melihat raut wajah Arra yang sejak tadi tidak bisa disembunyikan terlebih ketika ia berkali-kali menghela nafas dan melamun membuat Andra semakin khawatir dibuatnya
“Mas, apa Arra boleh menanyakan sesuatu?”
“Tentu, Sayang. Mau tanya apa?”
“Um, kenapa tiba-tiba, Mas?”. Andra mengerutkan kening menatap heran sang kekasih
Arra yang mendengar Andra tak bersuara pun kembali mengeluarkan suara. “Iya, semuanya. Dari awal Mas yang tiba-tiba bersikap aneh, tanpa kabar berhari-hari, hingga tiba-tiba datang dengan melamar Arra. Apa sebenarnya yang Mas inginkan dengan pergi tiba-tiba dan datang lagi dengan seenaknya?”
Jujur saja, Andra sedikit terkejut mendengar ucapan Arra. “Sayang, bukan begitu maksud Mas”
“Mas, nggak masalah kok Arra kan hanya bertanya” ucap Arra terkekeh pelan
“Maaf, maaf untuk semuanya”
“Kenapa minta maaf? Apa Mas melakukan kesalahan?”
“Maaf jika sikap Mas akhir-akhir ini membuatmu berpikiran macam-macam. Maaf jika Mas hilang nggak ada kabar berhari-hari dan maaf jika Mas tiba-tiba datang dengan acara melamar mu”
__ADS_1
Arra hanya diam namun matanya tak lepas menatap mata elang milik Andra
“Itu semua Mas lakukan hanya untuk memberikan kejutan padamu. Kesibukan Mas, hilangnya Mas, nggak ada kabar Zero, semuanya itu rencana Mas untuk melamar mu. Karena menurut Mas, kau pasti akan marah dengan sikap Mas yang tiba-tiba maka dari itu saat yang tepat untuk mengikatmu dengan cincin di jari manis”
Dia bahkan belum menjelaskan tentang itu.-Arra
Setelah menjelaskan, Andra diam menatap sang kekasih yang juga masih menatapnya namun masih belum ingin mengeluarkan suara. Terdengar helaan nafas dari Arra
“Mas..”
“Ada apa, Sayang?”
“Apa salah Arra menerima lamaran dari seseorang yang ternyata sudah memiliki kekasih lain?”
Tanpa sadar, air mata mengalir di wajah Arra membuatnya seketika menunduk agar Andra tak melihat bahwa dirinya sedang menangis
“Kekasih lain? Maksudnya?”. Pertanyaan Andra membuat Arra seketika menoleh
Ia pun menghapus air matanya membuat Andra sadar bahwa kekasihnya sedang menangis. “Hei, Sayang” ucap Andra mengelus wajah Arra
“Kenapa menangis? Mas nggak ngerti maksudnya apa”
“Ah”. Arra terkekeh pelan namun dengan air mata yang kembali mengalir deras
“Sayang?”. Andra semakin bingung dibuatnya
Tatapan itu benar-benar menusuk hati Andra. “Arra nggak pernah paksa Mas untuk melamar Arra”
“Arra juga nggak punya hak dengan wanita pilihan Mas. Siapapun yang Mas pilih untuk menjadi istri Mas kelak walaupun itu bukan Arra, semuanya keputusan ada di tangan Mas Andra”
Andra semakin bingung kemana arah topik yang Arra bicarakan yang membuatnya hanya diam tanpa tau harus menjawab apa
“Namun, Arra hanya minta satu hal, jika Mas memang nggak cinta sama Arra, katakan dan putuskan hubungan dahulu sebelum memulainya dengan orang baru.”
Deg
“Arra mungkin masih SMU, tapi sakit hati nggak mengenal umur, bukan? Rasanya sakit, Mas.. Sungguh..”
Tangan Arra mulai gemetaran membuat dirinya berusaha untuk tetap tenang dihadapan Andra, namun dadanya benar-benar sesak membuat tangannya sungguh gatal untuk memukul dadanya seperti yang ia lakukan biasanya jika sudah terkena panic attack
“Ah.. maaf..” Setelah mengucapkan kata maaf, Arra tanpa sadar sudah memukul dadanya dengan keras berkali-kali
__ADS_1
“Sayang?!” Andra yang panik langsung berusaha untuk menahan tangan Arra yang sudah gemetaran hebat sehingga ia langsung merengkuh tubuh mungil itu. Tangisan semakin lama semakin terdengar bahkan Andra merasakan tubuh Arra bergetar hebat karena menangis
“Sakit.. sakit Mas.. disini..” Hati Andra benar-benar sakit mendengar lirihan sang kekasih
Pelukan itu semakin erat bahkan Arra merasakan bahwa Andra mengelus punggungnya berkali-kali. “Sayang, hei dengerin Mas.. jangan dipukul, itu akan membuat calon istri Mas semakin sakit”
“Tapi sungguh.. Arra sesak Mas”
“Sayang, pelan-pelan ya atur nafas dulu.. tolong, jangan dipukul..”
Setelah beberapa saat, akhirnya Arra kembali tenang membuat Andra lega melihatnya. Hal seperti ini memang sering dialami oleh Andra saat melihat sang kekasih tiba-tiba panik dan ingin menyakiti dirinya.
Bahkan, pernah satu kali kejadian Arra kedapatan melakukan self harm yang membuat Andra harus menjaga sang kekasih dengan ketat agar Arra tidak menyakiti dirinya lagi.
Trauma yang dirasakan oleh Arra membuatnya memiliki gangguan kecemasan yang berlebihan bahkan tanpa sadar ia berkali-kali menyakiti dirinya agar ia lega karena jika sudah merasakan panic attack, Arra tidak bisa menangis dengan keras. Ia hanya menangis dalam diam yang berakhir dengan memar di dada, rambut yang rontok, dan bekas sayatan pada jari tangannya.
Andra memang sangat ingin membantu Arra untuk sembuh dengan mengajaknya untuk kontrol ke psikolog, namun ia belum menemukan kata-kata yang cocok agar tidak membuat sang kekasih tersinggung. Hingga sekarang yang ia lakukan hanya berusaha untuk tetap ada dan menemani Arra jika kekasihnya tiba-tiba terkena panic attack.
“Sayang?” panggil Andra pelan saat mendengar isak tangis Arra semakin menghilang
“Sudah tenang?” tanyanya seraya mengangkat wajah Arra untuk menatap mata elangnya
Cup.
Ciuman pelan namun lembut itu membuat air mata Arra kembali mengalir tanpa ia sadari sehingga membuat raut wajah Andra langsung berubah khawatir
“Sayang?! Hei? Ada apa?”. Andra benar-benar panik terlebih saat ia menatap mata Arra yang juga sedang menatapnya dengan tatapan penuh arti
Arra terdiam tanpa ingin membuka suara, pikirannya jauh memikirkan apa yang hanya diketahui olehnya. Ia begitu bersyukur karena setelah hidup beberapa tahun dengan bantuan obat, setelah mengenal Andra, ia jarang lagi mengkonsumsi obat yang selalu ia minum saat kembali merasakan panik.
Dulu, saat sebelum ia bertemu Andra, ia sudah mencoba beberapa kali untuk berhenti mengkonsumsi obat yang ia takuti akan membuat dirinya semakin candu, namun saat tidak minum obat ia akan berakhir dengan menyakiti dirinya sendiri
Arra kembali menatap Andra lalu tersenyum tipis. “Mas, terima kasih”
“Sudah tenang?”. Pertanyaan yang membuat Arra sedikit menganggukkan kepalanya
Andra tersenyum tipis seraya mengelus pucuk kepala Arra dengan penuh kasih sayang. “Dia adik sepupu, Mas”
“Apa?!”
*
__ADS_1
*
*